KETIK, LEBAK – Kondisi memprihatinkan dialami Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Wathon di Kampung Cikapek, Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Bangunan sekolah yang telah berdiri sejak 2007 itu kini mengalami kerusakan berat hingga mengancam keselamatan siswa dan tenaga pendidik saat proses belajar mengajar berlangsung.
Sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu bagi sekitar 40 siswa tersebut hanya memiliki tiga ruang belajar yang masih dapat digunakan.
Sejumlah ruang lainnya, termasuk ruang kepala sekolah dan perpustakaan, telah mengalami kerusakan bahkan runtuh sehingga aktivitas pembelajaran harus dilakukan dengan sistem kelas gabungan. Sebagian siswa juga terpaksa belajar di ruang guru karena ruang kelas mereka tidak lagi layak digunakan.
Kerusakan bangunan terlihat hampir di seluruh bagian sekolah. Lantai ruang kelas pecah, plafon dan atap mengalami kebocoran, kayu penyangga bangunan telah lapuk, sementara fasilitas sanitasi juga dalam kondisi rusak. Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran para orang tua terhadap keselamatan anak-anak mereka.
Kepala MI Al-Wathon, Nawawi, mengatakan kondisi bangunan sekolah terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan anggaran membuat pihak sekolah belum mampu melakukan renovasi secara menyeluruh.
Baca Juga:
Setelah 6 Tahun di Huntara, Warga Lebakgedong Akan Punya Rumah Tetap September Ini"Kami sangat berharap ada perhatian dari berbagai pihak. Kondisi sekolah memang sudah sangat memprihatinkan. Beberapa ruang tidak lagi bisa digunakan sehingga pembelajaran harus digabung, bahkan ada siswa yang belajar di ruang guru. Kekhawatiran terbesar kami adalah keselamatan anak-anak saat belajar," ujar Nawawi.
Selain kondisi bangunan yang rusak, akses menuju sekolah juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mencapai lokasi, siswa maupun guru harus berjalan kaki sekitar 30 menit melewati jalan pedalaman yang terjal dan berbatu.
Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, semangat para tenaga pendidik tetap tidak surut. Enam guru honorer, termasuk kepala sekolah, terus mengajar meski hanya menerima honor sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 setiap bulan. Sebagian dari mereka telah mengabdi selama belasan hingga puluhan tahun.
Tidak hanya mengajar di sekolah induk, beberapa guru juga rutin mendatangi kelas cabang di wilayah Sampang untuk memberikan pendidikan kepada sekitar 15 hingga 20 anak dari warga mualaf suku Baduy.
Baca Juga:
Keraton UMKM Lebak Ruhay Hadir, Salim Siapkan Pusat Produk Unggulan dan Kuliner Khas Lebak"Honor yang kami terima memang sangat terbatas, tetapi kami tetap berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Mereka berhak mendapatkan tempat belajar yang aman dan nyaman seperti sekolah lainnya," kata Nawawi.
Melihat kondisi tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara Kelompok 4 menginisiasi penggalangan dana untuk membantu renovasi MI Al-Wathon melalui program bertajuk Ekoteologi.
Program tersebut mengusung konsep pembangunan fasilitas pendidikan yang aman, layak, ramah lingkungan, serta selaras dengan nilai kepedulian terhadap alam dan kemanusiaan.
Koordinator KKN Nusantara Kelompok 4, Pamela Walzila Azzah, mengatakan kegiatan penggalangan dana dilakukan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap akses pendidikan di daerah terpencil.
"Kami melihat langsung kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan. Karena itu, kami berinisiatif mengajak masyarakat ikut bergotong royong membantu renovasi MI Al-Wathon agar anak-anak dapat belajar dengan lebih aman dan nyaman," ujar Pamela kepada wartawan, Kamis (6/8/2026).
Penggalangan dana dibuka hingga 14 Agustus 2026. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung perbaikan ruang kelas, fasilitas sanitasi, serta sarana penunjang pembelajaran yang mengalami kerusakan.
Mahasiswa KKN berharap gerakan tersebut dapat menjadi jembatan kepedulian masyarakat terhadap dunia pendidikan, khususnya bagi sekolah-sekolah di wilayah terpencil yang masih membutuhkan perhatian.
"Kami percaya pendidikan adalah hak setiap anak. Melalui gotong royong, kami berharap MI Al-Wathon dapat segera memiliki ruang belajar yang lebih layak sehingga para siswa bisa belajar tanpa rasa khawatir," tutup Pamela.
Cara Berdonasi:
Donasi dapat disalurkan hingga Jumat, 14 Agustus 2026 melalui:
- BNI 1797341297 a.n Pamela Walzila Azzah
- BCA 4922449043, SeaBank 901619754565, Bank Jago 501827539778 a.n Amanda Roja Agustin
- Tambahkan kode unik 04 di akhir nominal. Contoh: Rp100.004
- Konfirmasi ke: Ika Aulia Safitri 0813-8976-6679 / Regita Komalasari 0878-4210-6538