KETIK, MALANG – Inayah Wahid memberikan wawasan terkait democratic decline kepada mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) melalui seminar Santiaji Pancasila II bertajuk "Menyelamatkan Pancasila di Ambang Democratic Decline: Memperkuat Ruang Sipil dan Menegakan HAM di Indonesia" yang digelar pada Rabu, 4 November 2026.
Dalam acara ini Inayah Wahid memancing para mahasiswa untuk berani dalam menyampaikan pendapat. Ia juga memberikan gambaran terkait democratic decline.
Ia menjelaskan salah satu indikator democratic decline adalah ketika terjadi pelanggaran dan pelakunya mengarah kepada salah satu instansi tertentu, kemudian tidak ada penyelesaian.
"Salah satunya adalah ketika ada pelanggaran, pertama kalau indikator pelakunya itu mengarah kepada satu instansi tertentu, itu selalu kemudian tidak ada penyelesaian, tidak ada penyelesaian yang memadai, tidak ada penyelesaian yang berpihak pada korban," ujar Inayah Wahid.
Tak hanya itu, kebebasan berpendapat yang saat ini dibatasi juga menjadi salah satu bagian dari democratic decline. Inayah menegaskan bahwa Indonesia memang membarikan kebebasan berpendapat, namun tak ada jaminan setelah berpendapat.
Baca Juga:
Film Piye To Kih? Sapa Penonton Malang Lewat Special ScreeningInayah juga menjelaskan terkait toxic relationship yang salah satu indikatornya adalah gaslighting, di mana terdapat sesuatu yang diputar balikkan atau ada manipulasi. Ia memaparkan indikator tersebut dengan memberikan contoh kasus yang terjadi pada demokrasi di Indonesia.
Menurutnya, demokrasi berada di sipremasi sipil. Namun, hal itu menjadi pertanyaan saat ini. Ia juga mempertanyakan ruang-ruang sipil di era saat ini. Ia mendorong agar mahasiswa dapat memangkas dan mengembalikan kekuatan sipil.
Inayah juga menegaskan bahwa generasi muda perlu berpihak, bergerak, dan bertindak dalam menanggapi banyak kasus yang terjadi di Indonesia. Ia menekankan bahwa mahasiswa dapat bergerak dengan bentuk apapun itu.
"Mahasiswa bisa bergerak apa? Apapun, apapun, bunyikan itu, bunyikan alarm bahayanya. Bangunkan yang belum bangun," tegasnya.
Baca Juga:
Guru SMKN 4 Malang Diduga Lontarkan Ucapan Seksis Berkedok Candaan, Langsung DinonaktifkanInayah menyampaikan bahwa demokrasi bukan hanya sekadar pemilu, tetapi kebebasan berpendapat rakyat kepada pemerintah. Menurutnya, hal tersebut berada pada tangan mahasiswa.
Ia juga mengatakan salah pilih susah pulih dalam sebuah demokrasi yang terjadi saat ini. Beberapa mahasiswa juga mengaku bahwa telah menyesal dengan pilihannya saat pemilu.
Inayah menyampaikan bahwa penyesalan itu tidak dipermasalahkan, saat ini yang terpenting sebuah tindakan yang bisa merubah sesuatu yang telah terjadi.
"Dan ini yang terjadi, kita susah pulih. Maka penting juga untuk memberikan pengetahuan kepada yang belum tahu," ucap Inayah.
Menurut Inayah, saat ini yang terpenting adalah konsistensi dalam membunyikan informasi. Mahasiswa didorong untuk lebih sering membaca agar dapat terus mengutamakan demokrasi dan tidak ada yang berani melawan. Inayah menegaskan bahwa mereka yang melawan tidak akan berani dengan orang yang memiliki pengetahuan.
"Teman-teman gak bisa membela yang lain, kalau tidak tahu posisinya teman-teman ada dimana, tidak tahu apa yang harus diucapkan, apa yang harus disampaikan, bagaimana meng-counter mereka," ungkapnya.(*)