PPP, Mas Robit dan Filosofi Toserba

18 Mei 2026 09:27 18 Mei 2026 09:27

Eko Hardianto, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail PPP, Mas Robit dan Filosofi Toserba

Oleh: Eko Hardianto*

Kira-kira sepekan sebelum tulisan ini disusun, penulis nongkrong bareng Robit Riyanto. Kami berdua pesan kopi arabika, dengan sedikit gula. Lokasi ngopi sambil diskusi itu memang favorit kami. Persis di seberang jalan depan Kantor DPRD Kota Probolinggo. Di sana selain ada kafe, juga berdiri satu-satunya toko buku terbesar dan terlengkap.

Siang itu dari awalnya obrolan ringan, sampailah ke tema politik agak serius. Dan penulis jadi tahu, pria biasa penulis sapa Mas Robit, itu sedang menyusun strategi. Ia hendak meramaikan bursa ketua DPC PPP Kota Probolinggo. “Insyaallah kalau PAC di lima kecamatan clear. Mereka itu yang support saya sejak awal,” kata dia saat itu. 

Singkatnya, setelah kami menghitung-hitung potensi kemenangan. Lalu menimbang kekuatan calon rival, diskusi pun berakhir persis adzan Dzuhur mulai berkumandang. Dan ketika tulisan ini hadir di hadapan pembaca, Mas Robit, sudah benar-benar menjadi Ketua DPC PPP Kota Probolinggo. Kalkulasi politiknya tak meleset, ia terpilih secara aklamasi.

Mas Robit, sesungguhnya bukan hanya simbol pergantian pimpinan di internal partai. Momentum itu boleh dibaca sebagai titik penting bagi PPP. Titik penting menata ulang arah politiknya. Sampai titik penting membaca perubahan perilaku pemilih yang semakin dinamis. Mas Robit, tak sekadar mengisi posisi administratif. Tapi bertanggung jawab penuh memoles wajah PPP sampai diminati pemilih pemula.

Sampai disini, muncul pertanyaan. Apakah Mas Robit Riyanto, layak memimpin PPP Kota Probolinggo? Jawabannya, tentu iya. Cukup banyak alasan logis membuat Mas Robit, dianggap layak dan legitimate. Dia bukan kader instan. Penulis mengenalnya tumbuh dari proses panjang di internal partai. Sebelumnya dia juga berperan sebagai sekretaris DPC PPP.

Dalam tradisi partai politik, posisi sekretaris bukan jabatan ngasal. Justru dari posisi itu seseorang memahami detak organisasi. Nyata mengurus struktur, menjaga komunikasi internal, merawat hubungan antar kader, hingga menghadapi dinamika konflik di lapangan. Artinya, Mas Robit memahami PPP bukan hanya permukaan, tapi dari ruang dapur pacu mesin sehari-hari.

Secara pribadi, penulis mengenal Mas Robit, cukup kental. Mungkin dialah satu-satunya anggota DPRD Kota Probolinggo, bisa dibilang “palugada“ (apa lu mau gua ada) ha ha ha. Analogi penulis, gaya berpolitik pria berbadan subur itu, tak jauh beda dengan ‘toko serba ada atau toserba’. Mas Robit, pernah bilang, “Parpol itu hidup dari kepercayaan publik”. Kalimat itu boleh penulis diartikan sebagai konsep toserba. 

Toserba kehilangan pembeli, maka lambat laun akan sepi dan tutup. Partai politik juga begitu. Jika kehilangan simpati rakyat, akan jadi zombie, alias hidup tapi tanpa ruh. Nggak ada kekuatan nyata. Toserba yang berkembang biasanya memahami kebutuhan konsumen.

Entitas ini tidak hanya menjual barang. Tetapi juga menghadirkan pelayanan, kenyamanan, dan rasa percaya. Barang dijual lengkap, pegawainya ramah, tempatnya bersih, harga bersaing, dan ikut perkembangan zaman.

Mas Robit, sepertinya juga belajar dari pola itu. Dia tidak cukup hanya hadir saat pemilu. Kampanye dan pasang baliho besar-besar, lalu menghilang setelah lolos jadi anggota DPRD. Dari keunikan cara berpolitik inilah, penulis boleh yakin PPP moncer di bawah kendali Mas Robit. Bayangkan Ketika masyarakat mengeluh soal pupuk, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, atau harga sembako, Mas Robit dan PPP - nya hadir kasih solusi.

Kalau dulu PPP khususon kasih karpet merah kepada ulama-ulama besar dan berpengaruh, sekarang berubah. Mas Robit, juga membuka pintu lebar-lebar bagi kalangan muda. Lagi-lagi ini konsep toserba. Tidak bergantung hanya pada satu produk saja. Entitas itu terus berinovasi dan memperluas pasar. 

Jika hanya mengandalkan satu jenis barang, maka ketika tren berubah, usaha akan runtuh. Gampangnya, Mas Robit, menjadikan PPP tidak lagi bergantung pada satu tokoh besar. Kaderisasi akan berjalan. Dan inilah yang membuat partai lebih dinamis dan tahan lama. Memiliki banyak “produk unggulan” alias kader berkualitas.

Toserba yang berkembang memahami pentingnya manajemen. Ada pembagian tugas yang jelas. Pengelolaan keuangan yang rapi. Lalu target pelayanan yang terukur. Partai politik juga membutuhkan hal yang sama. Konflik internal berkepanjangan sering kali muncul karena tidak memiliki sistem yang sehat. Akibatnya, energi habis untuk pertikaian, bukan untuk melayani rakyat.

Dalam dunia usaha, pelanggan adalah raja. Sedangkan dalam politik, rakyat adalah pemilik saham terbesar. Jika pelanggan kecewa, mereka pindah ke toko lain. Jika rakyat kecewa, mereka pindah dukungan ke partai lain. Karena itu, kata Mas Robit, partai harus menjaga integritas dan kepercayaan publik. Toserba yang bertahan puluhan tahun biasanya bukan yang paling mewah, tetapi yang paling mampu menjaga hubungan dengan pelanggan. 

Pada akhirnya, pendekatan politik politik DPC PPP Kota Probolinggo akan datang bukan hanya soal merebut kekuasaan. Tetapi bagaimana menjaga kepercayaan. Dan seperti halnya toserba, kepercayaan itu dibangun sedikit demi sedikit melalui pelayanan yang nyata.

PPP memang membutuhkan figur yang mengerti bagaimana menjaga mesin partai tetap hidup di tingkat akar rumput. Pengalaman Mas Robit sebagai anggota DPRD Kota Probolinggo, memberi modal politik yang cukup kuat. Politik modern tidak lagi cukup mengandalkan retorika atau simbol agama semata. Publik kini lebih kritis terhadap kerja nyata para politisi. 

Dalam beberapa pemberitaan, Mas Robit, aktif dalam isu pengawasan pembangunan daerah, termasuk proyek-proyek infrastruktur. Sikap itu menunjukkan jika dia tidak hanya hadir saat musim pemilu. Tapi juga dalam fungsi pengawasan pemerintahan.

Di tengah meningkatnya ketidakpercayaan publik terhadap partai politik, figur yang aktif bekerja di parlemen memiliki nilai lebih dibanding mereka yang hanya kuat dalam manuver internal. Perspektif penulis, saat ini Mas Robit, memimpin PPP di tengah fase yang tidak mudah. 

Jika menengok sejarah pasca reformasi, PPP sebenarnya pernah menjadi salah satu kekuatan penting dalam politik lokal maupun nasional. Namun, seperti banyak partai Islam lainnya, PPP menghadapi tantangan besar akibat perubahan demografi pemilih, fragmentasi suara umat, dan munculnya partai-partai baru yang ikut berebut basis massa tradisional.

Di Kota Probolinggo sendiri, PPP pernah menjadi partai cukup diperhitungkan. Pada era awal reformasi, khususnya Pemilu 1999, PPP masih menikmati efek euforia politik Islam pasca tumbangnya Orde Baru. Basis massa tradisional, terutama dari kalangan pesantren dan masyarakat religius perkotaan, menjadi kekuatan utama partai berlambang Ka’bah tersebut.

Namun setelah itu perjalanan PPP tak lagi mulus. Memasuki Pemilu 2004 dan 2009, peta politik berubah. Persaingan antar partai berbasis Islam makin ketat. PKB, PKS, PAN, bahkan partai-partai nasionalis mulai masuk ke ceruk pemilih sebelumnya identik dengan PPP. Kondisi itu berdampak pada fluktuasi perolehan kursi di DPRD Kota Probolinggo.

Pada periode-periode berikutnya, PPP tetap mampu bertahan. Meski jumlah kursinya tidak lagi dominan. Dalam konteks politik lokal, kemampuan bertahan, sebenarnya sudah menjadi pencapaian tersendiri. Sebab banyak partai lama justru hilang dari peredaran akibat gagal regenerasi dan konsolidasi.

Hasil Pemilu 2024 menunjukkan PPP Kota Probolinggo, masih eksis. Dua kursi diraih di DPRD. Jumlah itu memang belum bisa disebut besar, tetapi cukup menjadi fondasi untuk membangun kembali kekuatan partai ke depan. Menurut penulis, di sinilah tantangan utama Mas Robit Riyanto, dimulai.

Ia tidak hanya dituntut menjaga stabilitas internal. Tetapi juga harus mampu mengembalikan daya tarik PPP di mata publik. Tugas itu tentu tidak ringan. Apalagi saat ini, kecenderungan pemilih milenial tidak lagi berdasarkan identitas ideologis semata.

Mereka lebih melihat figur, kerja konkret, dan kemampuan partai menjawab persoalan sehari-hari. Seperti solusi lapangan kerja, pendidikan, ekonomi rakyat, dan tata kelola pemerintahan.

Karena itu, kepemimpinan Mas Robit, akan sangat ditentukan oleh kemampuannya membawa PPP keluar dari pola lama yang bertumpu pada romantisme sejarah. PPP harus tampil sebagai partai yang relevan dengan kebutuhan masyarakat urban modern. Tentu tanpa kehilangan identitas moral dan religiusnya.

Selain itu, kemenangan Mas Robit secara aklamasi juga menjadi sinyal penting. Dalam politik internal partai, aklamasi menunjukkan adanya tingkat penerimaan yang relatif solid dari kader dan pengurus. Ini modal penting untuk membangun konsolidasi jangka panjang. Partai yang terlalu sibuk dengan konflik internal biasanya kesulitan menghadapi pertarungan politik eksternal.

Namun perlu digaris bawahi, legitimasi internal saja tidak cukup. Publik tetap akan menilai dari hasil kerja nyata. Apakah PPP di bawah kepemimpinan Mas Robit mampu menghadirkan kader-kader muda yang berkualitas? Apakah partai mampu lebih dekat dengan persoalan masyarakat bawah? Apakah PPP bisa tampil lebih modern tanpa kehilangan akar tradisionalnya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah nantinya menentukan apakah kepemimpinan Mas Robit, hanya menjadi pergantian rutin atau benar-benar menjadi awal kebangkitan baru PPP Kota Probolinggo. Pada akhirnya, politik bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi ketua, tetapi tentang siapa yang mampu menumbuhkan harapan.

Dan saat ini, anggota Komisi III DPRD Kota Probolinggo itu memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk membuktikan PPP masih memiliki masa depan dalam politik Kota Probolinggo.

*) Eko Hardianto merupakan Wakil Ketua PWI Probolinggo Raya dan Wartawan ketik.com bertugas di Kota Probolinggo

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

PPP Mas Robit Robit Riyanto Politik Lokal DPC PPP Kader Ppp Opini Politik partai politik Politik Rakyat Filosofi Toserba Pelayanan Publik Politik Indonesia DPRD Probolinggo Kepemimpinan Politik