KETIK, BATU – Pemerintah Kota Batu mendorong agar produksi susu sapi perah dari peternak lokal dapat masuk dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Upaya tersebut diarahkan melalui penguatan peran koperasi susu sebagai penghubung antara peternak dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sehingga hasil produksi peternak dapat terserap secara langsung.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu, Hendry Suseno, mengatakan potensi produksi susu lokal cukup besar karena terdapat sentra peternakan sapi perah di sejumlah wilayah Kota Batu.
“Harapannya memang gini, produk susu kita itu kan ada ya peternak-peternak sapi perah di Desa Gunungsari, terus di Desa Pesanggrahan, di atas itu di Dusun Brau,” ujarnya, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya, kerja sama antara koperasi susu dengan pengelola program MBG perlu diperkuat agar susu yang dihasilkan peternak Kota Batu dapat menjadi bagian dari pemenuhan kebutuhan bahan pangan program tersebut.
“Koperasi susu dan binaannya itu nanti ada kerja sama yang baik antara koperasi dengan MBG sehingga MBG itu bisa menyerap susu lokal,” ujarnya.
Hendry mengatakan Pemkot Batu siap memberikan fasilitasi kepada koperasi susu, khususnya terkait kebutuhan administrasi dan persyaratan yang diperlukan agar produk dapat masuk ke dalam rantai pasok MBG.
“Ya nanti kita akan fasilitasi. Artinya kalau koperasi kita, khususnya Koperasi Susu Batu, itu sebenarnya apa sih yang dibutuhkan mereka dalam rangka mengurus ke BPOM atau apa, nanti itu akan kita support terkait ke pengurusannya,” imbuhnya.
Dukungan tersebut, jelas dia, merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memberdayakan masyarakat, terutama peternak sapi perah.
Dengan penguatan koperasi, susu yang dikumpulkan dari peternak dapat dikelola melalui satu jalur sebelum disalurkan untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
“Intinya pemerintah dalam rangka pemberdayaan masyarakat, khususnya peternak susu kita. Sehingga koperasi yang menampung susu-susu perah yang langsung masuk koperasi itu bisa langsung diambil oleh SPPG,” ujarnya.
Upaya mendorong pemanfaatan susu lokal tersebut juga sejalan dengan pemetaan potensi hilirisasi hasil peternakan di wilayah Malang Raya.
Beberapa waktu lalu, Distan KP Kota Batu turut mendampingi kunjungan kerja Direktur Jenderal Hilirisasi dan Pengolahan Hasil Peternakan, Dr. drh. Ma’mun, M.Sc.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat potensi pengembangan industri pengolahan susu dari sektor hulu hingga hilir.
Rantai pasok hasil peternakan menjadi salah satu perhatian agar produksi yang berasal dari peternak dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
Rangkaian kunjungan diawali di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari. Rombongan meninjau upaya pengembangan kualitas genetik ternak unggul sebagai bagian dari penguatan sektor peternakan.
Peninjauan kemudian dilanjutkan ke Wisata Edukasi Susu Batu (WESB), Jl Ir Soekarno, Kota Batu. Di lokasi tersebut, rombongan melihat penerapan teknologi pengolahan susu sekaligus integrasinya dengan kegiatan edukasi masyarakat.
Pengembangan rantai pengolahan susu tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Hilirisasi juga diharapkan dapat memperkuat posisi peternak lokal sehingga manfaat ekonomi dari produksi susu dapat dirasakan secara lebih luas.
.png)