KETIK, SITUBONDO – Faishol Afandi selaku Camat Asembagus bersama Kepala SDN 1 Perante, Inda Hasana, mendatangi rumah seorang siswa yang sudah tidak masuk sekolah selama satu tahun. Kunjungan tersebut dilakukan di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada Rabu, 24 Juni 2026.
Hilwa, siswi kelas 2, telah lebih dari satu tahun tidak bersekolah. Sementara itu, Gibran yang berusia 10 tahun juga hampir satu tahun tidak masuk sekolah. Selain keduanya, satu siswa lainnya berada di luar daerah dan tidak dapat dihubungi.
Camat Asembagus Faishol Afandi menjelaskan, kunjungannya ke rumah para siswa yang tidak masuk sekolah selama kurang lebih satu tahun tersebut bertujuan untuk mengetahui penyebab mereka enggan kembali bersekolah.
“Penyebab Gibran, tidak mau bersekolah akibat kedua orang tuanya telah berpisah. Menurut Ayahnya Gibran, ibunya saat ini berada di luar negeri bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia,” kata Faishol didampingi Kepala Sekolah SDN 1 Perante saat berada di rumah Gibran.
Selanjutnya, siswa bernama Hilwa memiliki sifat yang sangat sensitif dan lembut. Hal ini membuatnya mudah mengalami trauma, terutama saat menghadapi tekanan di lingkungan sekolah, yang berdampak pada keterbatasan emosionalnya.
“Kesulitan ekonomi keluarga menjadi tantangan bagi para siswa untuk tidak melanjutkan pendidikannya, kemudian memicu inisiatif orang tua agar anaknya untuk mencari nafkah. Untuk itu, pihak sekolah, termasuk guru, perlu memahami psikologi setiap siswa karena masing-masing anak memiliki karakteristik, kemauan, dan keinginan yang berbeda-beda,” jelas Faishol.
Lebih lanjut, Faishol mengatakan, pihak sekolah telah memberikan motivasi kepada orang tua siswa tersebut. “Setelah masa liburan berakhir, pihak sekolah telah berjanji akan memfasilitasi siswa untuk kembali bersekolah,” katanya.
Pemerintah Kecamatan Asembagus, sambung Faishol, berkomitmen untuk mendampingi dan memberikan bantuan agar anak-anak tersebut dapat kembali bersekolah.
“Saya berharap agar seluruh pihak dapat bersama-sama mencari solusi supaya para siswa yang berhenti sekolah dapat kembali melanjutkan pendidikannya,” ucap Faishol.
Pendidikan merupakan hak setiap anak. Karena itu, perlu ada pendampingan dan komunikasi dengan keluarga siswa agar kendala yang menyebabkan mereka putus sekolah bisa diatasi.
“Faktor ekonomi, kurangnya motivasi belajar, hingga kondisi keluarga sering menjadi penyebab utama anak tidak melanjutkan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara sekolah, pemerintah kecamatan dan desa, orang tua, serta tokoh-tokoh pendidikan untuk mencegah kasus serupa terulang,” tutur Faishol.
Tak hanya itu yang disampaikan Faishol, tapi ia juga sedapat mungkin mendorong instansi terkait untuk melakukan pendataan dan pendampingan terhadap siswa yang putus sekolah, sehingga mereka dapat memperoleh akses program pendidikan maupun pelatihan yang sesuai. (*)
.png)