KETIK, HALMAHERA SELATAN – Tuduhan soal aliran uang kepada Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Halmahera Selatan, Sadam Hadi, mendapat bantahan langsung dari dua nama yang dikaitkan dalam narasi tersebut. Abdurrahman Hamzah dan Hi. Malang sama-sama menegaskan tidak pernah menyerahkan uang kepada Sadam sebagaimana informasi yang beredar melalui MapsNews.com berbasis Blogger Google.
Abdurrahman membantah pernah memberikan Rp5 juta kepada Sadam. Ia juga mengaku tidak mengetahui bagaimana namanya kemudian muncul dan dikaitkan dengan tudingan tersebut.
Lebih jauh, Abdurrahman menyebut dirinya sama sekali tidak pernah dimintai penjelasan sebelum informasi itu dilempar ke ruang publik.
“Saya tidak pernah memberikan uang Rp5 juta kepada Sadam. Soal pemberitaan itu saya juga tidak tahu-menahu,” kata Abdurrahman saat dikonfirmasi Kamis 20 Agustus 2026.
Abdurrahman kemudian mengungkap adanya komunikasi melalui WhatsApp dari nomor yang tidak dikenalnya. Arah percakapan itu, menurut dia, menyentuh materi yang sebelumnya hanya beredar dalam ruang komunikasi pribadi bersama sejumlah teman.
Baca Juga:
Bupati Bassam Buka Panggung Bola Muda Halmahera SelatanBagi Abdurrahman, percakapan privat tidak bisa begitu saja dipungut, dipotong dari konteksnya, lalu diseret menjadi konsumsi publik tanpa meminta penjelasan langsung kepada orang yang namanya berkaitan dengan materi tersebut.
“Ada nomor yang saya tidak kenal melakukan percakapan WhatsApp dan pembicaraannya mengarah ke hal-hal yang sebelumnya ada di grup pribadi sesama teman. Kalau kemudian percakapan pribadi itu mau dijadikan berita, seharusnya konfirmasi dulu kepada saya. Sampai berita itu terbit, saya tidak pernah dikonfirmasi. Karena itu saya menyimpulkan apa yang diberitakan tersebut tidak benar dan menyesatkan,” ujarnya.
Bantahan tak kalah tegas datang dari Hi. Malang. Ia menyatakan tidak pernah memberikan uang Rp30 juta kepada Sadam.
Bahkan, hubungan personal yang seolah dibangun dalam tudingan itu dibantah dari titik paling dasar. Hi. Malang mengaku tidak mengenal Sadam dan belum pernah sekalipun bertemu dengannya.
Baca Juga:
Polres Halmahera Selatan Kobarkan Semangat Hari Juang“Saya tidak kenal Sadam. Bertemu dengannya juga belum pernah. Jadi bagaimana mungkin saya memberikan uang. Satu rupiah pun saya tidak pernah kasih kepada Sadam,” tegas Hi. Malang.
Hi. Malang mengatakan kesehariannya belakangan lebih banyak dihabiskan untuk mengurus kebun. Ia juga mengaku tidak mengetahui dari mana asal keterangan yang kemudian dilekatkan pada namanya.
Dua bantahan itu kemudian mempertegas sikap Sadam Hadi. Ia menolak seluruh tudingan yang menyebut dirinya meminta maupun menerima uang dengan membawa kepentingan PWI Halmahera Selatan.
Sadam menilai informasi tersebut tidak memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan dan telah membentuk gambaran keliru terhadap dirinya di hadapan publik.
“Tudingan itu tidak benar. Saya tegaskan bahwa itu fitnah. Kalau memang produk jurnalistik, mestinya seorang wartawan bekerja dengan jelas, datang melakukan konfirmasi dan menguji informasi. Bukan membuat tuduhan kemudian menyebarkannya kepada publik,” kata Sadam.
Menurut Sadam, persoalannya bukan semata isi tuduhan, tetapi proses yang melahirkan informasi tersebut. Kerja jurnalistik, kata dia, menuntut setiap keterangan diuji, dipertemukan dengan pihak yang dituduh, lalu disajikan secara bertanggung jawab.
Penelusuran terhadap laman yang memuat tudingan itu menunjukkan MapsNews.com menggunakan platform Blogger Google. Pada artikel tersebut, nama personal wartawan yang menulis tidak dicantumkan dan hanya menggunakan identitas “Redaksi NEWS”.
Situs itu memang memiliki halaman redaksi yang memuat badan usaha, pimpinan redaksi, editor dan sejumlah nama jurnalis. Namun siapa wartawan yang secara khusus menghimpun keterangan, melakukan wawancara hingga menyusun tulisan mengenai Sadam tidak terlihat pada artikel bersangkutan.
Bagi Sadam, platform yang digunakan bukan inti masalah. Yang menentukan bobot sebuah produk jurnalistik adalah kejelasan sumber, proses pengujian informasi, ruang klarifikasi bagi pihak yang dituduh dan keberanian mempertanggungjawabkan setiap fakta yang disebarkan.
Ia menilai tuduhan serius yang berpotensi merusak nama seseorang maupun organisasi tidak cukup dibangun dari cerita sepihak.
“Bagi saya itu bukan pemberitaan yang kredibel. Isinya membawa tuduhan serius, tetapi saya sendiri tidak pernah dimintai klarifikasi. Orang-orang yang namanya dibawa dalam berita itu sekarang juga membantah. Kalau caranya seperti itu, yang lahir bukan informasi yang sehat, tetapi kabar yang menyesatkan masyarakat,” katanya.
Sadam menyebut pola informasi yang menyerang dirinya semacam itu bukan pertama kali terjadi. Ia mengaku telah beberapa kali menemukan kejadian yang menurutnya memiliki karakter hampir serupa.
Meski kecurigaannya mulai mengarah pada pola tertentu, Sadam memilih tidak terburu-buru menyebut nama. Ia ingin setiap dugaan dibuka melalui bukti, bukan dibalas dengan tuduhan yang sama.
“Kejadian seperti ini sudah berulang. Saya menduga polanya mengarah pada orang yang sama, tetapi saya tidak mau mendahului bukti. Bisa saja karena iri atau alasan lain, saya tidak tahu. Yang jelas, jejaknya semakin terbuka dan saya yakin tidak lama lagi akan diketahui siapa yang berada di baliknya,” ujar Sadam.
Sadam menegaskan penelusuran yang dilakukan bukan pintu untuk membangun fitnah tandingan. Menurutnya, identitas seseorang baru pantas disebut setelah fakta dan bukti mampu berbicara secara terang.
Ia juga menegaskan tidak alergi terhadap kritik ataupun pemberitaan mengenai dirinya sebagai pengurus organisasi profesi. Namun kritik, menurut dia, kehilangan makna ketika fakta tidak diuji dan orang yang dituduh bahkan tidak diberi ruang menjawab.
Bagi Sadam, kebebasan pers justru memperoleh kehormatannya ketika dijalankan bersama tanggung jawab, ketelitian dan keberanian memeriksa kebenaran dari semua sisi.
“Silakan kritik saya, silakan beritakan saya, tetapi gunakan fakta. Jangan nama orang dibawa, lalu keterangannya dibuat seakan-akan benar tanpa proses yang dapat dipertanggungjawabkan. Jurnalisme harus mencari kebenaran, bukan menciptakan cerita untuk menghukum seseorang,” pungkas Sadam.
Persoalan itu dipastikan tidak berhenti pada bantahan di ruang publik. Sadam menyatakan akan membawa masalah tersebut ke kepolisian agar jejak pihak yang diduga berada di balik penyebaran informasi itu diuji melalui proses hukum. Abdurrahman Hamzah dan Hi. Malang juga menyampaikan sikap serupa dan menyatakan siap membuat laporan terkait penggunaan nama serta keterangan yang mereka bantah.
Sadam mengatakan jejak yang muncul kini semakin mempersempit ruang bagi pihak yang diduga berada di balik rangkaian tersebut. Ia memilih tidak membuka nama sebelum aparat bekerja, tetapi memberi peringatan agar pihak yang merasa terlibat tidak menganggap persoalan itu akan berlalu begitu saja.
“Sejengkal lagi pelakunya ketahuan. Kalau masih merasa aman di balik fitnah itu, sebaiknya segera minta maaf. Setelah ini biar polisi yang membuka siapa sebenarnya yang bermain,” tegas Sadam.