Kandungan Gizinya Berkurang, Tapi Telur Asin Sangat Digemari! Ini Alasan di Balik Popularitasnya di Indonesia

30 Juli 2026 18:00 30 Jul 2026 18:00

Thumbnail Kandungan Gizinya Berkurang, Tapi  Telur Asin Sangat Digemari! Ini Alasan di Balik Popularitasnya di Indonesia

Ilustrasi telur asin. (Pixabay)

KETIK, BOGOR – Telur asin telah lama menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia, terutama di Jawa Tengah. Meski kini banyak pilihan lauk praktis tersedia di pasaran, makanan berbahan dasar telur bebek ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, menjelaskan bahwa popularitas telur asin tidak hanya dipengaruhi cita rasanya yang gurih, tetapi juga nilai budaya, kepraktisan, serta peluang ekonominya.

Menurutnya, telur asin bukan sekadar lauk pendamping, melainkan telah berkembang menjadi identitas kuliner di sejumlah daerah.

“Telur asin memang sangat dihargai di Indonesia karena harganya biasanya lebih tinggi daripada telur segar. Di berbagai daerah seperti Brebes, telur asin bahkan menjadi bagian penting dari budaya kuliner dan sumber penghasilan yang bernilai bagi banyak orang,” jelas Prof Ronny.

Selain memiliki rasa khas, telur asin juga menawarkan keunggulan berupa daya simpan yang jauh lebih lama dibandingkan telur segar. Proses pengasinan membuat telur dapat bertahan sekitar satu hingga dua bulan sehingga lebih mudah didistribusikan maupun dijadikan oleh-oleh.

Seiring perkembangan industri kuliner, olahan telur asin pun semakin beragam. Tidak hanya disajikan dalam bentuk rebus, telur asin kini banyak diolah menjadi telur asin panggang, telur asin asap, hingga dijadikan saus dan topping pada berbagai menu modern.

Prof Ronny menilai inovasi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjaga permintaan telur asin tetap tinggi. Di sisi lain, komoditas ini juga memberikan nilai tambah ekonomi karena harga jualnya cenderung lebih tinggi dibandingkan telur biasa.

Meski demikian, masyarakat tetap perlu memahami bahwa proses pengasinan tidak hanya menghasilkan cita rasa khas, tetapi juga membawa perubahan terhadap kandungan gizinya. Garam yang meresap ke dalam telur dapat meningkatkan kadar natrium sekaligus memengaruhi struktur protein sehingga konsumsi telur asin sebaiknya tetap dilakukan secara proporsional.

Bagi masyarakat yang ingin tetap menikmati telur asin, pemahaman mengenai kandungan gizi dan cara pengolahannya menjadi bagian penting dalam menerapkan pola makan yang lebih sehat.

Sementara itu, kajian lain dari Prof Ronny menjelaskan bahwa proses pengasinan dapat menurunkan kandungan protein telur dan meningkatkan kadar natrium. Informasi tersebut penting diketahui agar masyarakat dapat mengonsumsi telur asin secara lebih bijak sesuai kondisi kesehatannya.

Prof Ronny juga membagikan sejumlah cara untuk meminimalkan penurunan nilai gizi selama proses pembuatan telur asin, mulai dari mengatur kadar garam, membatasi lama pengasinan, hingga memilih teknik pematangan yang tepat agar kualitas gizinya tetap terjaga. (*)

Tombol Google News

Tags:

Telur Asin Gizi Telur Asin Protein Telur Natrium Telur Asin IPB University Kesehatan Pangan Telur Sehat