Pakar UGM Waspadai Malaria Zoonotik dari Primata, Bisa Berakibat Fatal dalam Waktu Singkat

31 Mei 2026 16:00 31 Mei 2026 16:00

Thumbnail Pakar UGM Waspadai Malaria Zoonotik dari Primata, Bisa Berakibat Fatal dalam Waktu Singkat

Nyamuk Aedes Aegypti. (Foto: halodoc.com)

KETIK, YOGYAKARTA – Malaria di Indonesia tidak hanya ditularkan melalui siklus penularan antarmanusia. Para ahli mengingatkan adanya ancaman malaria zoonotik, yakni malaria yang berasal dari satwa liar dan dapat menular ke manusia melalui perantara nyamuk.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, mengatakan salah satu ancaman yang perlu mendapat perhatian adalah parasit Plasmodium knowlesi yang secara alami hidup pada primata seperti monyet ekor panjang dan orangutan.

Parasit tersebut dapat berpindah ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles yang sebelumnya mengisap darah primata yang terinfeksi.

“Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian,” katanya.

Selain menghadapi ancaman zoonotik, pengendalian malaria juga dihadapkan pada tantangan dalam aspek pengobatan. Wisnu menjelaskan sejumlah obat antimalaria generasi lama, termasuk kina, mulai kehilangan efektivitas akibat resistensi parasit.

Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan harus menggunakan obat generasi baru yang lebih mahal dan memerlukan sistem distribusi yang lebih kompleks.

Di wilayah endemis, distribusi obat dan tenaga kesehatan juga masih terkendala akses geografis serta faktor keamanan. Akibatnya, masyarakat di sejumlah daerah terpencil kerap mengalami keterlambatan diagnosis dan pengobatan.

Padahal, malaria dapat berkembang menjadi penyakit berat dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.

Menurut Wisnu, keberhasilan pengendalian malaria membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar pelayanan kesehatan manusia. Ia mendorong penerapan konsep One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Melalui pendekatan tersebut, upaya deteksi dini, pengobatan, pengendalian vektor, serta perlindungan lingkungan dapat berjalan secara terpadu dan berkelanjutan.

Wisnu menilai target eliminasi malaria pada 2030 masih realistis dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan mampu membangun koordinasi yang kuat dan konsisten.

“Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja,” tutup Wisnu. (*)

Tombol Google News

Tags:

Malaria Zoonotik Plasmodium Knowlesi Malaria Dari Primata One Health Pengendalian Malaria Fakultas Kedokteran Hewan Ugm Penyakit Zoonosis