KETIK, SURABAYA – Perjalanan dengan TransJatim tidak hanya soal berpindah dari Mojokerto ke Surabaya atau sebaliknya. Di dalamnya, ada pertemuan-pertemuan singkat yang sering kali tidak direncanakan, tetapi justru meninggalkan kesan.
Sebagai mahasiswa yang setiap hari pulang pergi, saya cukup sering bertemu dengan orang-orang “random” di perjalanan. Kadang bertemu teman sesama kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) yang juga menjalani rutinitas PP, kadang berpapasan dengan teman lama dari MAN yang kini kuliah di Surabaya.
Dan ,tidak jarang pula bertemu orang baru yang ternyata memiliki cerita serupa sama-sama “berjuang” menempuh jarak antar kota setiap hari.
Salah satu momen yang paling membekas terjadi suatu sore di Halte Dukuh Menanggal Surabaya. Saat itu, suasana halte seperti biasa ramai dan penuh antrean. Barisan penumpang terlihat mengular, dipenuhi wajah-wajah lelah setelah seharian beraktivitas.
Sebagian orang berdiri sambil menatap jalan, menunggu bus datang, sementara yang lain sibuk dengan ponsel masing-masing.
Di tengah antrean itu, interaksi kecil antar orang yang tidak saling mengenal menjadi hal lumrah. Ada yang saling bertanya, “Busnya sudah sampai mana?” atau “Turun di mana nanti?” Percakapan singkat yang mungkin terasa sepele, tetapi cukup untuk mencairkan suasana.
Saat itu, saya berdiri di tengah antrean, lebih banyak diam dan fokus pada ponsel. Sesekali saya membuka aplikasi “TransJatim Ajaib” untuk melihat posisi bus. Di belakang saya, ada beberapa orang yang sedang berbincang. Suaranya terdengar samar, tetapi tidak terlalu saya perhatikan.
Hingga satu kalimat membuat saya sedikit menoleh. “Rumah saya di Trowulan…”
Saya refleks melirik ke belakang. Dalam hati sempat terlintas, “Wah, dekat dong dengan rumah saya." Tapi setelah itu, saya kembali diam. Percakapan itu saya anggap sebagai kebetulan biasa.
Tak lama, bus datang. Penumpang yang turun lebih dulu setelah itu perlahan antrean mulai bergerak maju. Satu per satu orang naik sesuai urutan. Saat giliran saya, saya langsung menuju ke dalam dan beruntung mendapatkan tempat duduk di baris kedua dari belakang.
Beberapa detik kemudian, seseorang duduk di samping saya. Ternyata, ia adalah orang yang tadi berada di belakang saya, yang sempat mengatakan bahwa rumahnya di Trowulan.
Awalnya tidak ada percakapan. Kami sama-sama diam, seperti kebanyakan penumpang lain. Namun, entah bagaimana, obrolan kecil akhirnya dimulai. Dari yang awalnya hanya basa-basi, perlahan berkembang menjadi percakapan yang lebih panjang.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Amanu, seorang mahasiswa baru di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Tahun ini adalah tahun pertamanya kuliah, dan seperti saya, ia memilih menjalani rutinitas pulang pergi setiap hari menggunakan TransJatim.
Percakapan kami semakin terasa akrab ketika membahas asal tempat tinggal. Dugaan saya sebelumnya ternyata benar, rumah kami sangat dekat. Hanya berbeda desa, tetapi masih dalam satu wilayah yang sama.
Dari situ, perjalanan yang awalnya terasa biasa berubah menjadi lebih berkesan. Tidak hanya sekadar duduk diam menatap jalan, tetapi ada cerita dibagi, pengalaman yang dibandingkan, hingga keluhan kecil soal lelahnya perjalanan PP yang ternyata sama-sama kami rasakan.
Sejak pertemuan itu, kami beberapa kali kembali bertemu di bus yang sama. Terkadang hanya saling sapa singkat, terkadang kembali berbincang sepanjang perjalanan. Dari yang awalnya tidak saling mengenal, perlahan menjadi teman perjalanan.
Pengalaman itu menjadi salah satu dari sekian banyak cerita yang saya temui selama menggunakan TransJatim. Di tengah padatnya penumpang dan rutinitas yang melelahkan, selalu ada kemungkinan untuk bertemu orang baru yang awalnya hanya “random”, tetapi kemudian menjadi bagian kecil yang membuat perjalanan terasa lebih ringan.
TransJatim, bukan hanya tentang bus dan rute yang dilalui. Ia juga menjadi ruang pertemuan tempat di mana orang-orang dengan tujuan berbeda dipertemukan, dan kadang, tanpa disadari, dipertemukan kembali di perjalanan berikutnya. (*)
