KETIK, JAKARTA – Telur sering dikaitkan dengan berbagai anggapan mengenai kesehatan, salah satunya dianggap dapat menyebabkan bisul jika dikonsumsi terlalu banyak. Padahal, bagi orang yang tidak memiliki alergi, telur tetap dapat menjadi salah satu sumber protein dalam pola makan sehari-hari.
Dr. dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, M.Gizi, Ahli Gizi IPB University, menjelaskan bahwa telur mengandung sekitar 6–7 gram protein dalam setiap butirnya.
Protein dibutuhkan tubuh untuk berbagai fungsi, sehingga asupannya perlu dipenuhi melalui pola makan yang beragam. Kebutuhan protein orang dewasa secara umum berada di kisaran 0,8–1 gram per kilogram berat badan per hari.
Karena itu, pemenuhan kebutuhan protein tidak harus bergantung pada telur saja. Sumber protein dapat berasal dari berbagai pangan hewani maupun nabati agar pola makan tetap beragam.
Selain protein, telur juga mengandung lemak. Setiap butir telur mengandung sekitar 5–5,3 gram lemak, termasuk sekitar 1,5–1,6 gram lemak jenuh.
Baca Juga:
Makan Banyak Telur Bikin Bisul? Ini Penjelasan Ahli GiziAsupan lemak jenuh tetap perlu diperhatikan sebagai bagian dari keseluruhan pola makan. Batas konsumsi lemak jenuh yang disebutkan dalam penjelasan tersebut sekitar 7 persen dari total kebutuhan energi atau sekitar 15 gram per hari untuk pola makan 2.000 kilokalori.
Artinya, pembahasan mengenai telur tidak cukup hanya melihat satu jenis zat gizi. Jumlah telur yang dikonsumsi perlu dilihat bersama sumber makanan lain serta keseluruhan asupan harian.
Anggapan bahwa telur secara langsung menyebabkan bisul juga perlu diluruskan. Bisul merupakan infeksi kulit yang lebih berkaitan dengan bakteri, kondisi kulit, kebersihan diri, dan sistem kekebalan tubuh.
“Jadi, telur bukan penyebab langsung bisul. Kebersihan diri, kondisi kulit, dan sistem kekebalan tubuh menjadi faktor yang lebih berkaitan dengan munculnya infeksi tersebut,” tandas Dr. Karina.
Baca Juga:
Benarkah Telur Menyebabkan Bisul? Kenali Bedanya Alergi dan Infeksi KulitSementara itu, orang yang mengalami reaksi kulit setelah mengonsumsi telur perlu membedakan kemungkinan alergi dengan infeksi. Ruam dan gatal akibat alergi memiliki karakteristik berbeda dari benjolan nyeri yang muncul pada bisul. (*)