KETIK, BOGOR – Sebuah video yang memperlihatkan dugaan parasit keluar dari potongan sashimi di sebuah restoran sushi di Hong Kong sempat menghebohkan media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang pelanggan mengaku melihat cacing berbentuk memanjang merayap keluar dari potongan ikan kinmedai saat hendak mengabadikan foto makanannya sebelum disantap.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepada otoritas keamanan pangan setempat dan memicu kembali perhatian publik terhadap risiko kesehatan dari konsumsi ikan mentah.

Menanggapi kejadian tersebut, dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Karina Rahmadia Ekawidyani, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat mengonsumsi makanan berbahan ikan mentah. Ia menyarankan konsumen untuk memilih restoran yang menerapkan standar keamanan pangan dengan baik guna meminimalkan risiko paparan parasit.

Menurut dr Karina, ikan mentah dapat menjadi media pembawa berbagai jenis parasit yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia. Beberapa di antaranya meliputi cacing pita (Diphyllobothrium spp), nematoda, trematoda, hingga protozoa.

Ia menjelaskan, infeksi akibat parasit tersebut dapat memicu gangguan saluran pencernaan dalam rentang waktu yang bervariasi, mulai satu hingga dua jam setelah konsumsi hingga dua minggu kemudian. Gejala yang sering muncul meliputi mual, muntah, diare yang terkadang disertai darah, nyeri perut, pusing, demam, serta menggigil.

Baca Juga:
Anak Usia 5,5 Tahun Masuk SD? Pakar: Lebih Penting Kesiapan daripada Kecepatan

“Dalam kasus kronis, infeksi ini dapat menyebabkan anemia, penurunan berat badan, defisiensi vitamin B12, serta peradangan pada saluran empedu (kolangitis) atau pankreas (pankreatitis),” urainya, seperti dikutip dari laman resmi IPB University, Selasa, 16 Juni 2026. 

Lebih lanjut, dr Karina menegaskan bahwa risiko infeksi parasit sebenarnya dapat ditekan apabila proses pengolahan dan penyimpanan ikan dilakukan sesuai standar keamanan pangan yang berlaku.

Ia menyebut terdapat sejumlah metode yang efektif untuk membunuh larva parasit pada ikan sebelum dikonsumsi. Salah satunya dengan memasak ikan pada suhu minimal 55 derajat Celsius selama lima menit. Selain itu, pembekuan ekstrem juga dapat digunakan, yakni menyimpan ikan pada suhu minus 20 derajat Celsius selama tujuh hari atau minus 35 derajat Celsius selama 15 jam untuk daging ikan dengan ketebalan kurang dari 15 sentimeter.

Menurutnya, restoran memegang peranan penting dalam memastikan keamanan produk yang disajikan kepada konsumen. Pengelola tempat makan harus menjamin ikan disimpan pada suhu yang tepat serta melalui proses penanganan yang sesuai standar.

Baca Juga:
Kenali Tanda Hewan Kurban Stres, Ini Empat Tips Penanganan dari Ahli IPB

Di sisi lain, konsumen juga perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama kelompok yang lebih rentan terhadap infeksi seperti anak-anak dan lanjut usia. Untuk kelompok tersebut, dr Karina menyarankan memilih menu sushi yang menggunakan bahan ikan matang dibandingkan ikan mentah.

Selain pengawasan pada tingkat individu dan pelaku usaha kuliner, ia menilai upaya pencegahan juga harus dilakukan melalui perbaikan sistem sanitasi lingkungan. Pengelolaan limbah feses menggunakan septic tank yang memenuhi standar dinilai sangat penting untuk memutus siklus hidup parasit sehingga telur parasit tidak mencemari perairan dan kembali menginfeksi rantai makanan. (*)