KETIK, SLEMAN – Belajar menjadi pribadi yang lebih baik bisa datang dari mana saja. Termasuk dari perjalanan hidup seniman asal Yogyakarta, Gepeng Kesana Kesini. Nama panggung atau sapaan dari Dody Srianto, seorang figur publik, pemandu acara (MC), dan seniman asal Yogyakarta.

Setelah melewati perjalanan panjang di masa mudanya yang penuh warna, dinamika, dan sempat erat bergaul dengan kerasnya dunia hitam. Gepeng kini makin mantap meniti jalan kebaikan.

Perubahan arah hidupnya menjadi bukti nyata. Bahwa setiap insan selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, tanpa peduli seberapa kelam latar belakang yang pernah dilaluinya di masa lalu.

Di panggung hiburan Jogja dan wilayah sekitarnya, nama Gepeng sudah sangat familiar sebagai pembawa acara atau MC acara musik yang selalu berhasil menghidupkan suasana. Kelincahan serta humor khasnya di atas panggung kerap membuat berbagai gelaran musik berlangsung sangat meriah dan komunikatif. Namun di luar urusan panggung dan pendar lampu sorot hiburan malam, ia memiliki kegemaran lama yang begitu melekat dalam kesehariannya, yakni hobi touring mengendarai sepeda motor antik kesayangannya.

Perjalanan melintasi berbagai daerah dengan kendaraan tua tentu penuh dengan tantangan fisik maupun mental, mulai dari risiko kabel kopling putus hingga masalah mesin yang mendadak mogok di tengah jalan. Namun bagi Gepeng, setiap kendala teknis di jalanan justru menjadi seni, pengalaman berharga, serta kenikmatan tersendiri dari hobi otomotif klasiknya.

Baca Juga:
Momen Hari Jadi ke-78 Polwan, Polres Batu Bagikan Paket Sembako dan Makanan untuk Ojol

Ketertarikannya pada kendaraan antik bukan sekadar gaya hidup atau ajang tampil di lanskap komunitas. Melainkan bentuk ketelatenan dan kesabaran tinggi dalam merawat benda berharga. Mengenai cara merawat dan memahami karakter motor tuanya tersebut, Gepeng sempat membagikan pengalamannya secara langsung.

"Kalau dipakai setiap hari, kita akan tahu sendiri apa masalah motor tua itu," ungkap Gepeng, saat ketemu di Kopi Rumah Teduh, Seyegan, Sleman pekan lalu.

Langkah Hijrah dan Dedikasi Tanpa Henti

Mendekati usia setengah abad, fokus jalan hidup Gepeng kini kian bergeser pada kemaslahatan, kedamaian, dan perbaikan diri secara menyeluruh. Pengalaman masa lalu yang pekat dengan dinamika dunia hitam ia jadikan cermin besar untuk terus melangkah semakin dekat pada kebaikan dan ketenangan spiritual.

Baca Juga:
Spirit Sesama Insan BRIlian, BRI Kotapinang Jalan Santai dan Bertukar Santapan

Di rumah, ia juga tengah tekun dan sabar membimbing istrinya, seorang mualaf untuk bersama-sama belajar. Serta mendalami ilmu agama demi membangun fondasi rumah tangga yang lebih harmonis.

Sambil mengangkat cangkir kopinya, Gepeng Kesana Kesini berbagi senyum hangat dan semangat baru. (Foto: Fajar R/Ketik.com)

"Sik penting kini untuk kebaikan dan harus bermanfaat bagi masyarakat," tegas penggemar ketan ini dengan penuh keyakinan.

Keikhlasan hidup dan keteguhan niatnya dibuktikan secara nyata pada Februari 2026 lalu. Demi mewujudkan niat suci beribadah umroh ke Tanah Suci, Gepeng rela melepas motor antik DKW Union kesayangannya. Kuda besi klasik yang penuh kenangan dan kerap menemaninya menjelajah jarak jauh ke berbagai pelosok jalan raya itu ia jual demi membiayai perjalanannya ke Baitullah.

Gepeng mengaku enggan berutang demi menunaikan ibadah umroh agar tidak terbebani beban pikiran seusai pulang dari Tanah Suci. Ia pun memilih menjual motor antik kesayangannya untuk menutup kekurangan biaya. Sehingga hatinya terasa jauh lebih tenang, ikhlas, dan fokus beribadah tanpa terbayang kewajiban finansial. Panggilan ibadah dan niat mendekatkan diri kepada Sang Pencipta terasa jauh melampaui keterikatan emosional pada benda kesayangan.

Selain itu semangat berbaginya kepada sesama pun terus berevolusi seiring berjalannya waktu. Sudah tujuh tahun terakhir ini ia bersama komunitasnya konsisten melaksanakan aksi sosial Jumat Berkah tanpa henti.

Rutin membagikan makanan di masjid-masjid sekitar, kini Gepeng melempar gagasan segar yang memadukan hobi otomotifnya dengan aksi kemanusiaan. Dirinya merencanakan program "Touring Jumat Berkah". Konsepnya berkendara melintasi pelosok daerah sambil membawa paket makan siang untuk dibagikan langsung kepada jemaah masjid di wilayah pinggiran kota yang jarang tersentuh bantuan.

Perubahan besar dalam hidupnya ini juga berakar kuat dari rasa hormat serta kasih sayang yang mendalam kepada sang ibu. Meski kini sang ibu telah tiada dan mendahuluinya ke pangkuan Sang Pencipta.

Gepeng mengaku kenangan dan nasihat almarhumah tetap hidup di dalam dadanya. Setiap aksi kebaikan, doa, dan kepedulian sosial yang konsisten ia jalankan saat ini menjadi ikhtiar tulus Gepeng untuk mewujudkan impian serta cita-cita luhur almarhumah ibunya semasa hidup.

Kisahnya menjadi pelajaran berharga bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar menjadi baik. Masa lalu yang kelam senantiasa bisa bertransformasi menjadi jalan hidup yang penuh keberkahan. Serta manfaat nyata bagi masyarakat luas. (*)