KETIK, BATU – Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mencatat 6.432.526 kunjungan wisatawan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Jumlah ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 dan 2024.
Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah penerapan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah dan didorong strategi promosi yang lebih efektif, terutama melalui penguatan promosi digital serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
Kepala Disparta Kota Batu, Onny Ardianto, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan kebijakan efisiensi anggaran tidak menghambat pertumbuhan sektor pariwisata.
“Ini menunjukkan adaptasi terhadap kebijakan efisiensi berjalan baik melalui penguatan promosi digital, kolaborasi dengan komunitas, serta pengelolaan anggaran yang lebih efektif,” ungkapnya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Berdasarkan data Dinas Pariwisata Kota Batu, jumlah kunjungan wisatawan pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 6.432.526 orang. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 6.011.370 kunjungan dan 2024 yang mencapai 5.297.140 kunjungan.
Baca Juga:
Berdayakan Peternak, Pemkot Batu Siap Fasilitasi Susu Lokal Masuk Program MBGOnny menjelaskan, peningkatan kunjungan paling terlihat pada Mei dan Juni 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi momentum libur sekolah yang mendorong meningkatnya kunjungan wisata keluarga ke Kota Batu.
Meski demikian, data kunjungan pada Juli 2026 masih bersifat sementara karena masih dalam proses verifikasi.
Pemkot Batu, tambah dia, akan terus mengarahkan strategi promosi pariwisata melalui pendekatan digital, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan destinasi berbasis masyarakat.
“Ke depan promosi pariwisata akan terus diarahkan pada pendekatan digital, kolaborasi lintas sektor, serta pengembangan destinasi berbasis masyarakat agar pertumbuhan kunjungan tetap terjaga meski dengan anggaran yang lebih efisien,” ujarnya.
Baca Juga:
Perubahan Status Guru PPPK Paruh Waktu, Disdik Kota Batu Tunggu Kebijakan Pemerintah PusatMenurut Onny, aktivitas wisatawan yang datang ke Kota Batu turut menggerakkan perekonomian masyarakat, terutama pelaku UMKM yang bergerak di berbagai sektor pendukung pariwisata. Pergerakan tersebut mencakup usaha kuliner, oleh-oleh, kerajinan hingga jasa pariwisata.
“Dengan adanya kenaikan kunjungan wisatawan tentu berdampak terhadap perekonomian masyarakat dan pelaku UMKM. Semakin banyak wisatawan yang datang, tentu semakin besar pula aktivitas ekonomi yang terjadi di Kota Batu,” tutur Onny.
Ia menambahkan, dampak ekonomi menjadi salah satu indikator penting untuk melihat keberhasilan sektor pariwisata. Karena itu, pertumbuhan kunjungan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
“Dengan begitu, perputaran ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat Kota Batu,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengatakan peningkatan kunjungan wisatawan turut berdampak terhadap tingkat hunian hotel.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada Juni 2026 mencapai 29,40 persen. Angka tersebut naik 1,43 poin dibandingkan Mei 2026 yang berada di angka 27,97 persen.
“Kenaikan okupansi pada Juni memang logis karena bertepatan dengan libur sekolah. Biasanya mulai minggu kedua hingga ketiga Juni wisatawan keluarga mulai berdatangan dan menginap di Kota Batu,” kata Sujud.
Menurut Sujud, peningkatan okupansi pada Juni merupakan pola yang terjadi secara rutin setiap tahun. Selain libur sekolah, periode Natal dan Tahun Baru serta libur Lebaran juga biasanya menjadi momentum meningkatnya kunjungan wisatawan sekaligus hunian hotel di Kota Batu.
Setelah periode tersebut, tingkat kunjungan biasanya kembali mengalami penurunan. Sujud menyebut Agustus cenderung menjadi periode yang lebih sepi karena masyarakat lebih banyak mengikuti berbagai kegiatan di daerah masing-masing.
Meski tingkat hunian hotel meningkat, Sujud menilai durasi tinggal wisatawan belum kembali seperti sebelum pandemi. Data BPS menunjukkan rata-rata lama menginap tamu (RLMT) pada Juni 2026 hanya 1,04 malam atau turun 0,02 poin dibandingkan Mei 2026.
Sujud juga melihat adanya perubahan pola perjalanan wisatawan yang kini lebih banyak memilih kunjungan satu hari atau one day trip. Wisatawan datang pada pagi hari, berwisata hingga siang atau sore, kemudian kembali ke daerah asal tanpa menginap.
“Selain itu, tren wisatawan lebih banyak melakukan one day trip. Pagi datang, siang berwisata, malam kembali ke kota asal tanpa menginap,” imbuh Sujud.
Menurutnya, kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi durasi kunjungan. Hal tersebut membuat lama tinggal wisatawan belum kembali seperti sebelumnya yang dapat mencapai dua hingga tiga hari.
“Sekarang daya beli masyarakat juga belum sepenuhnya pulih sehingga lama tinggal para wisatawan belum seperti dulu yang bisa mencapai dua sampai tiga hari,” ujarnya.
Sujud menambahkan, meningkatnya kepadatan lalu lintas menuju Kota Batu tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap lama tinggal wisatawan.
Karena itu, tantangan sektor pariwisata saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga mendorong wisatawan agar memperpanjang masa menginap.