Terpilihnya kembali Mega Guntara, sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Probolinggo, sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Dari awal Muskot digelar, suasananya sudah terasa. Terasa mengarah ke sana. Banyak yang membaca, peluang Mega, memang masih kuat. Bukan cuma karena faktor internal organisasi. Tetapi juga karena ia dianggap masih punya hubungan baik dengan banyak pihak. Termasuk pemerintah daerah.
Apalagi saat wakil wali kota hadir langsung memberi sambutan dalam Musyawarah Kota PMI. Di Probolinggo, kehadiran kepala daerah atau wakilnya di acara organisasi biasanya juga dibaca sedang membawa pesan. Memang tidak selalu diucapkan terang-terangan. Tetapi bisa dimaknai dari gestur dan sikap yang ditunjukkan.
Minimal itu menjadi tanda. Tanda jika Pemkot Probolinggo, masih merasa asik dengan style Mega Guntara di PMI. Dan itu penting bagi PMI. Semua tahu, PMI bukan organisasi yang bisa bekerja sendirian. Urusannya layanan masyarakat. Mulai donor darah, relawan, bencana, sampai kegiatan sosial. Jadi kalau hubungan PMI dan pemkot berjalan baik, kerja organisasi biasanya juga lebih ringan.
Makanya, cukup masuk akal kalau ada yang menilai terpilihnya Mega kembali, ikut dipengaruhi komunikasi yang sudah terbangun selama ini. Ibarat orang memperbaiki atap rumah saat musim hujan. Biasanya yang dipakai lagi ya tukang lama. Tukang yang sudah hafal bagian bocor di mana.
Begitu juga dalam organisasi. Kadang yang dicari bukan sosok paling sering kampanye, tebar pesona, banyak janji ini itu. Tetapi orang yang dianggap bisa menjaga ritme dan tidak membuat keadaan berubah terlalu drastis. Apalagi PMI kerjanya lebih banyak di lapangan ketimbang di dalam ruangan.
Baca Juga:
Prestasi Jadi Pertimbangan, Mega Guntara Terpilih Aklamasi Kembali Pimpin PMI Kota ProbolinggoOrang baru benar-benar ingat PMI justru saat sedang panik. Ketika mencari darah tengah malam. Saat ada kecelakaan. Atau ketika banjir datang dan relawan harus turun cepat. Dalam situasi seperti itu, organisasi butuh orang yang tahu jalur koordinasi. Bahkan tidak gagap mengambil keputusan. Mega tampaknya dianggap masih punya modal itu.
Kembalinya Mega, juga ibarat filosofi kapal dan nahkoda di laut ganas. Di kampung-kampung nelayan. Terutama di pesisir utara Jawa. Ada satu kebiasaan sampai sekarang masih dipertahankan. Saat cuaca laut tidak menentu, para pemilik kapal tidak sembarangan menempatkan orang di belakang kemudi.
Mereka cenderung mempercayakan kepada nahkoda yang sudah hafal arah angin. Bukan karena tidak ada orang lain yang lebih muda atau lebih berani, tetapi karena laut punya watak yang sulit ditebak. Ombak bisa berubah cepat. Angin bisa berbalik arah sewaktu-waktu. Dalam situasi seperti itu, awak kapal dan penumpang butuh nahkoda yang sudah hafal karakter laut.
Kembali ke PMI. Tentu saja bukan berarti semua orang harus setuju. Dalam organisasi pasti ada dinamika. Ada kelompok yang ingin perubahan. Ada pula yang merasa kepemimpinan lama layak diteruskan. Itu biasa. Tetapi hasil Muskot kemarin memperlihatkan dukungan terhadap Mega, memang masih cukup besar.
Baca Juga:
PMI Cilacap Bekali Pengurus Kecamatan Ilmu Kepalangmerahan dan Pertolongan PertamaDan kalau dicermati, dukungan itu seperti datang dari dua arah sekaligus. Dari internal PMI sendiri dan dari suasana eksternal yang cukup kondusif. Kehadiran wakil wali kota setidaknya memberi kesan, pemerintah daerah tidak menjaga jarak dengan PMI di bawah kepemimpinan Mega.
Satu hal lagi alasan mengapa banyak orang masih percaya Mega Guntara. Tentu tidak lepas dari aktifnya PMI Kota Probolinggo, dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin tidak semua kerja itu muncul di media sosial. Atau menjadi pemberitaan besar. Tetapi tetap saja jejaknya ada dan tertinggal. Orang yang pernah mencari darah mendadak biasanya tahu betapa pentingnya respons cepat dari PMI.
Dalam situasi panik, keluarga pasien tidak peduli siapa ketuanya, apa warna organisasinya, atau bagaimana dinamika Muskot di dalam ruangan rapat. Mereka cuma ingin darah tersedia dan bantuan datang tepat waktu. Hal-hal seperti itu yang diam-diam membentuk kepercayaan.
Begitu juga saat ada kegiatan sosial, bantuan kemanusiaan, atau relawan yang turun di tengah masyarakat. Kerja PMI sering kali tidak terlalu gaduh. Tetapi justru karena itulah keberadaannya terasa. PMI ada ketika orang sedang mengalami kesulitan.
Dalam organisasi kemanusiaan, orang biasanya lebih berhati-hati mengganti lokomotif. Terutama ketika hubungan dengan pemerintah daerah sedang berjalan baik. Karena bagaimanapun, organisasi seperti PMI membutuhkan dukungan banyak arah. Tidak cukup hanya solid di internal. Ia juga harus punya jalur komunikasi dengan pemerintah, rumah sakit, relawan, hingga masyarakat umum. Mega tampaknya berhasil menjaga itu sejauh ini.
Tetapi sekali lagi, periode kedua atau lanjutan kepemimpinan biasanya jauh lebih berat. Ekspektasi publik meningkat. Orang akan mulai membandingkan janji dengan kerja nyata. Kalau pada periode pertama orang masih memberi toleransi untuk belajar, maka pada periode berikutnya publik ingin melihat hasil yang lebih terasa.
Apalagi masyarakat sekarang semakin kritis. Mereka tidak mudah puas hanya dengan seremoni pelantikan atau foto kegiatan. Yang dilihat adalah manfaat langsungnya.
Apakah pelayanan donor darah semakin cepat? Apakah relawan PMI semakin aktif di lapangan? Apakah masyarakat kecil merasa lebih mudah mendapatkan bantuan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang nantinya menentukan apakah kapal ini benar-benar bergerak maju atau hanya berputar di laut yang sama.
Karena pada akhirnya, laut tidak pernah peduli siapa nahkodanya. Laut hanya menguji apakah kapal itu mampu bertahan diterjang ombak atau tidak. (*)
*) Eko Hardianto adalah Jurnalis Ketik.com dan Wakil Ketua PWI Probolinggo Raya
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)