KETIK, JOMBANG – Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di SMPN 1 Kabuh, Kabupaten Jombang, terus bergulir. Jumlah warga sekolah yang mengalami keluhan kesehatan kini mencapai 256 orang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab munculnya keluhan tersebut.
Tak hanya memeriksa makanan, Dinkes Jombang juga mengambil sampel air yang digunakan di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Brumbung, Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh.
Kepala Dinkes Jombang, dr Hexawan Tjahja Widada, mengatakan sampel yang diperiksa meliputi sayuran, udang berbumbu saus Padang, nasi, pepaya, serta air yang digunakan di dapur SPPG.
"Airnya juga, karena kemarin ternyata mengambil air dari isi ulang tetangga sebelah," kata Hexa, Kamis, 3 September 2026.
Baca Juga:
Evaluasi Distribusi MBG Usai 664 Santri Diduga Keracunan di Sidoarjo, Gubernur Khofifah: Semua Lini Harus BerbenahSeluruh sampel tersebut dikirim ke BLK Surabaya untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
Dinkes Jombang juga akan mengevaluasi kembali Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dapur SPPG untuk memastikan seluruh standar higiene dan sanitasi telah diterapkan sesuai ketentuan.
"Kita lakukan evaluasi SLHS lagi. Sesuai dengan aturan protapnya atau tidak, kita perbaiki lagi," ujarnya.
Berawal dari Puluhan Siswa Mengeluh Sakit
Baca Juga:
Dugaan Pelajar Keracunan MBG di Jombang, Politisi PDIP Desak Investigasi Tak Berhenti pada Pengobatan SajaKasus ini sebelumnya diketahui setelah sejumlah siswa SMPN 1 Kabuh mengalami mual, pusing, diare, muntah dan sakit perut beberapa jam setelah menyantap menu MBG pada Rabu, 2 September 2026.
Awalnya, jumlah siswa yang mengalami keluhan tercatat sekitar puluhan orang. Namun, setelah dilakukan pendataan dan validasi oleh Dinkes Jombang, jumlahnya bertambah menjadi 256 warga sekolah.
Makanan MBG dikonsumsi sekitar pukul 11.30 WIB. Sementara keluhan kesehatan mulai dirasakan sekitar pukul 17.00 WIB ketika sebagian siswa telah pulang ke rumah.
Sejumlah siswa kemudian mendapatkan pemeriksaan di Puskesmas Kabuh maupun fasilitas kesehatan lainnya.
Salah satu menu yang banyak disebut siswa memiliki aroma dan rasa kurang sedap adalah udang saus Padang.
Dokter Puskesmas Kabuh, dr Aditya Bimantara, mengatakan mayoritas pasien mengeluhkan diare, perut mulas dan melilit hingga nyeri lambung.
"Keluhannya didominasi diare, perut mulas dan melilit, serta nyeri lambung. Berdasarkan pemeriksaan sementara, kemungkinan mengarah pada keracunan," katanya.
Meski demikian, Dinkes Jombang belum menetapkan udang maupun menu MBG sebagai penyebab pasti. Hasil laboratorium masih ditunggu untuk memastikan sumber gangguan kesehatan tersebut.
7 Korban MBG Masih Dirawat
Dari 256 warga sekolah yang mengalami keluhan, tujuh orang masih menjalani rawat inap di Puskesmas Kabuh.
Sebanyak 74 orang menjalani rawat jalan di puskesmas maupun klinik, termasuk Klinik Mitra Plus dan Klinik As-Syifa. Sedangkan 175 orang lainnya memilih mendapatkan pengobatan secara mandiri.
Hexa mengatakan kondisi tujuh pasien yang masih dirawat sudah membaik. Mereka mendapatkan penanganan terutama untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang.
"Sudah bagus kondisinya, paling cuma rehidrasi saja. Mungkin besok pulang," ujarnya.
DPRD Jombang Minta Ada Investigasi
Kasus dugaan keracunan MBG tersebut mendapat perhatian anggota DPRD Kabupaten Jombang.
Anggota DPRD Jombang dari Fraksi PDI Perjuangan, Ama Siswanto, meminta biaya pengobatan warga sekolah yang mengalami keluhan ditanggung. Ia juga mendesak dilakukan investigasi untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut.
"Biaya harus ditanggung dan investigasi," kata Ama.
Menurut Ama, kejadian tersebut tidak boleh kembali terjadi. Program MBG diperuntukkan bagi anak-anak sehingga aspek keamanan makanan harus menjadi perhatian utama.
Ia juga menyoroti dampak kejadian tersebut terhadap keluarga siswa. Menurutnya, orang tua menjadi khawatir dan trauma setelah anak mereka mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi menu MBG.
"Tidak boleh terjadi lagi karena orang tuanya trauma karena makan menu MBG," ujarnya.
Ama berharap hasil investigasi tidak hanya menjawab penyebab kejadian, tetapi juga menjadi bahan evaluasi agar kualitas dan keamanan makanan MBG lebih terjamin.
Janji Pemilik SPPG Mangunan Kabuh
Sementara itu, Pemilik SPPG Brumbung, Desa Mangunan, Kecamatan Kabuh, Sumadi, menyatakan pihaknya siap bertanggung jawab terhadap biaya pengobatan siswa yang mengalami keluhan.
Namun, Sumadi mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium Dinkes Jombang untuk mengetahui apakah keluhan kesehatan tersebut berkaitan dengan makanan MBG atau faktor lainnya.
"Yang jelas biaya pengobatannya akan kita tanggung sembari menunggu hasil laboratorium dari Dinkes Jombang, apakah penyebabnya menu MBG atau yang lainnya," kata Sumadi.
Sumadi menjelaskan makanan untuk pengiriman pertama mulai dimasak sekitar pukul 02.00 WIB. Proses memasak dilakukan dalam empat tahapan.
Pengiriman makanan ke sekolah kemudian dimulai sekitar pukul 07.00 WIB.
Terkait keluhan siswa mengenai udang saus Padang yang disebut beraroma amis dan terasa asam, Sumadi mengatakan proses pengolahan dilakukan sebagaimana biasanya.
"Kalau proses masaknya ya seperti itu, mungkin ini sudah jalannya dari Tuhan. Kita terima saja," ujarnya.
Pihak SPPG, kata Sumadi, akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Kita konfirmasi terlebih dahulu dan nanti pikirkan bersama-sama solusinya seperti apa," katanya.
Kini penyebab pasti dugaan keracunan MBG di SMPN 1 Kabuh masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Dinkes Jombang juga masih mengevaluasi aspek higiene dan sanitasi dapur SPPG, termasuk sumber air yang digunakan dalam proses pengolahan makanan.(*)