KETIK, SURABAYA – Sejak berdiri 10 Mei 1967 status Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) beberapa kali berganti. Namun satu yang tak berubah, Bulog terus menjadi tulang punggung negeri ini menjaga stabilitas dan ketahanan pangan nasional.
Gudang-gudang Bulog di pinggiran jalan sering kali tampak sunyi sepi dari kejauhan. Tapi di balik itu ada begitu banyak keringat yang telah bercucuran. Kerja keras insan-insan Bulog terus berdenyut setiap hari. Tak kenal waktu. Jarang tersorot kamera, tapi berperan begitu vital memastikan ketersediaan dan stabilitas pangan masyarakat Indonesia.
Pemerintah menetapkan Jumat 15 Mei 2026 sebagai cuti bersama memperingati hari besar Kenaikan Yesus Kristus. Kantor-kantor pemerintahan maupun swasta libur. Tapi itu tidak berlaku untuk Yuli Hartono.
Pagi-pagi sekali, Kepala Gudang Bulog Mojongapit, Jombang, Jawa Timur itu sudah berada di tempat kerjanya dengan pakaian dinas lengkap. Dia bersama para pekerja lepas harian sedang menunggu datangnya pengiriman beras sebanyak 20 ton yang akan masuk ke gudang.
“Sudah biasa seperti ini,” ucap pria asal Klaten itu. “Meskipun tanggal merah kalau ada kiriman masuk atau keluar kita ya harus siap stand by,” tambahnya.
Di hari libur itu Yuli bukan hanya mengawal masuknya tambahan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) ke gudang. Dia juga punya tugas mengawasi keluarnya beras kemasan Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Saat itu penyaluran beras SPHP dilakukan untuk salah satu mitra RPK (Rumah Pangan Kita), sebutan bagi kios masyarakat yang menjadi rekanan Bulog mendistribusikan beras SPHP. “Yang ini dikirim ke (Pasar, red) Perak,” jelas Yuli.
Petugas Quality Control BULOG mengecek beras sebelum masuk ke gudang BULOG Mojongapit Jombang, 15 Mei 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)
Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 13 tahun 2016 tentang Perusahaan Umum (Perum) Bulog menyebutkan, ada empat poin untuk Bulog saat melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam rangka ketahanan pangan nasional.
Keempatnya adalah pengamanan harga pangan pokok beras tingkat produsen dan konsumen; pengelolaan cadangan pangan pokok beras pemerintah; penyediaan dan pendistribusian pangan pokok beras golongan masyarakat tertentu; serta pelaksanaan impor beras sesuai ketentuan perundang- undangan.
Untuk mendukung penugasan Bulog, pemerintah juga menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 48 tahun 2016 tentang Penugasan kepada Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional.
Dalam Perpres itu ditegaskan, pemerintah menugaskan Bulog untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan tingkat konsumen dan produsen.
Aturan-aturan itu menggambarkan begitu vitalnya tugas Bulog dalam menjaga rantai ketahanan pangan nasional. Bukan hanya bertugas menyimpan dan mendistribusikan, Bulog juga harus turun langsung ke lapangan menyerap hasil panen petani. Plus mengawal kestabilan harga bahan pokok di pasaran.
“Memang berat. Tugas kami dari hulu sampai hilir rantai pangan. Tapi semua kami niatkan untuk ibadah. Untuk melayani masyarakat Indonesia,” ucap Muhammad Husin, Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Mojokerto saat ditemui Ketik.com di kantornya, 13 Mei 2026.
“Obat lelahnya, kalau lihat petani tersenyum kami ikut senang. Kalau lihat penerima bansos beras semringah kami juga ikut bahagia,” tambahnya.
Kompleks Pergudangan BULOG Sooko Mojokerto, 13 Mei 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)
Sebagai Kepala Kantor Cabang, Husin bertanggung jawab atas segala aktivitas Bulog di area yang dia pimpin. Untuk unit Mojokerto dia membawahi tiga wilayah kabupaten/kota sekaligus yakni Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Jombang.
Husin menyebutkan, sesuai SOP, dalam setiap penyerapan hasil panen petani, tim Bulog wajib berada di lokasi menemani petani. Karena itu, tidak jarang tim Bulog yang turun ke lapangan harus bertugas sampai malam bahkan pagi karena mengikuti ritme kerja para petani.
“Pas (panen, red) di bulan puasa tim kami bahkan sampai sahur masih di sawah,” ceritanya. Lah gimana, kita kan harus menemani proses panen dari awal sampai akhir. Waktu buka puasa berhenti dulu, tarawih berhenti dulu, Kami tetap harus menemani sampai selesai, sampai masuk karung diangkut truk,” jelas Husin.
Dari hasil kerja keras tak kenal waktu insan-insan Bulog tersebut, target pemerintah memenuhi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) secara nasional saat ini telah mencapai rekor tertinggi.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog per 11 Mei 2026 telah mencapai 5,3 juta ton. Dia bahkan memprediksi jumlah itu terus bisa bertambah mencapai 6 juta ton pada akhir Mei.
“Alhamdulillah. Di bulan Mei sampai 5,3 juta ton. Ini di tanggal 11. Mungkin akhir bulan, di akhir Mei mencapai 6 juta ton,” ucap Rizal dalam keterangannya kepada para wartawan di acara perayaan HUT Bulog ke-59 di kantor Perum Bulog, Jakarta, 11 Mei 2026.
Rizal menambahkan, capaian ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi banyak pihak. Bukan hanya Bulog, namun juga para petani, penggiling beras, jajaran pemerintah, Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Kepolisian Republik Indonesia (Polri). “Kalau stok sudah mencapai 5,3 juta ton, kami pastikan menghadapi El Nino aman,” jelas Rizal.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman dalam kunjungan kerja ke gudang Bulog Romokalisari Surabaya, 13 Mei 2026, menyebut stok cadangan beras pemerintah yang mencapai 5,3 juta ton adalah rekor tertinggi sejak Indonesia merdeka. Itu melampaui rekor stok beras nasional sebelumnya yang terjadi pada 1984 di era pemerintahan Soeharto.
Saat itu, Indonesia menerima penghargaan Organisasi Pangan Dunia FAO (Food and Agriculture Organization) dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Cadangan beras nasional saat itu sebanyak 2,6 juta ton sampai 3,03 juta ton.
Pekerja Bulog sedang mengangkut beras kemasan SPHP di Gudang Bulog Mojongapit Jombang, 15 Mei 2026. (Foto: Rahmat Rifadin/Ketik.com)
Lebih lanjut Amran menambahkan, keberhasilan ketahanan pangan yang terjadi di era Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini tidak hanya tercermin dari cadangan beras nasional melimpah, namun juga kesejahteraan petani yang meningkat.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mengalami tren positif. Data NTP Petani Februari 2026 naik menjadi 125,45 atau meningkat 1,50 persen dibandingkan Januari 2026.
NTP merupakan data perbandingan rasio antara indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani yang dinyatakan dalam persentase. Dalam kata lain NTP merupakan indikator untuk mengukur tingkat kemampuan daya beli dan kesejahteraan petani. Angka persentase NTP saat ini diklaim Amran sebagai capaian tertinggi dalam 33 tahun terakhir.
Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah melalui Bapanas terkait revisi aturan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang terbit pada Januari 2025. Di aturan itu Bulog menjadi eksekutor lapangan untuk membeli hasil Gabah Kering Panen (GKP) petani sama rata alias tanpa rafaksi/potongan kualitas di angka Rp6.500 per kilogram.
"Sebagai petani sekarang saya merasa aman dan terlindungi oleh Bulog," ucap Anis Abiyoso, Petani Desa Badas Jombang.
Sebelum kebijakan tersebut berlaku, Anis mengaku sering ketakutan saat masa panen tiba. Itu karena harga gabah sangat rentan dipermainkan oleh tengkulak.
"Kadang ada faktor cuaca juga yang membuat hasil panen menurun. Tapi sekarang ada BULOG kami jadi merasa tenang. Itu benar-benar sangat menguntungkan petani," jelas Anis.
Bukan hanya itu, Menteri Amran juga menyebut Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian mengalami lonjakan signifikan. PDB sektor pertanian merupakan total nilai tambah seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dari lapangan usaha bidang pertanian dalam kurun waktu tertentu.
Data BPS memastikan PDB Pertanian menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,6 persen di kuartal awal 2026. Di periode ini sektor Pertanian tumbuh 4,97 persen, menjadi penyumbang signifikan PDB nasional sebesar 12,67 persen.
Statistik-statistik rumit itu bukan sekadar angka, namun cerminan hasil keringat dan kerja keras panjang seluruh pihak yang terlibat dalam rantai ketahanan pangan nasional. Utamanya Bulog, yang 24 jam penuh, tak kenal waktu, menjadi penjaga gawang stabilitas pangan Indonesia, saat ini hingga masa depan. (*)
