KETIK, MALANG – Kepulangan dari luar negeri tidak selalu menjadi akhir perjalanan ekonomi bagi pekerja migran. Di Kabupaten Malang, mantan pekerja rumah tangga (PRT) migran justru didorong memanfaatkan potensi pangan lokal untuk membangun usaha dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Dorongan tersebut datang dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Kabupaten Malang Raya bersama Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Sosiologi, FISIP Universitas Brawijaya (UB).
Melalui kegiatan bertajuk “Daulat Ekonomi Eks PRT Migran: Membangun Brand dan Merancang Kemasan”, peserta dibekali pengetahuan mengenai branding dan desain kemasan produk pangan. Kegiatan berlangsung pada 7 Agustus 2026 di Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Malang.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Sosiologi FISIP UB, Ayu Kusumastuti, mengatakan persoalan yang dihadapi pekerja migran tidak berhenti ketika mereka kembali ke tanah air. Salah satu tantangan yang muncul adalah mencari sumber penghidupan baru.
“Setelah kembali dari luar negeri, banyak pekerja migran menghadapi tantangan untuk mengakses pekerjaan baru. Padahal, di desa tempat mereka tinggal terdapat berbagai potensi ekonomi yang dapat dikembangkan, khususnya melalui usaha pangan,” ujar Ayu.
Baca Juga:
Tanggapi Target Prabowo, FAST UB Sebut Swasembada Daging Butuh Keseimbangan KomoditasMenurut Ayu, potensi ekonomi di desa dapat menjadi pijakan bagi mantan pekerja migran untuk membangun usaha sendiri. Pengembangan UMKM berbasis potensi lokal juga dinilai dapat membuka peluang pekerjaan sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana produk yang telah dibuat mampu bersaing di pasar. Sejumlah peserta telah mengolah bahan pangan lokal menjadi produk seperti keripik gaplek, keripik pepaya, dan keripik pisang lumer.
Namun, produk tersebut masih menghadapi tantangan dalam hal identitas merek dan tampilan kemasan. Padahal, kedua aspek tersebut menjadi bagian penting untuk membuat produk lebih mudah dikenali sekaligus meningkatkan daya tarik di mata konsumen.
Ketua SBMI Kabupaten Malang Raya, Husnati, mengatakan mantan PRT migran perlu melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar sebagai peluang ekonomi.
Baca Juga:
1.300 Mahasiswa Baru FISIP UB Dapat Pesan Dari Alumni: Kuliah, Organisasi dan Bangun Relasi“Mantan PRT migran perlu didorong untuk memanfaatkan potensi yang ada di desa menjadi produk yang bernilai ekonomi. Dengan begitu, mereka dapat menciptakan pekerjaan sekaligus meningkatkan pendapatan,” jelas Husnati.
Karena itu, kegiatan tidak hanya membahas cara membuat produk pangan, tetapi juga bagaimana produk tersebut memiliki identitas yang kuat. Peserta diajak memahami dasar-dasar branding, menentukan nama merek, merancang kemasan, hingga memilih bentuk kemasan yang sesuai dengan karakter produk.
Peserta juga mendapat ruang untuk berkonsultasi mengenai produk masing-masing. Diskusi berlangsung interaktif, terutama ketika peserta membahas persoalan nama merek, desain kemasan, serta cara membuat produk terlihat lebih menarik.
Materi kemudian dilanjutkan dengan praktik pengemasan. Peserta mencoba secara langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada produk UMKM pangan yang mereka kembangkan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat peserta tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mampu membawa perubahan langsung pada produk yang mereka hasilkan.
Bagi mantan PRT migran, penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pilihan ekonomi setelah kembali ke daerah asal. Sementara bagi produk pangan lokal, branding dan kemasan diharapkan menjadi pintu untuk meningkatkan nilai tambah dan memperluas pasar.
Melalui pengembangan potensi pangan desa, SBMI dan Departemen Sosiologi FISIP UB mendorong mantan PRT migran tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi yang mampu menciptakan usaha dan pekerjaan di daerah asal.(*)