Kurangi Ketergantungan Impor, Penguatan Agribisnis Jahe Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang

15 Juli 2026 21:00 15 Jul 2026 21:00

Thumbnail Kurangi Ketergantungan Impor, Penguatan Agribisnis Jahe Dinilai Jadi Solusi Jangka Panjang

Jahe mengandung anti inflamasi untuk redakan nyeri akibat cacar. (Foto: Pexels)

KETIK, BOGOR – Upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor jahe dinilai tidak cukup dilakukan dengan membatasi perdagangan dari luar negeri. Langkah yang lebih mendasar adalah membangun sistem agribisnis jahe yang kuat, mulai dari tingkat petani hingga industri pengolahan agar mampu menghasilkan pasokan yang berkelanjutan.

Dosen Departemen Agribisnis IPB University, Dr Anisa Dwi Utami, menjelaskan bahwa tantangan utama pengembangan jahe nasional saat ini bukan hanya persoalan budi daya. Menurutnya, sebagian besar usaha tani jahe masih dijalankan dalam skala kecil dan tersebar sehingga belum memiliki efisiensi maupun daya saing yang optimal.

Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi relatif tinggi, adopsi teknologi berlangsung lambat, akses petani terhadap pembiayaan masih terbatas, serta posisi tawar mereka dalam rantai pasok menjadi lemah.

Karena itu, Dr Anisa menilai transformasi usaha tani menuju skala ekonomi yang lebih besar menjadi kebutuhan mendesak. Penguatan kelembagaan melalui koperasi, kelompok tani, maupun pola kemitraan dengan industri dapat menjadi fondasi untuk memperbaiki sistem agribisnis jahe nasional.

"Penguatan kelembagaan melalui koperasi, kelompok tani, maupun kemitraan dengan industri akan memudahkan petani memperoleh benih unggul, teknologi, pembiayaan, dan kepastian pasar sehingga produksi dapat meningkat secara berkelanjutan," ujarnya.

Selain memperkuat kelembagaan petani, pengembangan kawasan sentra produksi jahe juga dinilai penting. Dengan sentra produksi yang terintegrasi, distribusi bahan baku menjadi lebih efisien, biaya logistik dapat ditekan, dan kontinuitas pasokan untuk industri lebih mudah dijaga.

Menurut Dr Anisa, kemitraan antara petani dan industri pengolahan juga harus diperkuat. Melalui kerja sama yang berkelanjutan, petani memperoleh kepastian pasar, sedangkan industri mendapatkan bahan baku dengan kualitas dan volume yang lebih konsisten.

Ia menegaskan bahwa peningkatan daya saing jahe nasional harus dibangun melalui sistem agribisnis yang efisien, mulai dari penyediaan benih unggul, penerapan teknologi budi daya, pembiayaan, hingga penguatan rantai pasok. Dengan demikian, kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi tanpa harus terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi jahe nasional menurun dari 190,26 ribu ton pada 2024 menjadi 168,97 ribu ton pada 2025. Penurunan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan produktivitas perlu segera dilakukan agar pasokan dalam negeri tetap terjaga.

Di sisi lain, impor jahe masih dilakukan bukan semata karena produksi nasional belum mencukupi. Industri juga membutuhkan pasokan yang tersedia sepanjang tahun dengan standar kualitas tertentu. Karena itu, pembenahan agribisnis dari hulu hingga hilir menjadi kunci agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi secara bertahap. (*)

Tombol Google News

Tags:

Agribisnis Jahe Petani Jahe Koperasi Jahe Sentra Jahe Kemitraan Industri Produksi Jahe Nasional Impor Jahe