KETIK, GRESIK – Akses utama yang menghubungkan Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun dan Desa Serah, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, lumpuh total bagi kendaraan roda empat. Kondisi ini dipicu oleh struktur bangunan jembatan yang amblas sejak dua bulan terakhir, hingga memaksa warga setempat menggelar aksi protes serta memasang rambu penanda bahaya.

​Perangkat Desa Tebuwung, Saifulloh, menjelaskan bahwa kerusakan awal jembatan sebenarnya sudah berlangsung sekitar tiga bulan, namun kondisi fisik bangunan mengalami amblas parah dalam dua minggu terakhir.

​"Kerusakannya sudah sekitar tiga bulan, tapi amblasnya sekitar dua minggu lalu. Dari dinas PU (Pekerjaan Umum) sebenarnya sudah dua kali turun ke lokasi dan berkoordinasi dengan pihak desa," ujar Saifulloh saat ditemui di lokasi, Jumat, 4 September 2026.

​Sebagai langkah awal, spanduk imbauan dan barikade penutup telah dipasang dari dua arah, baik dari arah Tebuwung maupun dari arah Serah. Hal ini dilakukan agar kendaraan roda empat tidak telanjur mendekat dan terpaksa memutar balik.

​"Akses kendaraan roda empat terpaksa dialihkan melintasi jalur alternatif lewat Desa Sukon atau Sumurber. Kami dari pihak desa hanya bisa mengusulkan, sebab kewenangan perbaikan sepenuhnya ada di tingkat Kabupaten. Harapan kami tentu dipercepat karena ini mengganggu mobilitas warga di dua kecamatan, yakni Panceng dan Dukun," tambahnya.

Baca Juga:
Tingkat Kemantapan Jalan Brebes 63,19 Persen, Pemkab Sediakan Website Aduan dan Edukasi Jalan

Spanduk imbauan dari dinas terkait terpasang di akses menuju Jembatan Tebuwung yang melarang kendaraan roda empat atau lebih melintas akibat struktur bangunan amblas, Jumat (4/9/2026).(Foto: Aris/Ketik.com)

​Sementara itu, salah satu tokoh warga Tebuwong Hadi Hariyanto, mengungkapkan bahwa jebolnya lantai jembatan disebabkan oleh tingginya tonase kendaraan berat yang kerap melintas melebihi kapasitas jalan, seperti truk pengangkut tanah merah dari wilayah utara.

​"Jembatan ini jebol sudah sekitar dua bulan. Penyebab utamanya karena sering dilalui truk-truk muatan berat yang tidak sesuai kapasitas jalan," kata Hariyanto.

​Ia menilai respons dan janji perbaikan dari dinas terkait masih menggantung tanpa jadwal pelaksanaan yang pasti. Hal inilah yang mendorong warga secara swadaya memasang tanda bahaya di lokasi amblas.

Baca Juga:
Menko PM Bersama Pemkab Gresik Perkuat Ekosistem Sosial Ekonomi Pesantren, Hubungkan SMK dengan Industri

​"Pihak dinas memang sudah turun dan memasang banner pemberitahuan, tapi kepastian kapan mulai diperbaikinya itu yang belum ada. Janjinya bulan depan ke bulan depan terus. Kalau cuma tahu kerusakannya saja tapi tidak ada kepastian, ya warga tidak sabar," tegasnya.

​Aksi keprihatinan warga ini mendapat pengawalan langsung dari Paguyuban Laskar Pantura Daendels. Ketua Laskar Pantura Daendels, M. Fiqul Humam, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak boleh memperlambat penanganan infrastruktur vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

​"Jembatan ini adalah urat nadi perekonomian dan mobilitas warga antar-kecamatan. Pemerintah Kabupaten Gresik dan Dinas Pekerjaan Umum harus memberikan kepastian tanggal pengerjaan, bukan sekadar janji atau memasang spanduk imbauan semata. Kami dari Laskar Pantura Daendels akan mengawal masalah ini sampai proyek perbaikan fisik benar-benar direalisasikan," tegas Fiqul Humam di lokasi.

​Dampak dari lumpuhnya jembatan ini dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Selain mengganggu angkutan hasil bumi dan ekonomi warga, anak-anak sekolah serta kendaraan roda tiga juga kesulitan melintas. Hanya sepeda motor yang dapat lewat secara bergantian dengan ekstra hati-hati.

​Warga bersama Laskar Pantura Daendels berharap Pemerintah Kabupaten Gresik segera merealisasikan rekonstruksi bangunan jembatan secara permanen agar jalur penghubung antar-kecamatan tersebut dapat kembali dilalui dengan aman.(*)