KETIK, PEMALANG – Usaha warung jamu yang dijalani Endang (48), warga Desa Pagergunung, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, terus bertahan di tengah kondisi ekonomi yang membuat daya beli masyarakat menurun.
Sudah sekitar tiga tahun Endang membuka warung jamu di Pagergunung tepatnya di gang kenanga. Meski omzet penjualannya kini mengalami penurunan dibandingkan saat kondisi ramai, perempuan yang merupakan janda beranak satu itu tetap menjalani usahanya dengan penuh rasa syukur.
"Kalau sedang ramai bisa sampai Rp1 juta. Sekarang paling sekitar Rp500 ribu," ujar Endang, Selasa, 6 Oktober 2026.
Warung Jamu Mbak Endang mulai beroperasi sekitar pukul 17.00 WIB. Jam tutupnya menyesuaikan jumlah pelanggan. Ketika ramai, warung bisa buka hingga sekitar tengah malam. Namun jika pembeli sepi, Endang biasanya memilih tutup lebih awal sekitar pukul 21.00 WIB.
Sebelum menetap dan berjualan jamu di Pagergunung, Endang telah memiliki pengalaman menjalankan usaha serupa di Ibu Kota. Selama sekitar empat tahun, ia berjualan jamu bersama suaminya.
Baca Juga:
Dari PNS ke Pilkades, Widi Husodo Siap Mengabdi untuk Desa Bumirejo Pemalang dengan Tagline SEJAHTERAPengalaman tersebut menjadi bekal bagi Endang untuk melanjutkan usaha jamu secara mandiri di Pagergunung lantaran sang suami meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia juga bekerja pada siang hari di salah satu rumah makan Padang yang berada di Desa Pagergunung.
Jamu Pegal Linu Jadi Pilihan Pelanggan
Warung milik Endang menyediakan berbagai jenis jamu yang biasa dikonsumsi pelanggan. Ia menyebut sebagian besar pembelinya merupakan pria dewasa.
Dari sejumlah jenis jamu yang tersedia, jamu pegal linu menjadi salah satu yang paling banyak diminati pelanggan.
Baca Juga:
Silaturahmi Door to Door, Woe Condro Priyono Tampung Aspirasi Warga Pagergunung PemalangSelain itu, terdapat pula jamu yang permintaannya cenderung meningkat pada waktu tertentu.
"Kalau jamu kuat biasanya ramai di malam Jumat dan malam Senin," katanya.
Jamu telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia. Minuman herbal tersebut umumnya dibuat dari berbagai tanaman dan rempah yang diracik dengan cara tertentu.
Di tengah semakin beragamnya pilihan minuman modern, keberadaan warung jamu masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat. Bagi pelaku usaha seperti Endang, warung tersebut sekaligus menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Tiga tahun menjalankan usaha di Pagergunung membuat Endang terbiasa menghadapi perubahan jumlah pelanggan. Saat omzet menurun, ia memilih menyesuaikan waktu operasional dan tetap menjalankan usaha sesuai kondisi.
Meski pendapatan yang diperoleh saat ini tidak sebesar ketika warung sedang ramai, Endang tetap bersyukur dan berusaha mempertahankan usaha jamunya.(*)