Fakta Terungkap! 47 Kasus HIV Baru Ditemukan di Kota Batu, Populasi Umum Kini Jadi Penyumbang Terbanyak

10 Juli 2026 19:45 10 Jul 2026 19:45

Dafa Wahyu P., Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Fakta Terungkap! 47 Kasus HIV Baru Ditemukan di Kota Batu, Populasi Umum Kini Jadi Penyumbang Terbanyak

Ilustrasi HIV. (Foto: magnific.com/jcomp)

KETIK, BATU – Sebanyak 47 kasus baru HIV ditemukan di Kota Batu sepanjang Januari hingga Juli 2026. Atas kondisi itu, Dinkes Kota Batu memperketat skrining pada kelompok berisiko sekaligus memperluas edukasi kepada masyarakat setelah pola penyebaran HIV bergeser dan mayoritas kasus kini tercatat sebagai populasi umum.

Pengelola Program Tuberkulosis (TB) dan HIV Dinkes Kota Batu, Yoni Hadi Purnomo, mewakili Kepala Dinkes Kota Batu Aditya Prasaja, mengatakan pola penularan HIV mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir.

Jika sebelumnya kelompok berisiko lebih mudah dipetakan karena berada di lokasi tertentu, kini aktivitas tersebut banyak berpindah ke platform daring sehingga pelacakan menjadi lebih kompleks.

“Saat ini kasus terbanyak justru tercatat pada kategori populasi umum. Kondisi ini terjadi karena pekerja seks tidak lagi terlokalisasi di satu tempat, tetapi menggunakan sistem online. Kelompok LGBT juga tersebar, sehingga banyak kasus baru ditemukan melalui kegiatan skrining rutin,” ujarnya, Jumat, 10 Juli 2026.

Berdasarkan data Dinkes Kota Batu, dari total 47 kasus baru sepanjang 2026, sebanyak 26 kasusberasal dari populasi umum.

Selanjutnya terdapat 7 kasus pada pasien tuberkulosis (TB), 4 kasus pada kelompok lelaki seks dengan lelaki (LSL), 2 kasus pada pasangan berisiko tinggi, 2 kasus pelanggan pekerja seks, 1 kasusLSL yang tercatat dalam populasi umum, 1 kasus wanita penjaja seks (WPS), 1 kasus ibu hamil, dan 1 kasus calon pengantin.

Yoni menjelaskan, identifikasi kelompok berisiko kini semakin sulit karena sebagian pasien tidak bersedia terbuka mengenai perilaku seksualnya. Faktor stigma dan tekanan psikologis menjadi penyebab utama sehingga sejumlah kasus akhirnya diklasifikasikan sebagai populasi umum.

“Banyak pasien yang belum terbuka mengenai faktor risikonya karena alasan psikologis maupun stigma sosial. Akibatnya, sebagian kasus masuk dalam kategori populasi umum karena kelompok berisikonya belum bisa dipastikan,” jelasnya.

Secara kumulatif sejak 2017, Kota Batu telah menemukan 691 kasus ODHIV. Dari jumlah tersebut, 329 pasien masih menjalani pengobatan, 335 pasien tercatat lost to follow up atau putus pengobatan, sedangkan 27 pasien telah meninggal dunia.

Berdasarkan fasilitas pelayanan kesehatan, RSUD Karsa Husada Kota Batu menjadi penyumbang temuan kasus terbanyak sepanjang 2026 dengan 22 kasus.

Disusul RS Bhayangkara Hasta Brata sebanyak 7 kasus, RS Baptis Batu 6 kasus, Puskesmas Bumiaji 5 kasus, Puskesmas Batu 3 kasus, Puskesmas Junrejo 2 kasus, serta Puskesmas Sisir dan RS dr. Etty Asharto masing-masing 1 kasus.

Melihat perubahan pola persebaran tersebut, Dinkes Kota Batu kini mengubah pendekatan penanganan HIV. Skrining massal yang bersifat seremonial mulai ditinggalkan dan digantikan dengan pemeriksaan aktif di lokasi-lokasi yang dinilai memiliki potensi risiko penularan lebih tinggi.

“Sekarang kami tidak lagi mengandalkan skrining massal yang bersifat seremonial. Upaya pencegahan lebih difokuskan melalui edukasi kepada remaja dan pelajar, sekaligus memperluas skrining aktif di kawasan pekerja, perkantoran, perhotelan hingga tempat wisata,” katanya.

Yoni menegaskan, penanganan HIV di Kota Batu tetap mengedepankan pendekatan Voluntary Care and Testing (VCT) atau pemeriksaan secara sukarela. Melalui mekanisme tersebut, masyarakat didorong melakukan tes dan memulai pengobatan sedini mungkin agar penularan dapat ditekan.

“Pada prinsipnya penanganan HIV dilakukan melalui Voluntary Care and Testing. Pemeriksaan dan pengobatan harus berdasarkan kesediaan pasien. Pengecualian hanya berlaku bagi ibu hamil dan calon pengantin yang memang diwajibkan menjalani pemeriksaan HIV,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Orang Dengan HIV  human Immunodeficiency Virus Dinkes Kota Batu Info Kota Batu Berita Kota Batu