KETIK, SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur Jatim terus mendorong percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) melalui optimalisasi lahan pertanian potensial di berbagai daerah untuk mempertahankan tren positif sekaligus predikat lumbung pangan nasional.
"Jawa Timur akan terus berikhtiar menjaga stabilitas dan produktivitas sektor pertanian. Melalui sinergi dan kolaborasi seluruh pihak, kami optimis mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia,” ujar Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Surabaya pada Kamis, 4 Juni 2026.
Sebagai upaya menguatkan sektor pertanian, langkah diperkuat melalui penggunaan benih unggul bersertifikat dan adaptif terhadap perubahan iklim, optimalisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), penerapan teknologi budidaya lebih modern, serta penguatan infrastruktur sumber daya air melalui rehabilitasi jaringan irigasi dan pengembangan irigasi perpompaan.
Selain itu, sistem deteksi dini dan pelaporan cepat terhadap potensi bencana pertanian juga terus diperkuat agar langkah mitigasi dapat dilakukan secara cepat, tepat dan terukur sehingga risiko gagal panen dapat diminimalkan.
Lebih lanjut, Khofifah menyebut capaian sebagai lumbung pangan nasional menjadi motivasi bagi seluruh insan pertanian Jawa Timur untuk terus meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Dengan dukungan teknologi dan infrastruktur serta kebijakan berpihak kepada petani, kata dia, Jawa Timur diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai produsen padi terbesar nasional sekaligus menjadi daerah yang berkontribusi penting dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.
“Keberhasilan ini bukan hanya capaian statistik, tetapi juga wujud nyata dedikasi para petani yang setiap hari bekerja menjaga ketersediaan pangan bangsa. InsyaAllah keberpihakan terhadap sektor pertanian akan terus menjadi prioritas pembangunan Jawa Timur,” tuturnya.
Sebagai informasi, Jawa Timur menegaskan kembali posisinya sebagai lumbung pangan nasional usai data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 2 Juni 2026 tercatat sebagai provinsi dengan potensi produksi padi terbesar secara nasional pada periode Januari hingga Juli 2026.
Potensi produksi padi Jawa Timur diproyeksikan mencapai 7,71 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat 5,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar 7,30 juta ton GKG. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur di posisi teratas secara nasional, melampaui Jawa Tengah dengan potensi produksi 7,00 juta ton GKG dan Jawa Barat sebesar 5,98 juta ton GKG.
Lebih lanjut, berdasarkan data BPS, peningkatan produksi padi Jawa Timur ditopang oleh kenaikan luas panen yang mencapai 1,38 juta hektare pada Januari–Juli 2026, meningkat dari 1,30 juta hektare pada periode yang sama tahun sebelumnya atau tumbuh sebesar 5,49 persen. (*)
