KETIK, NGANJUK – Mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Program Studi Agribisnis PSDKU Universitas Brawijaya Kediri mengikuti kegiatan perbanyakan Agens Pengendali Hayati (APH) di UPTD Laboratorium Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Rabu, 10 Juni 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) secara ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida kimia. Dalam kegiatan itu, mahasiswa melakukan perbanyakan Beauveria bassiana, jamur yang dimanfaatkan sebagai agen pengendali hayati untuk mengendalikan berbagai jenis hama tanaman.
Pemanfaatan APH dinilai menjadi salah satu solusi yang terus dikembangkan karena lebih aman bagi lingkungan dan mampu mendukung sistem pertanian berkelanjutan. Proses perbanyakan APH dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengolahan media cair, sterilisasi, ozonisasi, hingga inokulasi.
Media cair dibuat menggunakan air leri atau air cucian beras yang dicampur gula pasir, kemudian disterilisasi sebelum digunakan sebagai media pertumbuhan Beauveria bassiana.
Setelah melalui proses ozonisasi, mikroorganisme diinokulasikan dan didiamkan selama kurang lebih dua minggu hingga siap digunakan petani di lahan pertanian. Pendamping kegiatan di UPTD Laboratorium Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Jatmikan, menjelaskan bahwa keberhasilan perbanyakan APH dapat diketahui melalui aroma yang dihasilkan.
Baca Juga:
DKPP Jombang Gelar Bimtek Olahan Ikan, Mahasiswa MBKM UB Turut Ambil Peran“APH yang berhasil biasanya memiliki aroma kecut seperti tape yang menandakan mikroorganisme berkembang dengan baik. Sedangkan aroma basi menunjukkan adanya kontaminasi atau proses perbanyakan yang kurang optimal,” ujarnya.
Menurutnya, APH yang kurang optimal masih dapat dimanfaatkan pada tanaman, namun efektivitasnya tidak sebaik APH yang berhasil diperbanyak.
Produk APH yang telah jadi juga dapat disimpan hingga tiga bulan sebelum diaplikasikan di lahan pertanian. Beauveria bassiana diketahui memiliki peran penting dalam mengendalikan berbagai jenis hama, seperti kutu daun, wereng, penggerek batang, penggerek buah, ulat grayak, tungau, hingga lalat buah.
Baca Juga:
Survei Mahasiswa MBKM UB Ungkap Keluhan Pedagang Ikan Soal Lonjakan Harga Plastik di MadiunPemanfaatan jamur tersebut diharapkan mampu membantu petani menjaga produktivitas tanaman sekaligus menekan penggunaan pestisida kimia secara berlebihan.
Keterlibatan mahasiswa MBKM PSDKU UB Kediri dalam kegiatan ini menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan sektor pertanian yang berkelanjutan.
Selain memperoleh pengalaman praktik di laboratorium, mahasiswa juga mendapatkan pemahaman mengenai penerapan teknologi hayati yang memberikan manfaat nyata bagi petani dan lingkungan. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mewujudkan sistem pertanian yang lebih sehat, efisien, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan agen hayati untuk menjaga kesuburan tanah, meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan OPT, serta mendukung produktivitas pertanian dalam jangka panjang.
Selain itu, kegiatan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas pertanian dan SDG 15 (Life on Land) melalui penerapan teknologi hayati yang ramah lingkungan.
Adapun mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan ini yakni Bramastyo Arya Putra, Yuni Aninda Rizqi, dan Adilla Okta Auli dari Program Studi Agribisnis PSDKU Universitas Brawijaya Kediri. (*)