KETIK, SURABAYA – Bagi Imam Suudy, seni rupa bukan sekadar olah visual di atas kanvas, melainkan ruang untuk melahirkan gagasan, pengalaman, dan jiwa kemanusiaan.
Perupa muda asal Desa Jatitamban, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso ini tak hanya konsisten menggerakkan ekosistem seni lokal, tetapi juga sukses membawa karyanya ke panggung internasional.
Pria kelahiran 1993 yang akrab disapa Cak Uud tersebut mencatatkan rekam jejak membanggakan saat tiga karya lukisannya terpilih dan dipajang dalam ajang bergengsi Art Is Fair di Kuala Lumpur, Malaysia dan mengunggah lukisan tersebut pada instagram pribadinya @imamsuudy
Bagi Cak Uud, pencapaian dan proses berkarya adalah perjalanan emosional yang bermakna ketika mampu membangun koneksi dengan penikmatnya.
"Perjalanan yang paling membahagiakan sebagai seniman adalah saat ide dan sesuatu yang ada di dalam diri bisa lahir menjadi sebuah karya. Lebih membahagiakan lagi saat karya tersebut bisa dipahami, dimengerti, bahkan menyentuh hati orang lain," ujar Cak Uud.
Di daerah asalnya, dedikasi Cak Uud dibuktikannya melalui keterlibatan aktif mendirikan dan menggerakkan komunitas K5 Art Project.
Bersama rekan-rekannya, ia rutin menggelar pameran seni rupa 1–2 kali dalam setahun di Bondowoso sebagai panggung ekspresi seniman muda sekaligus sarana mengenalkan potensi daerah ke luar.
Di tengah maraknya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu memproduksi gambar secara instan, Cak Uud memilih bersikap bijak dan terbuka. Menurutnya, AI tidak harus dipandang sebagai ancaman, melainkan alat bantu dalam proses kreatif.
"Seniman tidak boleh gaptek. AI mungkin bisa bikin gambar lebih praktis dan cepat, tapi di seni yang terpenting adalah isinya. Pengalaman, pemikiran, hati, dan jiwa manusia tidak bisa digantikan oleh AI," tegasnya.
Cak Uud saat mewarnai dengan krayon.
Kecintaan Cak Uud terhadap dunia seni rupa telah tumbuh sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) melalui corak sketsa ringan secara mandiri.
Keberaniannya mengolah bakat makin terlihat saat masa SMA, ketika ia bersama dua temannya nekat mengikuti lomba mural di Bondowoso. Meski belum berhasil meraih juara, momen tersebut makin meyakinkan langkahnya untuk menggeluti seni rupa.
Ia mulai menyeriusi seni lukis secara profesional sewaktu menempuh pendidikan tinggi.
Lewat pameran-pameran yang diikutinya saat kuliah, Cak Uud bertemu dengan mentor yang membimbing dan mematangkan karakter berkeseniannya hingga kini.
Melalui konsistensi berkarya—dari pameran lokal Bondowoso hingga Art Is Fair Kuala Lumpur—Cak Uud berharap iklim seni rupa di tanah kelahirannya terus berkembang serta mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Salah satu quote humor yang Cak Uud sampaikan adalah "Semua pria pernah muda tapi tidak semua pernah gondrong".(*)
