Mengenal Sosok R.A. Kartini, Pelopor Emansipasi Perempuan Indonesia

20 April 2026 21:00 20 Apr 2026 21:00

Siska Nabilah Q. N., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Mengenal Sosok R.A. Kartini, Pelopor Emansipasi Perempuan Indonesia

Ilustrasi Sosok Raden Ajeng Kartini. (Desain: Muhammad Dzikrullah Akbar/ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Peringatan Hari Kartini setiap 21 April menjadi momen untuk mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Ia dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Pemikirannya masih relevan hingga saat ini. 

R.A. Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara. Ia merupakan putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosoningrat dan M.A. Ngasirah. Kartini berasal dari keluarga bangsawan.

Sejak kecil, Kartini memiliki kesempatan mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS). Di sekolah tersebut, ia belajar bahasa Belanda. Ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu tinggi.

Namun, pendidikan Kartini terhenti saat usia 12 tahun. Ia harus menjalani masa pingitan sesuai tradisi saat itu. Kondisi tersebut membatasi ruang geraknya di luar rumah.

Meski demikian, Kartini tetap aktif belajar secara mandiri. Ia membaca buku dan surat kabar. Ia juga menjalin korespondensi dengan sahabatnya di Eropa.

Melalui surat-surat tersebut, Kartini menyampaikan gagasannya. Ia menyoroti pentingnya pendidikan bagi perempuan. Ia juga memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Pemikiran Kartini kemudian dibukukan dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Karya tersebut membuat namanya dikenal luas. Isi tulisannya menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Pada tahun 1903, Kartini menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Setelah menikah, gelarnya berubah menjadi Raden Ayu. Suaminya mendukung cita-cita Kartini.

Kartini kemudian mendirikan sekolah perempuan di Rembang. Langkah ini menjadi bukti nyata perjuangannya. Ia ingin perempuan mendapatkan pendidikan yang layak.

Pada 13 September 1904, Kartini melahirkan putranya, Soesalit Djojoadhiningrat. Namun, beberapa hari kemudian Kartini wafat. Ia meninggal pada 17 September 1904 di usia 25 tahun.

Perjuangan Kartini terus berlanjut setelah wafatnya. Pada tahun 1912, didirikan Sekolah Kartini di berbagai daerah. Hal ini menjadi bentuk nyata dari gagasannya.

Melalui peringatan Hari Kartini, masyarakat diharapkan meneladani semangatnya. Perjuangannya menjadi tonggak penting bagi perempuan Indonesia. Nilai-nilai tersebut perlu terus dilanjutkan. (*)

Tombol Google News

Tags:

#harikartini #21April #InfoHariKartini #PerempuanIndonesia #RadenAjengKartini #PeloporEmansipasi #SosokKartini #BiografiKartini