KETIK, MALANG – Gelaran Kampung Klasik IV resmi dibuka oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, pada Rabu, 26 Agustus 2026 malam. Acara yang berlangsung meriah di kawasan Vila Bukit Tidar, RW XI Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru ini mengusung tema "Merawat Tradisi, Menghidupkan Ruang Waktu" dengan tagline "giri nyandra gapura bhumi".

Pemerintah Kota Malang memberikan apresiasi penuh terhadap semangat swadaya warga RW XI yang konsisten merawat nilai-nilai kebudayaan dan pelestarian lingkungan melalui pembukaan festival ini.

Dalam sambutannya, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi pengurus RW XI dan warga setempat atas inovasi swadaya yang dihadirkan setiap tahun.

"Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya mengapresiasi kegiatan pada malam hari ini yang diinisiasi oleh RW XI Kelurahan Merjosari. Ini luar biasa, dari sekian banyak RW yang saya kunjungi terkait kearifan lokal atau budaya, Kampung Klasik ini memang berbeda," ujar Wahyu Hidayat di hadapan ratusan warga.

Wahyu menyoroti keunikan tata kelola festival yang menyajikan konsep tematik berbeda selama empat tahun berturut-turut. Konsep segar ini membuat festival tersebut selalu dinantikan masyarakat luas.

Baca Juga:
Lampaui Nasional! BI Sebut Pertumbuhan Ekonomi Malang Capai 5,71%

"Pak RW tadi menyampaikan, kalau sudah masuk bulan Agustus, masyarakat sudah bertanya-tanya kapan Kampung Klasik dimulai. Penjual dan pengunjungnya pun tidak hanya dari RW XI atau Merjosari saja, tetapi juga dari kelurahan dan kecamatan lain," tambahnya.

Lebih lanjut, Wali Kota menilai festival ini menjadi sarana edukasi kebudayaan sekaligus penggerak ekonomi melalui ragam kuliner legendaris tempo dulu.

Melihat besarnya potensi daya tarik wisatawan, Wahyu Hidayat meminta Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang untuk memasukkan Kampung Klasik ke dalam agenda pariwisata resmi daerah.

"Ini tentu menjadi daya tarik di Kota Malang. Nanti dari Disporapar bisa menyampaikan kepada wisatawan yang datang. Kalender wisatanya bisa disusun kembali oleh Pak Kadisporapar,” tegasnya.

Baca Juga:
Narkoba Bentuk Permen Kian Marak, Polresta Malang Kota Perketat Pengawasan dan Perkuat Sinergi

Gapura masuk Kampung Klasik IV di RW XI Kelurahan Merjosari, Vila Bukit Tidar, Kota Malang. (Foto: Aziz/ketik.com)

Sementara itu, Ketua RW XI Kelurahan Merjosari, Pardiman, menegaskan bahwa festival yang memasuki tahun keempat ini bukan sekadar ajang perayaan.

“Kampung Klasik ini sudah kita laksanakan tahun yang keempat. Ada empat misi yang kami canangkan dari kegiatan Kampung Klasik,” ujar Pardiman.

Pardiman merinci misi utama yang menjadi ruh penyelenggaraan Kampung Klasik IV. Pertama, bidang pendidikan diwujudkan melalui aksi nyata seperti lomba kebersihan antar-RT untuk melatih kepedulian generasi muda serta lokakarya digital branding bagi UMKM.

“Kemudian di hari Jumat sore akan juga kami adakan acara pelatihan pengolahan kopi, khusus kalau ini untuk para remaja,” ungkapnya.

Selanjutnya pada misi ekonomi, ia menyebutkan sebanyak 95 UMKM dari wilayah Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) turut menyemarakkan festival. Sekitar 40 persen di antaranya merupakan pelaku usaha lokal dari lingkungan RW XI.

“Kami menyadari bahwa festival semacam ini akan banyak dikunjungi oleh masyarakat yang tidak hanya berasal dari lingkungan Merjosari. Oleh karena itu, kami mengajak para pelaku UMKM, khususnya yang kuliner, untuk terlibat di dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Anjungan rumah adat Samin gelaran Kampung Klasik IV, RW XI Kelurahan Merjosari, Vila Bukit Tidar, Kota Malang. (Foto: Aziz/ketik.com)

Melanjutkan tradisi tahun sebelumnya, festival kali ini berfokus pada kekayaan budaya Jawa Timur melalui pengangkatan tema Jawa Timuran yang kental. Berbagai anjungan rumah adat menampilkan budaya dari Mataraman, Osing, Madura, Pandalungan, Samin, Bawean, hingga Tengger.

“Ada anjungan-anjungan yang memang itu menjadi ciri khas kami. Tahun lalu kami membawa tema Nusantara. Tahun ini kami membawa tema Jawa Timuran,” pungkasnya. (*)