Cara Mengonsumsi Telur Asin agar Tetap Sehat, Ini Saran Pakar

30 Juli 2026 19:00 30 Jul 2026 19:00

Thumbnail Cara Mengonsumsi Telur Asin agar Tetap Sehat, Ini Saran Pakar

Ilustrasi telur asin. (Pixabay)

KETIK, SURABAYA – Telur asin tetap menjadi salah satu lauk favorit masyarakat Indonesia berkat cita rasanya yang gurih dan masa simpannya yang lebih lama dibandingkan telur segar. Namun, di balik kepraktisannya, makanan ini mengandung natrium cukup tinggi sehingga perlu dikonsumsi secara bijak, terutama oleh penderita hipertensi dan penyakit jantung.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny, mengingatkan bahwa telur asin bukan makanan yang harus dihindari sepenuhnya. Menurutnya, yang terpenting adalah mengatur frekuensi dan porsi konsumsi agar manfaatnya tetap bisa dinikmati tanpa meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

"Pengasinan meningkatkan natrium dan menurunkan protein, jadi konsumsi yang moderat penting. Jadikan telur asin sebagai variasi makanan, bukan makanan utama setiap hari, demi kesehatan. Padukan dengan makanan sehat lainnya dan hindari makan berlebihan agar dapat menikmati rasanya dengan aman," ujarnya.

Prof Ronny menjelaskan, proses pengasinan memang mampu memperpanjang masa simpan telur hingga sekitar satu sampai dua bulan. Namun, garam yang meresap melalui pori-pori cangkang menyebabkan kandungan natrium meningkat sehingga konsumsinya perlu dibatasi.

Ia menyarankan proses pengasinan menggunakan kadar garam sedang, sekitar 100–150 gram per liter, serta membatasi waktu pengasinan tidak lebih dari 10 hari. Cara tersebut dinilai mampu menekan penurunan kualitas gizi sekaligus menjaga cita rasa telur asin.

Selain itu, penggunaan oven dengan suhu sekitar 90 derajat Celsius juga dapat membantu mempertahankan kadar air dan kualitas rasa. Penambahan rempah-rempah seperti daun teh atau jahe bahkan dapat memperkaya aroma sekaligus membantu memperpanjang daya simpan telur asin secara alami.

Bagi masyarakat umum, telur asin tetap dapat dikonsumsi sebagai bagian dari menu bergizi seimbang. Namun, penderita hipertensi, penyakit jantung, maupun mereka yang sedang membatasi asupan natrium disarankan lebih berhati-hati dan tidak menjadikannya sebagai lauk harian.

Mengombinasikan telur asin dengan sayuran, buah, serta sumber protein lain yang rendah natrium juga menjadi pilihan yang lebih baik untuk menjaga keseimbangan gizi.

Meski demikian, Prof Ronny menegaskan bahwa proses pengasinan tidak hanya memengaruhi kadar garam, tetapi juga mengubah struktur protein dan sebagian kandungan gizinya. Karena itu, memahami perubahan tersebut penting agar masyarakat dapat mengonsumsi telur asin secara lebih bijaksana.

Di sisi lain, telur asin tetap memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi di Indonesia. Kepraktisan, cita rasa khas, hingga berbagai inovasi olahan membuat pangan tradisional ini masih memiliki prospek besar sebagai produk kuliner unggulan, selama proses pengolahan dan konsumsinya dilakukan secara tepat. (*)

Tombol Google News

Tags:

Telur Asin Konsumsi Telur Asin Natrium Telur Asin Gizi Telur Asin Hipertensi penyakit jantung IPB University