KETIK, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC), bekerja sama dengan BMKG dan BPBD Jatim sebagai upaya menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sekaligus menangani kekeringan yang melanda 24 kabupaten/kota di Jawa Timur.
Pelaksanaan OMC, merupakan tindak lanjut dari Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla di Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Kota Malang, Kamis, 3 September 2026.
Hasilnya, berdasarkan data pemantauan alat Automatic Rain Gauge (ARG) per 6 September 2026, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang terpantau turun di 11 titik yang tersebar di enam kabupaten, yakni Lumajang, Banyuwangi, Malang, Jember, Trenggalek, dan Pacitan.
“Alhamdulillah, pelaksanaan OMC menunjukkan hasil positif. Berdasarkan pemantauan melalui perangkat ARG, hujan terpantau turun di 11 titik pada enam kabupaten yang menjadi wilayah sasaran prioritas,” ujar Khofifah, Senin, 6 September 2026.
Ia berharap hujan yang turun, memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus membantu menjaga ketersediaan air, mengurangi dampak kekeringan serta menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Baca Juga:
Gelar Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al Akbar, Gubernur Khofifah Gandeng BAZNAS Jatim Salurkan Bantuan Modal EkonomiBerdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Jatim, OMC telah dilaksanakan sebanyak empat kali sepanjang 3-6 September 2026.
OMC perdana dilakukan pada Kamis, 3 September 2026 pukul 15.50 WIB menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104. Operasi menyasar wilayah Lumajang dan Probolinggo dengan menyebarkan sebanyak 800 kilogram bahan semai NaCl.
OMC kedua dilaksanakan Jumat, 4 September 2026, sekitar pukul 15.25 WIB dengan sasaran wilayah Probolinggo–Lumajang, termasuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), area di atas Kota Batu dan Gunung Arjuno, serta wilayah Malang. Pada operasi tersebut kembali disebarkan sebanyak 800 kilogram bahan semai NaCl.
Secara keseluruhan, rangkaian OMC menyasar sejumlah wilayah, mulai dari Malang, Kota Batu, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, hingga Banyuwangi.
Baca Juga:
19.837 Warga Terdampak Kekeringan di Pasuruan, Gubernur Khofifah Salurkan Bantuan Air BersihKhofifah menjelaskan, OMC dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer serta ketersediaan awan potensial yang bergerak memasuki wilayah daratan. Oleh karena itu, pemantauan BMKG menjadi dasar penting dalam menentukan waktu dan wilayah sasaran operasi.
“OMC dilaksanakan ketika kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial memungkinkan. Awan yang mulai bergerak memasuki sejumlah wilayah terus dipantau. Ketika dinilai potensial, kondisi tersebut dioptimalkan melalui OMC untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran,” jelasnya.
Menurut Khofifah, setiap pelaksanaan OMC membutuhkan pemantauan dan perhitungan yang cermat. BPBD Jatim bersama Kementerian Kehutanan, BMKG, serta seluruh unsur terkait akan terus melakukan koordinasi, pemantauan, dan evaluasi agar intervensi berjalan efektif, aman, dan tepat sasaran.
“Kolaborasi menjadi kunci karena penanganan karhutla dan kekeringan membutuhkan respons yang cepat, terpadu, dan berkelanjutan. Semua unsur harus bergerak sesuai peran masing-masing,” tuturnya.
Dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla, seluruh pihak juga menyepakati perlunya memperkuat antisipasi terhadap potensi El Niño yang dapat meningkatkan risiko karhutla, khususnya di wilayah rawan.
“Pemantauan dan respons cepat harus dilakukan secara berkelanjutan. Setiap informasi mengenai karhutla harus segera dikoordinasikan dan ditindaklanjuti agar api tidak meluas dan dampaknya dapat diminimalkan,” tegas Khofifah.
Pelaksanaan OMC selanjutnya akan terus dilakukan secara situasional dengan mempertimbangkan potensi awan berdasarkan hasil pemantauan dan rekomendasi BMKG. (*)