KETIK, TULUNGAGUNG – Mahasiswa KKN PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri Kelompok 18 menghadirkan solusi pengelolaan sampah organik rumah tangga melalui program BOKASHI (Bahan Organik yang Difermentasi) di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung. Program yang didampingi Dosen Pembimbing Lapang Vika Maulidiyah, S.Pi., M.Si. ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengolah limbah organik menjadi pupuk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomis.
Permasalahan sampah organik masih menjadi tantangan yang banyak ditemui di lingkungan permukiman. Melalui program tersebut, mahasiswa KKN mengajak masyarakat memanfaatkan sisa sayuran, limbah dapur, hingga kotoran hewan sebagai bahan baku pupuk kompos dan pupuk organik cair melalui proses fermentasi. Inisiatif ini diharapkan mampu mengurangi volume sampah sekaligus mendukung kebutuhan pertanian dan tanaman pekarangan.
Program BOKASHI juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production). Lewat pengelolaan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik, masyarakat didorong menerapkan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan serta memanfaatkan kembali limbah sebagai sumber daya yang memiliki nilai guna.
Pelaksanaan pelatihan berlangsung pada 9–10 Juli 2026 dan menjangkau seluruh dusun di Desa Ngranti. Kegiatan diawali di Dusun Ngrengit, Dusun Blimbing, dan Dusun Ngranti, kemudian dilanjutkan ke Dusun Miren 2 serta Dusun Miren 1. Warga, khususnya ibu rumah tangga, mengikuti setiap sesi dengan antusias dan berpartisipasi aktif selama pelatihan berlangsung.
Tim mahasiswa membuka kegiatan dengan sambutan, kemudian mengadakan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal peserta mengenai pengelolaan sampah organik. Selanjutnya, peserta memperoleh materi tentang konsep dasar BOKASHI, manfaatnya bagi lingkungan dan pertanian, hingga tahapan pembuatan pupuk, mulai dari proses pemilahan limbah organik sampai fermentasi yang menghasilkan kompos dan pupuk organik cair.
Selain memberikan materi, mahasiswa KKN juga mengajak peserta mempraktikkan langsung proses pembuatan BOKASHI. Peserta mempelajari jenis bahan yang digunakan, teknik pencampuran, hingga cara merawat hasil fermentasi agar menghasilkan pupuk berkualitas. Di akhir kegiatan, tim kembali memberikan post-test sebagai bentuk evaluasi untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik serta peluang mengubah limbah rumah tangga menjadi produk yang lebih bernilai dan bermanfaat.
"Menurut saya, program pembuatan pupuk bokashi ini sangat bermanfaat karena tidak hanya membantu mengurangi sampah organik rumah tangga di Desa Ngranti, tetapi juga dapat mengurangi pengeluaran masyarakat untuk membeli pupuk. Pengolahan limbah organik yang ada di sekitar rumah menjadikan limbah tersebut lebih bernilai dan hasilnya bisa digunakan kembali untuk kebutuhan pertanian maupun tanaman di pekarangan", ujar Zahra Maulida Darmawati sebagai Koordinator Mahasiswa KKN di Desa Ngranti.
Mahasiswa KKN tidak berhenti pada tahap pelatihan. Mereka juga melakukan pendampingan secara berkala melalui kunjungan ke setiap dusun untuk memantau sekaligus mengevaluasi hasil pembuatan pupuk BOKASHI oleh masyarakat. Pendampingan ini bertujuan memastikan metode yang telah diajarkan dapat diterapkan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Program ini sangat bagus dan bermanfaat karena dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia. Setelah mengetahui cara membuat bokashi, saya lebih senang menggunakan bokashi karena lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan dibandingkan pupuk kimia,” ujar Ibu Yayuk salah satu warga Dusun Blimbing.
“Program ini sangat baik dan bermanfaat serta menginspirasi karena bahan-bahannya mudah didapat, terutama dari sisa-sisa dapur. Kendalanya hanya pada waktu, karena banyak ibu rumah tangga yang juga memiliki pekerjaan lain. Namun, insyaallah pembuatan bokashi ini cukup mudah untuk diterapkan”, ujar ibu Pur salah satu warga Dusun Ngrengit.
Melalui program tersebut, Mahasiswa KKN PSDKU UB Kediri Kelompok 18 berharap warga Desa Ngranti semakin memahami pentingnya pengelolaan sampah organik dan mampu menerapkan metode BOKASHI secara berkelanjutan. Pemanfaatan limbah organik menjadi kompos dan pupuk organik cair diyakini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah rumah tangga, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Program BOKASHI menunjukkan bahwa inovasi sederhana mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Limbah dapur dan sisa sayuran yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai kini dapat diolah menjadi pupuk organik yang bermanfaat, sekaligus menjadi solusi untuk mengurangi sampah dan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. (*)
