KETIK, JOMBANG – Puskesmas Blimbing, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, melakukan skrining aktif atau Active Case Finding (ACF) untuk mendeteksi kasus tuberkulosis (TBC) di tengah masyarakat, Jumat 18 September 2026.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menemukan penderita TBC lebih dini, mencegah penularan, dan memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas.

Kepala Puskesmas Blimbing, Gudo, Jombang, dr Agustinus Sumarno, mengatakan kegiatan ACF merupakan bagian dari upaya jemput bola untuk menemukan masyarakat yang diduga menderita TBC.

Menurutnya, kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang, RSUD Jombang, petugas program TBC, serta melibatkan masyarakat.

“Upaya kami untuk mendapatkan kasus-kasus TBC dilakukan secara aktif dengan melibatkan masyarakat. Mereka yang masuk kategori terduga TBC kami tindak lanjuti melalui kegiatan ACF,” ujar Agustinus.

Baca Juga:
Setelah Keracunan Muncul Ulat di Menu MBG Jombang, Politisi PDIP: Jangan Tambah Trauma Orang Tua Siswa

100 Warga Terduga TBC Jalani Pemeriksaan

Agustinus menjelaskan, dalam kegiatan skrining tersebut, Puskesmas Blimbing mengundang sekitar 100 warga yang masuk dalam kategori berisiko atau diduga mengalami TBC.

Mereka dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, di antaranya memiliki kontak erat dengan pasien TBC, pernah menjalani pengobatan TBC, serta memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus.

Selain itu, warga yang mengalami batuk berkepanjangan atau memiliki gejala klinis yang mengarah pada TBC juga menjadi sasaran pemeriksaan.

Baca Juga:
Tuntaskan PR Stunting hingga TBC di Kabupaten Kediri, Mas Dhito Dorong Pembentukan Satgas Kesehatan Tingkat Kecamatan

“Yang kami undang adalah mereka yang memiliki gejala, kontak erat dengan pasien TBC, pernah menjalani pengobatan TBC, maupun penderita diabetes melitus yang berisiko mengalami TBC,” jelasnya.

Pemeriksaan dalam kegiatan ACF tersebut dilakukan menggunakan pemeriksaan rontgen untuk mendeteksi kemungkinan adanya gangguan pada paru-paru.

Pemeriksaan TBC Bisa Dilakukan di Puskesmas

Agustinus menyampaikan, upaya penemuan kasus TBC tidak hanya dilakukan melalui kegiatan skrining massal. Puskesmas Blimbing juga secara rutin melakukan pemeriksaan terhadap warga yang mengalami gejala yang mengarah pada TBC.

Menurutnya, warga yang mengalami batuk, termasuk batuk yang belum berlangsung lama tetapi disertai gejala lain, tetap perlu mendapatkan pemeriksaan medis.

Puskesmas Blimbing juga memanfaatkan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk membantu mendeteksi bakteri penyebab TBC.

“Setiap hari kami menemukan kasus, baik dari dalam gedung maupun luar gedung. Jika ada masyarakat yang mengalami batuk dan gejala yang mengarah pada TBC, kami upayakan pemeriksaan menggunakan alat TCM,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat di Kecamatan Gudo, khususnya wilayah kerja Puskesmas Blimbing, agar tidak mengabaikan gejala batuk yang berkepanjangan.

Masyarakat yang mengalami keluhan tersebut diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

TBC Bisa Disembuhkan, Pengobatan Harus Tuntas

Agustinus menegaskan, TBC merupakan penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Namun, proses pengobatan TBC membutuhkan waktu yang cukup panjang, umumnya sekitar enam bulan, sehingga kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat menjadi hal penting.

“Kami berupaya menurunkan kasus TBC karena penyakit ini bisa diobati dengan baik dan disembuhkan. Yang terpenting, pengobatannya harus dilakukan secara tuntas,” tegasnya.

Untuk memastikan pasien disiplin menjalani pengobatan, Puskesmas Blimbing juga menjalin kerja sama dengan pemerintah desa.

Apabila ditemukan pasien TBC, pihak puskesmas akan meminta dukungan desa untuk menyediakan Pengawas Menelan Obat (PMO).

PMO bertugas membantu mengawasi dan mendampingi pasien agar rutin mengonsumsi obat sesuai jadwal hingga masa pengobatan selesai.

“Pengobatan TBC bisa berlangsung hampir enam bulan. Kalau tidak didampingi, pasien bisa merasa bosan dan akhirnya tidak teratur minum obat. Karena itu, kami membutuhkan dukungan pemerintah desa untuk membantu menyediakan PMO,” ungkapnya.

Imbauan Mencegah Penularan TBC

Lebih lanjut, Agustinus mengingatkan masyarakat agar ikut berperan dalam mencegah penyebaran TBC di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan TBC antara lain:

Menggunakan masker: Pasien TBC, terutama yang masih berpotensi menularkan penyakit, dianjurkan menggunakan masker sesuai arahan tenaga kesehatan.

Tidak membuang dahak sembarangan: Pasien TBC harus membuang dahak pada tempat yang semestinya dan menjaga kebersihan lingkungan.

Rutin menjalani pemeriksaan: Pasien TBC perlu mengikuti kontrol sesuai jadwal dan menjalani pengobatan sampai selesai.

Memeriksakan anggota keluarga: Orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC dan mengalami gejala seperti batuk berkepanjangan harus segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Kalau ada masyarakat yang mengalami batuk atau keluhan lainnya, segera periksakan diri ke Puskesmas Blimbing. Jangan menunggu sampai kondisinya semakin parah,” pungkas Agustinus.

Puskesmas Blimbing, Gudo, Jombang mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, TBC dapat disembuhkan sekaligus membantu memutus rantai penularannya di Jombang.(*)