Suhu Gurun Tembus 55°C, Unta Mulai Tak Mampu Bertahan

26 Agustus 2026 02:30 26 Agt 2026 02:30

Thumbnail Suhu Gurun Tembus 55°C, Unta Mulai Tak Mampu Bertahan

Unta, salah satu hewan yang mampu bertahan di tengah teriknya gurun, mulai kewalahan hadapi pemanasan global. (Foto: Pixabay)

KETIK, SLEMAN – Unta selama ini dikenal sebagai salah satu hewan yang paling mampu beradaptasi dengan kondisi gurun yang panas dan kering. Namun, perubahan iklim kini membuat kemampuan tersebut menghadapi tekanan yang semakin berat. Suhu ekstrem di sejumlah kawasan gurun bahkan telah mencapai 50–55 derajat Celsius dalam satu dekade terakhir.

Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny R Noor, mengatakan peningkatan suhu tersebut mulai berdampak serius terhadap kesehatan dan kelangsungan hidup unta. Hewan yang terbiasa menghadapi panas ekstrem itu kini dilaporkan mengalami luka lepuh, dehidrasi, hipertermia, gagal ginjal, hingga kematian.

“Fenomena suhu ekstrem yang meningkat di gurun pasir, sampai-sampai bahkan unta pun tidak mampu bertahan, benar-benar menunjukkan adanya krisis iklim yang sangat serius,” ujar Prof Ronny, dalam keterangannya, Selasa, 25 Agustus 2026. 

Dampak suhu ekstrem tersebut terlihat di sejumlah negara. Di Somalia, penelitian mencatat sekitar 73 persen unta di wilayah Sool meninggal. Sementara itu, Kenya mengalami peningkatan kematian unta sebesar 15 persen dalam dua tahun terakhir akibat hipertermia.

Menurut Prof Ronny, tingginya angka kematian tersebut menjadi indikasi bahwa perubahan iklim mulai mendorong kondisi lingkungan melampaui kemampuan adaptasi alami hewan. Gelombang panas dengan suhu yang semakin tinggi membuat unta kesulitan mempertahankan kondisi tubuhnya dalam batas normal.

 

Suhu Ekstrem Tekan Kemampuan Unta Bertahan Hidup

Secara alami, unta memiliki berbagai mekanisme fisiologis untuk menghadapi panas sekaligus menghemat air. Kemampuan tersebut membuat unta dapat hidup di lingkungan yang memiliki suhu tinggi dan sumber air terbatas.

Namun, kenaikan suhu hingga lebih dari 50 derajat Celsius memberikan tekanan yang jauh lebih besar. Tanpa akses terhadap air dan tempat berlindung, unta bahkan dapat mengalami hipertermia serius hanya dalam beberapa jam.

“Pada suhu ekstrem di atas 50°C, bahkan unta yang sehat dapat mengalami hipertermia serius dalam beberapa jam jika tidak memiliki akses terhadap air atau tempat perlindungan. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan metabolisme, hingga kegagalan organ,” ujar Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University ini.

Prof Ronny menjelaskan, perubahan iklim global menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan suhu ekstrem. Emisi gas rumah kaca memperkuat pemanasan global dan meningkatkan intensitas gelombang panas di berbagai wilayah.

Kondisi tersebut semakin berat ketika gelombang panas berlangsung bersamaan dengan kekeringan. Berkurangnya sumber air dan vegetasi gurun membuat unta menghadapi tekanan ganda, yakni suhu tinggi serta semakin terbatasnya sumber makanan dan minuman.

Kekeringan dan Desertifikasi Perburuk Kondisi

Selain perubahan suhu, eksploitasi lahan dan desertifikasi turut memperburuk tekanan terhadap ekosistem gurun. Ketika vegetasi semakin berkurang, ketersediaan pakan untuk ternak ikut menurun.

“Sayangnya, eksploitasi lahan dan desertifikasi semakin memperburuk kondisi ini, sehingga semuanya menjadi semakin sulit,” tambahnya.

Persoalan tersebut tidak hanya mengancam populasi unta. Masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada hewan tersebut juga menghadapi dampak ekonomi dan sosial.

Unta selama ini menyediakan berbagai sumber daya penting bagi masyarakat gurun, mulai dari susu dan daging hingga fungsi sebagai alat transportasi. Ketika kematian ternak meningkat, masyarakat kehilangan sumber pangan sekaligus sumber penghidupan.

Di Ethiopia, peternak di wilayah Afar bahkan melaporkan kehilangan delapan anak unta dalam satu bulan akibat suhu ekstrem. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem gurun.

“Jika unta, simbol kekuatan gurun, tidak lagi mampu bertahan, masyarakat gurun seperti suku Badui di Sahara dan komunitas Bedouin di Timur Tengah tentunya akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlangsungan hidup mereka.”

Krisis Iklim Jadi Ancaman bagi Ekosistem Gurun

Menurut Prof Ronny, fenomena tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar persoalan kenaikan suhu. Perubahan kondisi lingkungan juga dapat menguji batas kemampuan makhluk hidup untuk bertahan di habitat alaminya.

Masyarakat di wilayah terdampak pada akhirnya perlu beradaptasi melalui pengelolaan air, pemanfaatan tanaman yang lebih tahan panas, hingga kemungkinan perpindahan ke wilayah dengan kondisi lingkungan yang lebih sesuai. Namun, langkah tersebut juga berhadapan dengan tantangan mempertahankan tradisi dan identitas budaya yang selama ini berkaitan erat dengan kehidupan gurun.

Kemampuan unta bertahan di tengah panas sebenarnya ditopang oleh mekanisme fisiologis yang sangat khas. Namun, kemampuan tersebut bukan tanpa batas, terutama ketika suhu lingkungan terus meningkat hingga melewati ambang toleransinya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Perubahan iklim Suhu Gurun Unta krisis iklim Kematian Unta Suhu Ekstrem Desertifikasi