Semingguan lalu saat saya video call Ibu saya di Surabaya, lho kok gelap? “Mati lampu, Lik," kata Ibuku dan memang malam itu Surabaya gelap. Bukan gelap karena hujan, bukan pula karena mendung, tetapi gelap karena listrik padam.
Dari Jepang, tempat saya bermukim dan melanjutkan karier setelah pensiun dari PNS Pemprov. Jatim, kabar itu terasa seperti mengetuk pintu batin saya.
Saya membayangkan gang-gang kampung yang mendadak redup. Seorang anak berhenti belajar. Seorang ibu menunda memasak. Seorang pedagang kecil kehilangan kesempatan mencari nafkah malam itu.
Lalu muncul pertanyaan yang mengusik kepala saya sepanjang malam itu, "Mosok energi hanya boleh datang dari pusat? Mosok warga harus selalu pasrah menunggu listrik menyala kembali?"
Sebagai Arek Suroboyo, saya percaya setiap masalah selalu menyimpan kemungkinan solusi. Kadang bahkan solusi itu berada sangat dekat, sedekat tempat sampah di dapur rumah kita sendiri.
Bagi banyak orang, kulit buah, sisa sayuran, dan limbah dapur serta limbah organic dapur lainnya hanyalah sampah. Sesuatu yang harus segera dibuang sebelum menimbulkan bau. Namun perjalanan hidup mengajari saya melihatnya secara berbeda.
Saya memulai karier sebagai aparatur sipil negara dari golongan paling bawah bermodal ijazah SMP. Kemudian menempuh pendidikan hukum, sebelum akhirnya belajar teknik lingkungan dan energi terbarukan di Jepang.
Dari perjalanan itulah saya memahami bahwa keberlanjutan tidak boleh berhenti sebagai teori di laboratorium. Ia harus bisa menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Saat menempuh studi doktoral di Yamaguchi University, saya meneliti Microbial Fuel Cell (MFC), sebuah teknologi yang memungkinkan mikroorganisme mengubah limbah organik menjadi listrik ramah lingkungan.
Bakteri yang bekerja dalam kondisi tanpa oksigen menguraikan bahan organik dan melepaskan elektron. Elektron itulah yang kemudian ditangkap menjadi energi listrik.
Karena saat itu saya tinggal di Jepang, negeri yang menjadikan buah kesemek atau khaki sebagai buah nasionalnya. Dan buah inipun amat akrab di tanah air. Dan limbah buah tersebut menjadi salah satu bahan utama penelitian saya. Hasilnya amat menarik !.
Pada campuran limbah kesemek dan tanah, sistem MFC yang saya teliti mampu menghasilkan gaya gerak listrik sekitar 22 ± 0,01 V/m² dengan keluaran tertinggi mencapai 12.720 ± 114,31 mV/m².
Saya juga mengembangkan skala reaktor yang diperbesar, dan hasilnya, kepadatan daya meningkat dari 2.109,9 mW/m² pada area 100 cm² menjadi 10.317,19 mW/m² pada area 500 cm².
Bahkan penelitian lanjutan menunjukkan limbah kesemek mampu menghasilkan kepadatan daya hingga 16,180 mW/m², lebih tinggi dibanding beberapa kombinasi substrat organik lainnya.
Bagi sebagian orang angka-angka itu mungkin hanya deretan data. Tetapi bagi saya, angka tersebut adalah cerita. Cerita tentang bagaimana sesuatu yang dianggap tidak bernilai ternyata masih menyimpan energi.
Ketika mendengar kabar pemadaman listrik bergilir di tanah air, ingatan saya langsung kembali ke laboratorium kecil tempat berbagai percobaan itu dilakukan. Saya teringat bahwa setiap hari rumah-rumah warga sesungguhnya menghasilkan bahan baku energi yang sangat melimpah.
Bayangkan sebuah RT ada 50 rumah. Dari aktivitas memasak sehari-hari saja, puluhan kilogram sampah organik dapat terkumpul setiap hari. Jika dikelola dengan pendekatan yang tepat, limbah tersebut bukan lagi beban lingkungan, melainkan cadangan energi komunitas.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh kebutuhan listrik nasional dapat digantikan oleh MFC. Tidak. Teknologi ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut.
Namun untuk kebutuhan darurat, penerangan lingkungan, sistem cadangan komunitas, atau model energi berbasis kampung, potensinya sangat layak diperhitungkan.
Yang lebih penting sesungguhnya bukan soal listriknya. Yang lebih penting adalah perubahan cara pandang. Kita terlalu lama percaya bahwa energi harus selalu datang dari tempat yang jauh.
Dari pembangkit besar. Dari jaringan raksasa. Dari keputusan yang berada di luar jangkauan warga. Padahal sebagian jawabannya mungkin sedang membusuk perlahan di dalam kantong sampah rumah kita.
Di sinilah makna keberlanjutan yang sesungguhnya. Arek Suroboyo tidak boleh tinggal diam saat kotanya kegelapan!
*) Tun Ahmad Gazali merupakan pensiunan PNS Pemprov Jawa Timur yang berkarier di Jepang sebagai Engineering Leader dan Independent Researcher
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
.png)