KETIK, PROBOLINGGO – Suasana khidmat bercampur haru menyelimuti Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Minggu, 17 Mei 2026. Di hadapan ratusan pasang mata, khususnya para orang tua yang datang dari berbagai daerah, para santri putri Badan Pembinaan Khusus (BPK) MTs Nurul Jadid membuktikan hasil jerih payah mereka menimba ilmu lewat prosesi Wisuda Keempat.
Bukan sekadar seremonial rias wajah dan toga, wisuda ini menjadi panggung pembuktian yang mendebarkan. Pasalnya, para wisudawati harus melewati tradisi sakral bernama Demontrasi Kitab—sebuah sesi uji kompetensi terbuka di mana santri yang ditunjuk secara acak wajib membaca, menguliti, dan mempertahankan pemahaman kitab kuningnya langsung di hadapan para penguji ahli dan wali santri.
Perjalanan wisuda BPK Putri ini telah melewati proses evaluasi yang panjang. Ketua Panitia, Khoirun Nisa', menceritakan bagaimana acara ini terus berbenah sejak pertama kali dirintis pada tahun 2023 lalu.
Jika pada tahun pertama dan kedua para wali santri belum bisa menyaksikan langsung putra-putrinya di atas panggung, sejak tahun ketiga format tersebut diubah total demi memberikan ruang apresiasi bagi orang tua.
“Tahun ini sudah memasuki tahun keempat. Di setiap tahunnya pasti ada perkembangan,” ujarnya.
Tak hanya kehadiran orang tua, waktu pelaksanaan pun digeser ke siang hari. Inovasi ini lahir dari empati panitia agar para wali santri yang menempuh perjalanan jauh dari luar kota tidak lagi kesulitan mengatur akomodasi dan penginapan mereka.
Ketegangan ujian berganti menjadi linangan air mata haru saat manajemen BPK Putri mengumumkan tiga santriwati terbaik tahun ini. Mereka dinilai berdasarkan standar ketat yang meliputi kecerdasan akademis hingga keluhuran akhlak.
Tiga mahkota penghargaan diserahkan kepada: a) Kategori Munaqhosah Terbaik (Nilai ujian kitab tertinggi) b) Kategori Santri Teladan (Konsistensi kedisiplinan dan akhlakul karimah) c) Kategori Santri Terbaik (Pencapaian akumulatif akademis dan kepesantrenan)
Suasana mencapai puncak harunya ketika ketiga santri terbaik tersebut bersanding dengan orang tua mereka di atas panggung utama untuk prosesi pemasangan mahkota secara simbolis.
Sebuah momen penghargaan yang membayar lunas seluruh malam-malam panjang mereka dalam menghafal dan memahami baris demi baris kitab gundul.
Ujian sesungguhnya bagi para alumni BPK Putri ini bukanlah di atas panggung wisuda, melainkan saat mereka kembali ke tengah masyarakat kelak. Di akhir acara, pengurus BPK Putri menitipkan pesan mendalam agar bekal yang didapat selama tiga tahun tidak menguap begitu saja.
“Semoga semua wisudawati bisa menjaga apa yang mereka dapat dari pesantren ini, tak lupa pula semoga mereka bisa mengamalkan ilmunya selama tiga tahun belajar di BPK,” pungkas perwakilan pengurus.(*)
