KETIK, SIMEULUE – Delapan tahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah penantian. Bagi Nur Jannah, warga Semelue, Aceh, delapan tahun itu bukan hanya hitungan waktu, melainkan rentetan hari yang diisi rasa sakit, pengobatan, perjalanan dan harapan untuk sembuh.

Di usia 15 tahun, ketika sebagian remaja seusianya sibuk bersekolah, bermain bersama teman, atau membayangkan masa depan, Jannah justru harus akrab dengan ruang perawatan dan pemeriksaan medis.

Penyakit tumor pembuluh darah yang dideritanya sejak 2018 lalu telah mengubah masa kecil gadis asal Simeulue, Aceh, itu. Ia harus berjuang dengan penyakitnya sejak masih berusia tujuh tahun.

Hari-harinya tidak selalu diisi dengan tawa. Ada masa ketika rasa sakit menjadi bagian dari kesehariannya. Ada pula perjalanan panjang yang harus ditempuh keluarga hanya untuk mendapatkan perawatan.

Kini, Jannah masih menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh. Untuk sampai ke rumah sakit itu, ia harus menempuh perjalanan jauh belasan jam dari Pulau Sinabang, Simeulue, termasuk menyeberangi laut.

Baca Juga:
Politikus Gerindra: Negara Jangan Bebani Investor dengan Urusan Keamanan dan Infrastruktur

Di sisi ranjang rumah sakit, kedua orang tuanya, Ali Firmadi dan Cut Manisa, setia menemani. Mereka menyaksikan bagaimana putrinya bertahun-tahun harus berhadapan dengan penyakit sekaligus berusaha memenuhi kebutuhan pengobatan.

Bagi orang tua Jannah, keinginan itu sebenarnya sederhana. Mereka hanya ingin melihat anaknya sehat. Ingin mendengar tawa Jannah tanpa dibayangi rasa sakit. Ingin melihatnya kembali menjalani hari-hari seperti remaja lainnya. Pergi ke sekolah, bertemu teman, mengejar cita-cita dan menikmati masa muda yang sempat tertunda.

Dalam perjuangan itu, keluarga Jannah tidak berjalan sendirian. Sang abang, Gusmariadi, yang berprofesi sebagai wartawan di salah satu media, ikut mencari jalan agar pengobatan adiknya tetap dapat berlangsung.

Delapan tahun bukan waktu yang singkat. Selama itu pula keluarga harus bertahan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, termasuk ekonomi untuk biaya pengobatan dan pendampingan.

Baca Juga:
Kunjungi Puskesmas Buduran Sidoarjo, Bambang Haryo Pantau Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Di tengah perjalanan panjang tersebut, secercah harapan datang dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Jamaluddin Idham, S.H., M.H.

Melalui tenaga ahlinya, Hamdani, di Meulaboh, Aceh Barat, Kamis, 8 Oktober 2026, Jamaluddin menyalurkan bantuan dana tunai sebesar Rp10 juta untuk membantu biaya pengobatan Nur Jannah.

Bagi keluarga Jannah, bantuan tersebut bukan semata soal jumlah uang. Di tengah perjuangan mempertahankan pengobatan, perhatian dari orang lain memiliki arti yang jauh lebih besar. Setidaknya, keluarga itu tahu bahwa perjuangan Jannah masih diperhatikan dan ada orang yang ikut berharap agar gadis itu segera pulih.

Jamaluddin juga menitipkan pesan agar Jannah tidak menyerah menghadapi penyakit yang telah menemaninya selama bertahun-tahun.

“Tetap semangat ya, dalam menjalani pengobatan. Jangan pernah merasa sendiri, karena banyak orang yang ikut mendoakan dan ingin melihat adik sehat kembali,” ujar Jamaluddin.

Menurut Jamaluddin, bantuan yang diberikan mungkin belum sebanding dengan panjangnya perjuangan Jannah dan keluarganya. Namun, ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan kebutuhan selama menjalani pengobatan.

“Bantuan ini mungkin tidak seberapa dibanding perjuangan yang adik jalani, tapi semoga bisa sedikit meringankan kebutuhan pengobatan dan menjadi penyemangat untuk terus kuat,” katanya.

Ia juga meminta Jannah tetap berdoa dan tidak kehilangan harapan. Menurutnya, kesembuhan juga bisa datang dari semangat Nur Jannah.

“Jangan menyerah, terus berdoa, dan yakin bahwa Allah selalu punya jalan terbaik. Semoga Allah angkat penyakit adik, berikan kesembuhan, kesehatan, dan masa depan yang baik. Kami semua mendoakan adik. Tetap kuat dan tetap tersenyum ya. Insya Allah ada kemudahan setelah setiap kesulitan,” sambungnya.

Pesan itu menjadi penguat bagi keluarga yang selama bertahun-tahun mendampingi Jannah melewati masa sulit.

Gusmariadi menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan bantuan yang diberikan Jamaluddin kepada adiknya. Dengan bantuan itu, Jannah bisa melanjutkan pengobatan.

“Terima kasih atas doa dan bantuannya. Gus selaku pihak keluarga sekali lagi mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Berkat bantuan Kakanda Jamaluddin Idham, Dik Jannah bisa berangkat berobat dengan lancar,” ujar Gusmariadi.

Ia juga mendoakan agar kebaikan tersebut mendapat balasan dari Allah SWT.

“Semoga Allah membalas segala kebaikan Kakanda Jamaluddin,” katanya.

Delapan tahun telah berlalu.

Namun, perjuangan Jannah belum selesai. Di usianya yang baru 15 tahun, gadis belia itu masih menggenggam satu harapan yang sederhana, yaitu sembuh.

Ia ingin pulang ke Simeulue bukan sebagai pasien yang harus kembali menjalani pengobatan, melainkan sebagai seorang anak yang sehat. Ia ingin kembali belajar, bertemu teman-temannya, mengejar cita-cita dan merasakan kehidupan remaja yang selama ini sebagian waktunya terenggut oleh penyakit.

Mungkin belum ada yang tahu kapan perjuangan panjang itu akan berakhir. Tetapi selama harapan masih ada, Jannah dan keluarganya memilih untuk terus bertahan.

Sebab setelah delapan tahun menahan sakit, yang diinginkan Jannah bukanlah sesuatu yang berlebihan. Ia hanya ingin satu kesempatan untuk hidup seperti anak-anak seusianya. Untuk bangun tanpa rasa sakit. Untuk pulang tanpa membawa kecemasan. Dan suatu hari nanti, tersenyum tanpa harus menyembunyikan lelah yang selama ini dipikulnya.(*)