KETIK, MALANG – Pendiri Intrans Publishing, Luthfi J Kurniawan, menilai perkembangan literasi dan perbukuan di Indonesia masih belum menggembirakan. Menurutnya, jelang Hari Buku Nasional 2026, pemahaman mengenai literasi di kalangan pemangku kepentingan masih terlalu sempit dan belum menyentuh makna literasi secara menyeluruh.
Luthfi mengatakan, selama ini literasi kerap dipahami hanya sebatas kemampuan baca tulis. Padahal, literasi juga mencakup berbagai aspek lain seperti literasi agama, teknologi, humanistik, ekonomi, hingga keuangan.
“Literasi itu konsep pemahaman tentang bagaimana kita menyerap pengetahuan. Jadi bukan hanya baca tulis,” ujarnya.
Ia menilai, pemerintah, institusi pendidikan, hingga sektor swasta belum memiliki pemahaman yang memadai terkait gerakan literasi. Akibatnya, infrastruktur untuk memperkuat budaya literasi dinilai belum terbangun secara optimal.
Menurut Luthfi, lemahnya lingkungan literasi berdampak langsung terhadap dunia perbukuan. Budaya membaca dan berdiskusi berbasis pengetahuan dari buku dinilai belum tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Baca Juga:
Oase Cafe and Literacy, Tempat Nongkrong Favorit Pecinta Buku di Kota Malang“Karena lingkungan literasi tidak terbangun dengan baik, otomatis kebutuhan akan buku menjadi sedikit berkurang,” katanya.
Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat juga turut memengaruhi daya beli buku. Ia menyebut, buku masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder sehingga tidak menjadi prioritas di tengah tekanan ekonomi.
“Pembelian buku dianggap bukan bagian dari kebutuhan primer,” ucapnya.
Luthfi menambahkan, kemajuan sebuah bangsa sangat dipengaruhi oleh kualitas literasi masyarakatnya. Namun, kesadaran tersebut menurutnya belum terbentuk secara kuat sehingga buku belum menjadi “primadona” di masyarakat.
Baca Juga:
Berawal dari Membukukan Skripsi, Dosen Komunikasi UMM Nurudin Konsisten Menulis dan Terbitkan 24 BukuDi sisi lain, ia juga menyoroti pengaruh media sosial terhadap pola konsumsi informasi masyarakat. Menurutnya, media sosial sering kali dijadikan sumber utama informasi tanpa verifikasi yang memadai.
“Ketika informasi tidak akurat, orang tidak mencari sumber lagi. Sedikit informasi langsung dianggap sebagai kebenaran,” tuturnya.
Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan istilah “the death of expertise” atau matinya kepakaran, seperti bahasan dalam buku karya Tom Nichols.
Karena itu, Luthfi mengingatkan penggunaan media sosial yang tidak bijak dapat berdampak buruk bagi generasi mendatang.
“Media sosial memang kalau salah digunakan akan betul-betul membahayakan bagi generasi ke depan,” pungkasnya.