KETIK, YOGYAKARTA – Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit.
Perhatian terhadap penyakit ini meningkat setelah muncul wabah hantavirus strain Andes pada kapal pesiar yang berlayar dari Argentina menuju Eropa.
Dokter spesialis penyakit dalam RSUP Sardjito, Alindina Anjani, menjelaskan hantavirus merupakan virus RNA yang umumnya menular melalui urin, feses, air liur, maupun aerosol dari ekskresi tikus yang terinfeksi.
“Kalau tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan ke manusia seperti ini. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus,” jelasnya, Minggu, 17 Mei 2026.
Menurut Alindina, kelompok yang rentan terpapar hantavirus meliputi pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga masyarakat yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah.
Baca Juga:
Waspada Hantavirus, BBKK Surabaya Pantau Pelabuhan Hingga BandaraRisiko penularan juga meningkat pada lingkungan dengan sanitasi buruk atau wilayah yang mengalami infestasi tikus.
Ia menjelaskan terdapat dua sindrom utama akibat infeksi hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
HPS lebih banyak ditemukan di Amerika Utara dan Selatan, sedangkan HFRS dominan terjadi di Asia dan Eropa.
“Yang terjadi di kapal pesiar itu adalah HPS dan yang populer di Asia adalah HFRS. Karena keduanya berbeda, maka reservoir-nya juga berbeda, jenis tikusnya juga berbeda, tetapi cara penularannya hampir sama,” ujarnya.
Baca Juga:
Kemenkes Sebut Hantavirus Sudah Lama Ada di Indonesia, Ini Potensi AncamannyaAlindina menjelaskan HPS menyerang paru-paru dan sistem kardiovaskular sehingga dapat memicu sesak napas berat, hipoksia, hingga gagal napas dan syok.
Gejala awal penyakit umumnya meliputi demam, nyeri otot, mual, muntah, hingga gangguan pernapasan progresif.
Sementara pada HFRS, organ yang paling terdampak adalah ginjal dan sistem pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan demam tinggi, hipotensi, oliguria, proteinuria, hematuria, hingga perdarahan.
Menurut Alindina, tingkat kematian HPS tergolong tinggi dan dapat mencapai 30 hingga 40 persen akibat gagal napas dan syok.
Ia juga mengingatkan bahwa gejala HFRS sering menyerupai penyakit tropis lain seperti demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, hingga sepsis sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan diagnosis.
Alindina mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta segera melapor jika menemukan potensi penyebaran penyakit yang berkaitan dengan hewan pengerat. (*)