KETIK, PACITAN – Fenomena bediding mulai merambah sejumlah wilayah Kabupaten dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Pacitan, Yagus Triarso, mengatakan terdapat dua kecamatan yang menjadi wilayah paling dingin akibat fenomena bediding tersebut.

“Untuk wilayah paling dingin berada di dataran tinggi Kabupaten Pacitan seperti Kecamatan Nawangan dan Bandar,” ujar Yagus kepada Ketik.com, Selasa, 2 Juni 2026.

Kondisi geografis berkisar 900-an meter di atas permukaan laut (mdpl) membuat Nawangan dan Bandar mengalami penurunan suhu yang lebih ekstrem dibanding kecamatan lain.

Terutama saat malam sampai dini hari.

Baca Juga:
Pembebasan Lahan Tuntas, Pelurusan Trase Irung Petruk Jalan Pacitan-Ponorogo Masuk Tahap DED

"Suhu minimum bisa turun hingga kisaran 15 sampai 18 derajat Celsius," ungkapnya.

Sementara itu, Yagus menyebut, untuk suhu minimum harian secara umum di Kota 1001 Goa berada pada kisaran 20 hingga 23 derajat Celsius. 

Ia memaparkan, bediding merupakan fenomena alam yang lazim terjadi saat musim kemarau. 

Kondisi tersebut dipengaruhi angin monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia.

Baca Juga:
Mengenal Fenomena Bediding, Saat Siang Terik tapi Malam Terasa Menggigil

Selain itu, minimnya tutupan awan pada malam hari menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer. 

Akibatnya, suhu udara turun cukup drastis menjelang dini hari hingga pagi hari.

“Hawa dingin bahkan terasa lebih ekstrem di wilayah dataran tinggi dan pegunungan seperti Kecamatan Nawangan dan Bandar,” katanya.

Berdasarkan informasi BMKG, fenomena bediding diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau, mulai Juni hingga September 2026. 

Fenomena ini menjadi salah satu ciri khas musim kemarau yang hampir setiap tahun dirasakan masyarakat di berbagai wilayah Jawa Timur, termasuk Pacitan.

Meski tergolong fenomena alam yang normal, masyarakat tetap diminta mewaspadai dampak suhu dingin, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit tertentu.

BPBD Pacitan mengimbau warga menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari, menjaga pola makan, serta memperbanyak konsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

Selain kesehatan manusia, suhu dingin juga berpotensi memengaruhi sektor peternakan. 

Perubahan suhu yang cukup drastis dapat menyebabkan stres pada ternak, menurunkan produktivitas, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tidak diantisipasi dengan baik.

Meski demikian, hingga saat ini BPBD Pacitan belum menerima laporan adanya dampak signifikan akibat fenomena bediding, baik terhadap masyarakat maupun sektor peternakan.

“Belum ada laporan masuk ke BPBD terkait dampak bediding,” tegas Yagus.

Masyarakat di wilayah dataran rendah maupun pegunungan diimbau tetap menjaga kesehatan dan mengantisipasi penurunan suhu yang diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan.(*)