NOAA Prediksi El Nino 2026 Menguat, Pakar Unair Ingatkan Mitigasi Sejak Dini

28 April 2026 14:12 28 Apr 2026 14:12

Gracio Pardomuan, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail NOAA Prediksi El Nino 2026 Menguat, Pakar Unair Ingatkan Mitigasi Sejak Dini

Ilustrasi dampak musim kemarau akibat fenomena El Nino. (Foto: Pinterest)

KETIK, SURABAYA – Peluang kemunculan fenomena El Nino pada 2026 semakin besar. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mencatat probabilitas El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026.

Menanggapi hal tersebut, pakar Manajemen Bencana dari Universitas Airlangga (Unair), Hijrah Saputra, mengingatkan pentingnya langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan.

Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga memprediksi potensi El Nino ekstrem, bahkan disebut bisa menyamai kekuatan fenomena terkuat di masa lalu.

Hijrah menjelaskan, istilah “El Nino ekstrem” atau yang kerap disebut “El Nino Godzilla” bukanlah istilah ilmiah, melainkan istilah populer di media untuk menggambarkan intensitas yang jauh lebih kuat.

“Kalau El Nino biasa itu seperti demam 38 derajat, maka El Nino ‘Godzilla’ bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip dari laman Unair, Senin, 27 April 2026.

Proses Terjadinya El Nino

Hijrah memaparkan, El Nino terjadi saat angin pasat melemah. Kondisi ini membuat massa air laut hangat yang biasanya berada di wilayah Indonesia bergeser ke Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Akibatnya, suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat, dengan anomali sekitar 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, bahkan bisa lebih tinggi di titik tertentu.

Perubahan ini menggeser pusat pembentukan awan hujan ke Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih panjang serta kering.

Untuk mengukur kekuatan El Nino, digunakan indikator Oceanic Nino Index (ONI). Nilai di atas +0,5 derajat Celsius menandakan El Nino, sedangkan di bawah −0,5 menunjukkan La Nina. Kategori El Nino terbagi menjadi lemah (0,5–0,9), sedang (1–1,4), kuat (1,5–1,9), dan sangat kuat (≥2).

Dampak dan Mitigasi

Menurut Hijrah, dampak El Nino bagi Indonesia cukup signifikan. Mulai dari kemarau panjang, meningkatnya risiko kebakaran hutan, krisis air bersih, hingga gangguan pada sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Selain itu, fenomena ini juga berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dioksida secara global.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, ia menekankan empat langkah mitigasi utama yang perlu dilakukan sejak dini, yakni optimalisasi cadangan air melalui pengisian bendungan, modifikasi cuaca di wilayah rawan kekeringan, percepatan masa tanam, serta diversifikasi pangan sebagai upaya adaptasi terhadap perubahan iklim.

“Langkah-langkah ini penting untuk meminimalisir dampak El Nino, terutama di sektor air dan pangan,” tegasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Kampus Unair Kampus Surabaya Info Kampus El Nino NOAA Pakar Unair BRIN