KETIK, MALANG – Melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika dirasakan oleh pedagang keripik tempe di Kampung Tempe Sanan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Pasalnya, harga plastik dan bahan baku tempe ikut naik, tetapi penjualan dan daya beli masyarakat justru menurun.

Pemilik Toko Keripik Tempe Putra Ridho, Frimiyanti (46), mengatakan harga plastik, baik kemasan maupun kresek, naik hingga 50 persen dalam beberapa bulan terakhir.

"Dulu satu pak isi 100 biji harganya Rp35 ribu. Namun saat ini harganya jadi Rp56 ribu bahkan Rp60 ribu per pak," jelasnya, Rabu, 20 Mei 2026.

Tidak hanya plastik, harga tempe sebagai bahan baku utama juga ikut melonjak. Biasanya, ia membeli tempe dengan harga sekitar Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per keranjang, tetapi kini harganya sudah naik mencapai Rp600 ribu per keranjang.

"Naiknya harga ini kira-kira sudah sejak akhir Februari, tepatnya sejak adanya perang Timur Tengah antara Amerika, Israel, dan Iran," tambahnya.

Baca Juga:
Polisi Amankan Tersangka Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak MTs di Malang

Meski biaya produksi meningkat tajam, ia belum berani menaikkan harga jual produknya. Yanti khawatir pelanggan dan reseller keberatan apabila harga keripik tempe ikut naik di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Sebagai gantinya, ia lebih memilih mengurangi ukuran dan kualitas plastik kemasan agar harga jual tetap terjangkau bagi pembeli. Dengan kondisi itu, keuntungan usahanya semakin menipis.

"Saya tidak memikirkan laba, justru malah tambah pusing. Yang penting laku dan produksi tetap berjalan karena saya juga memiliki banyak karyawan," terangnya.

Diketahui, usaha keripik tempe miliknya tersebut mempekerjakan sekitar 10 warga sekitar. Dalam sehari, usahanya mampu memproduksi lebih dari 1.000 bungkus keripik tempe.

Baca Juga:
Wanti-Wanti DPRD Kota Malang, Pengelolaan TPS yang Salah Ancam Kualitas Air Masyarakat

Di tengah gejolak kenaikan biaya produksi dan harga kebutuhan pokok, penjualan justru mengalami penurunan. Bahkan, suasana libur panjang Kenaikan Yesus Kristus yang biasanya ramai pembeli kini justru sepi.

Yanti pun berharap agar nilai tukar rupiah dan kondisi dunia kembali stabil dan normal sehingga harga kebutuhan pokok dan bahan produksi tidak ikut naik signifikan.

"Harapannya jangan terus naik, utamanya kresek dan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe. Karena kalau terus naik, yang berpengaruh pastinya pelaku UMKM seperti saya ini," tandasnya.