KETIK, BANDUNG – Telkom University (Tel-U) terus mendorong hilirisasi hasil penelitian agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Salah satunya melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan puluhan pengelola pondok pesantren se-Kabupaten Bandung untuk menyempurnakan model penguatan tata kelola keuangan dan pemberdayaan ekonomi pesantren berbasis teknologi.
FGD bertajuk "Konversi Modal Sosial Pesantren menjadi Modal Komersial melalui Credit Scoring AI Berbasis Digital Footprint Sistem Informasi Akuntansi untuk Inklusi Keuangan Syariah" digelar di Gedung Damar Telkom University, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Rabu (5/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti puluhan perwakilan pondok pesantren di bawah koordinasi Pengurus Cabang Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMI NU) Kabupaten Bandung.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Institut Riset Intelligent Business and Sustainable Economy Telkom University dan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung sebagai landasan kolaborasi pengembangan tata kelola ekonomi pesantren.
Ketua Center of Excellence (CoE) Smart MSME and Halal Ecosystem (SHE) Telkom University, Dr. Ir. Endang Chumaidiyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Tel-U agar hasil penelitian dosen tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat.
"Kami memiliki sekitar 55 dosen dari berbagai bidang keahlian. Tugas kami bukan hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mampu memberikan solusi bagi industri, UMKM, maupun pesantren," ujarnya.
Menurut Endang, FGD menjadi tahapan penting untuk memperoleh masukan langsung dari pengelola pondok pesantren sehingga model yang sedang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Ia menjelaskan, penelitian tersebut memperoleh pendanaan hibah dari Bank Indonesia dan berfokus pada pengembangan sistem informasi akuntansi serta pemanfaatan digital footprint sebagai dasar penyusunan credit scoring guna memperluas akses pesantren terhadap layanan keuangan syariah.
"Riset yang baik harus mampu menyelesaikan persoalan nyata. Karena itu kami ingin hasil penelitian ini tidak berhenti di kampus, tetapi dapat diterapkan dan memberikan manfaat langsung bagi pesantren," katanya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung H. Ramlan Rustandi mengapresiasi inisiatif Telkom University yang melibatkan pesantren sejak awal proses pengembangan riset.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan profesionalisme tata kelola lembaga pendidikan Islam, khususnya dalam pengelolaan administrasi dan keuangan pesantren.
"Setelah penandatanganan MoU, langsung dilanjutkan dengan FGD yang membahas pengelolaan keuangan pesantren secara profesional. Kami berharap hasil penelitian Telkom University dapat diterapkan sehingga pengelolaan pesantren menjadi lebih mudah, cepat, akurat, dan semakin berkembang," ujarnya.
Ramlan berharap sinergi antara Telkom University dan Kementerian Agama dapat terus berkembang melalui berbagai program riset dan pendampingan yang memperkuat kemandirian ekonomi pesantren sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola lembaga pendidikan Islam di Kabupaten Bandung.(*)
