KETIK, TUBAN – PT Pertamina EP Cepu menantang generasi muda di Tuban untuk berhenti menjadi penonton pasif di media sosial. Mahasiswa didorong mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara bijak demi mendongkrak karier dan bisnis.
Hal itu ditegaskan Kepala Communication, Relations & CID PT Pertamina EP Cepu Zona 11, Wazirul Luthfi, dalam acara Persatuan Wartawan Indonesia kabupaten Tuban atau PWI Tuhan Goes To Campus di Pondok Pesantren Mansyaul Huda 2 berkolaborasi dengan STAI Senori, Rabu 4 November 2026.
Menurut Luthfi, teknologi digital saat ini harus dimanfaatkan sebagai instrumen strategis, bukan sekadar sarana hiburan. "Dari sosial media, kita bisa belajar, membangun portofolio, networking, karier, dan bisnis, bukan hanya scroll tanpa melakukan apapun," ujar Luthfi di hadapan ratusan mahasiswa.
Terkait maraknya penggunaan AI, ia mengingatkan mahasiswa untuk tidak takut tersingkir oleh teknologi. Kuncinya adalah menempatkan AI sebagai alat bantu produktivitas.
"Bukan menggantikan peran, tetapi cukup menjadi asisten dalam membuat sebuah karya," tegasnya.
Baca Juga:
PWI Tuban Goes to Campus di STAI Senori, Kapolresta Ajak Mahasiswa Jadi Benteng Hoaks dan NarkobaDi sisi lain, Luthfi juga membeberkan tantangan ketahanan energi nasional. Meski tengah gencar transisi energi bersih, proyeksi konsumsi minyak Indonesia justru diperkirakan melonjak hingga 139 persen.
Menanggapi tantangan besar ini, PT Pertamina EP Cepu mengajak generasi muda untuk melek literasi energi dan tidak tinggal diam.
Pasalnya, peta jalan bauran energi nasional hingga tahun 2050 menunjukkan pergeseran besar. Meski persentase energi fosil terlihat menurun karena digantikan Energi Baru Terbarukan (EBT), secara nominal volume kebutuhan pasokan energi nasional justru semakin membesar.
"Dari data tersebut, kita bisa melihat bahwa secara proyeksi konsumsi, minyak naik 139 persen, dan konsumsi gas naik 298 persen," ungkap Luthfi.
Baca Juga:
SMKP Hasan Besari Bangilan Tuban Tanamkan Nilai Religius Lewat ZiarahIa memaparkan, sektor migas masih akan menjadi pilar penting. Terlebih, minyak bumi bukan hanya untuk bahan bakar minyak (BBM), tetapi juga sebagai bahan baku produk petrokimia sehari-hari.
"Setiap penggunaan kurang lebih 6.000 produk mulai dari bahan tekstil, plastik, hingga infrastruktur, sebanyak 54 persennya menggunakan produk non-BBM," jelasnya.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemahaman sektor energi dan penguasaan teknologi digital mutlak dikuasai oleh generasi muda untuk memimpin masa depan.
"kolaborasi antara pemahaman sektor energi dan penguasaan teknologi digital mutlak dikuasai oleh generasi muda untuk memimpin masa depan," tutup Luthfi. (*)