KETIK, YOGYAKARTA – Ada keresahan mendalam yang dirasakan oleh Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sleman, Bambang Yunianto. Memasuki awal bulan Ramadan 1447 Hijriah, ia tidak hanya bicara soal penegakan hukum, melainkan tentang sebuah tradisi luhur yang perlahan menguap dari masjid dan mushola yakni salaman.
Bambang Yunianto menyoroti fenomena "jarak sosial" yang masih membekas kuat di tengah masyarakat meskipun badai pandemi Covid-19 telah lama berlalu. Jabat tangan, yang selama berabad-abad menjadi simbol penggugur dosa dan perekat batin sesama Muslim, kini terasa kaku, bahkan sering kali dihindari.
Menurut Bambang Yunianto, dampak psikologis dari pandemi telah menciptakan sekat yang tidak kasat mata. Ia menyayangkan jika jabat tangan, yang secara esensi adalah sunah saat bertemu dan berpisah, kini dianggap sebagai sesuatu yang asing.
"Dulu, salaman setelah shalat berjamaah adalah momen paling syahdu untuk mencairkan ketegangan dan menghapus dendam. Namun sejak pandemi, jabat tangan seolah menjadi sesuatu yang dilarang. Sayangnya, ketakutan itu terbawa sampai sekarang. Kita jadi dingin satu sama lain," ungkap Bambang Yunianto dengan nada prihatin, Jumat 20 Februari 2026.
Ia menambahkan, meski ada perbedaan pandangan fikih mengenai waktu khusus bersalaman, secara universal jabat tangan adalah bumbu utama dalam menumbuhkan kasih sayang antar sesama manusia.
Keakraban Warga Sleman yang Mulai "Menguap"
Kajari Sleman Bambang Yunianto menilai, hilangnya sentuhan fisik dalam berinteraksi berdampak langsung pada kualitas kerukunan warga. Di wilayah Sleman yang dikenal dengan semangat gotong-royongnya, ketiadaan jabat tangan di sejumlah tempat membuat hubungan bertetangga terasa lebih formal dan hambar.
"Dampaknya nyata, keakraban antarwarga jadi berkurang. Ada rasa sungkan yang berlebihan. Padahal, kekuatan kita sebagai bangsa, khususnya di Sleman, ada pada kehangatan silaturahminya," tegasnya.
Memasuki bulan suci Ramadan 1447 H, Bambang Yunianto mengajak seluruh masyarakat Sleman untuk menjadikan momentum ini sebagai titik balik. Ia mengajak warga untuk tidak lagi ragu berjabat tangan dan saling memaafkan.
"Mengawali Ramadan 1447 H ini, saya secara pribadi dan keluarga besar Kejari Sleman mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Mari kita gunakan bulan mulia ini untuk meruntuhkan sekat-sekat sosial. Jangan biarkan sisa-sisa trauma pandemi menjauhkan hati kita," pesannya.
Ia berharap pada Ramadan 1447 H, masjid-masjid kembali hangat dengan senyuman dan jabat tangan yang tulus, sehingga kedamaian dan kerukunan di Bumi Sembada kembali pulih seutuhnya. (*)
Kajari Sleman Ajak Masyarakat Runtuhkan Sekat-Sekat Sosial di Bulan Ramadan
20 Februari 2026 15:29 20 Feb 2026 15:29
Fajar Rianto, Mustopa
Redaksi Ketik.com
Kajari Sleman, Bambang Yunianto saat diwawancarai awak media (Foto: Fajar R/Ketik.com)
Tags:
Tradisi Salaman Silaturahmi Kabar Sleman Kejaksaan Negeri Sleman Ibadah Puasa 2026 ramadanBaca Juga:
Praperadilan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman: Jaksa Beber Peran Baru Raudi Akmal dan Tegaskan Soal Pengembangan PerkaraBaca Juga:
Praperadilan Dana Hibah Pariwisata Sleman Memanas, Kejari dan Kubu Raudi Akmal Saling SerangBaca Juga:
Pemerhati: PAN Sleman Terpuruk Dihantam Kasus Korupsi Sri Purnomo dan Raudi Akmal, Harus Segera PAW!Baca Juga:
Putusan Banding: Mantan Bupati Sleman Gunakan Kewenangan Secara Sewenang-wenangBaca Juga:
Gadget Jangan Sampai Membelenggu, Wabup Sleman Ajak Siswa Kembali Andalkan Akal SehatBerita Lainnya oleh Fajar Rianto
25 Juli 2026 14:39
Praperadilan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman: Jaksa Beber Peran Baru Raudi Akmal dan Tegaskan Soal Pengembangan Perkara
24 Juli 2026 07:02
Pemkab Sleman Serahkan Bantuan untuk Korban Bencana, Warga Diminta Waspada El Nino
23 Juli 2026 00:45
Praperadilan Dana Hibah Pariwisata Sleman Memanas, Kejari dan Kubu Raudi Akmal Saling Serang
22 Juli 2026 21:50
Dua Pejabat Kejaksaan Agung Masuk DIY: Sri Kuncoro Jabat Kajati, Andi Suharlis Wakajati
22 Juli 2026 13:39
Pemerhati: PAN Sleman Terpuruk Dihantam Kasus Korupsi Sri Purnomo dan Raudi Akmal, Harus Segera PAW!
