Nilai Rekrutmen Nakes RSUD Bondowoso Disorot, Muncul Dugaan “Uang Pelicin” hingga Perubahan Skor

11 Mei 2026 21:18 11 Mei 2026 21:18

Haryono, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Nilai Rekrutmen Nakes RSUD Bondowoso Disorot, Muncul Dugaan “Uang Pelicin” hingga Perubahan Skor

RSUD Dr. H. Koesnadi Bondowoso (Foto: Humas Pemkab Bondowoso)

KETIK, BONDOWOSO – Proses rekrutmen tenaga kesehatan non-ASN di BLUD RSUD dr. Koesnadi Bondowoso kembali menuai sorotan. Setelah kritik dari dokter spesialis internal rumah sakit mencuat dan viral di media sosial, sejumlah peserta seleksi mulai berani mengungkap dugaan ketidaktransparanan dalam tahapan penerimaan.

Salah satu peserta berinisial L mengaku kejanggalan mulai terasa sejak hasil nilai tes baru diumumkan pada Jumat sore, 8 Mei 2026, bertepatan setelah video kritik dari dokter spesialis penyakit dalam, dr. Yusdeni Lanasakti, ramai diperbincangkan publik.

“Nilai baru keluar setelah viral. Sebelumnya tidak pernah ditampilkan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu, 9 Mei 2026.

Ia menjelaskan, peserta harus melewati sejumlah tahapan, mulai dari seleksi administrasi, tes tulis, uji keterampilan hingga wawancara. Namun menurutnya, pada tiga tahapan awal tidak terlihat adanya sistem eliminasi yang jelas.

Peserta yang mengikuti tes disebut tetap berlanjut ke tahap berikutnya, kecuali yang tidak hadir. Kondisi itu memunculkan pertanyaan di kalangan peserta mengenai transparansi proses seleksi.

“Tidak ada nilai yang diumumkan di tiap tahap. Jadi peserta bingung, sebenarnya penilaiannya bagaimana,” katanya.

L juga mengungkapkan bahwa nilai tes tulis sebenarnya sempat muncul sesaat setelah ujian berlangsung. Namun skor tersebut hanya tampil di layar komputer dan tidak dapat disimpan atau didokumentasikan peserta.

Meski sempat muncul kecurigaan, para peserta memilih fokus menjalani tahapan seleksi lanjutan karena tidak mengetahui harus menyampaikan keberatan ke mana.

Kejanggalan semakin terasa ketika pengumuman akhir diterbitkan. Beberapa peserta disebut menemukan adanya perbedaan nilai dibanding skor yang mereka lihat saat tes berlangsung.

“Ada yang sebelumnya nilainya rendah, tapi di pengumuman tiba-tiba tinggi. Itu yang membuat peserta kaget,” ungkapnya.

Tak hanya soal nilai, dugaan praktik “uang masuk” juga mulai ramai dibicarakan di kalangan peserta. Menurut pengakuan L, ada informasi mengenai permintaan sejumlah uang agar bisa lolos menjadi tenaga perawat di RSUD.

Nominal yang disebut-sebut bervariasi, mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

“Isu itu sekarang makin ramai dibicarakan. Katanya ada yang diminta Rp50 juta sampai Rp100 juta,” tuturnya.

Ia mengaku menolak tawaran tersebut karena keterbatasan ekonomi keluarga yang sebelumnya sudah banyak mengeluarkan biaya pendidikan.

Sementara itu, dokter spesialis RSUD dr. Koesnadi, dr. Yusdeni Lanasakti, turut mempertanyakan mekanisme rekrutmen yang dinilai janggal. Menurutnya, jika seluruh peserta lolos di setiap tahapan, maka fungsi penilaian sebagai alat seleksi menjadi tidak jelas.

“Kalau semua lolos terus, berarti parameter nilainya dipakai untuk apa?” ujarnya.

Sorotan juga mengarah pada dokumen pengumuman resmi rekrutmen. Dalam pengumuman tes kompetensi, formasi perawat ahli yang diikuti 122 peserta dan perawat terampil sebanyak 96 peserta tidak disertai rincian nilai.

Padahal, pada formasi jabatan lain nilai peserta dicantumkan secara lengkap.

Sementara dalam pengumuman kelulusan final, hanya peserta yang dinyatakan lolos yang dicantumkan nilainya. Sedangkan peserta yang tidak lolos sama sekali tidak mendapatkan informasi skor mereka, baik di pengumuman tes kompetensi maupun hasil akhir seleksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

Rekrutment Di Sorot Dugaan Uang Pelicin Perubahan Skor Rekrutmen Non-asn