Cerita Mbah Djalmo, 1 di Antara 8.802 Penyandang Disabilitas Netra Miskin di Sidoarjo

18 Mei 2026 05:51 18 Mei 2026 05:51

Fathur Roziq

Editor
Thumbnail Cerita Mbah Djalmo, 1 di Antara 8.802 Penyandang Disabilitas Netra Miskin di Sidoarjo

Mbah Djalmo berjalan tertatih dan dipapah oleh anggota DPRD Sidoarjo Sutaji yang menyambangi rumahnya pada akhir April 2026 lalu. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

KETIK, SIDOARJO – Cerita tentang Mbah Djalmo menggetarkan ruang rapat DPRD Sidoarjo. Peserta rapat koordinasi (rakor) di Komisi DPRD Sidoarjo

pada Selasa siang (12 Mei 2026) tertegun. Kondisi Mbah Djalmo benar-benar terdengar miris. 

Lelaki 73 tahun itu hidup sebatangkara di Dusun Tanggulrejo, Porong, Sidoarjo. Simbol kemiskinan ekstrem di tengah kemajuan kota berpenduduk 2,4 juta jiwa yang semakin gemerlap dan memetropolis. Hasanah, istri lansia bernama lengkap Sudjalmo, itu telah meninggal pada 2022 lalu.

”Mbah Jalmo ini sudah tidak punya siap-apa, Pak,” kata Halimah, ketua RT 3, RW 6, di tempat Mbah Djalmo tinggal.

Mbah Jalmo tak punya rumah. Bangunan reot yang dia tempati berdiri di atas tanah pengairan. Tanpa listrik. Tidak ada sumur. Dinding, atap, dan seluruh bagian rumahnya ditopang oleh kayu-kayu yang suda lapuk. Rumah di samping Mbah Djalmo pun bahkan ambruk. Sudah tumbuh pohon di ruang tamunya.

Dengan kondisi tak mampu melihat, Mbah Djalmo hidup sendirian. Makan disiapi tetangga. Itu pun utang. Dia baru membayar jika bantuan yang dia terima 3 bulan sekali Rp 600 ribu cair.

”Makannya saya mi,” ucap kakek yang tidak memiliki anak dan cucu tersebut.

Kaus yang melekat di kulit sudah lusuh. Tubuhnya terlihat tidak terurus. Bau tak sedap bahkan tercium dari badannya yang sudah renta. Mbah Djalmo mengaku terus terang sangat jarang mandi. Seingatnya, seminggu yang lalu kali terakhir tangannya menyentuh air.

Foto Rumah warga Dusun Tanggulrejo, Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, Sidoarjo, yang kondisinya rusak parah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)Rumah warga Dusun Tanggulrejo, Kelurahan Porong, Kecamatan Porong, Sidoarjo, yang kondisinya rusak parah. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)

Ketika jurnalis Ketik.com masuk ke rumahnya, Mbah Djalmo terlihat hanya berjalan tertatih. Kedua matanya tidak mampu membantu lagi. Tangannya meraih-raih dinding kayu, menuju kamarnya yang gelap dan kotor. Sekitar 20 menit dia masuk kamar. Barulah Mbah Djalmo keluar lagi.

Niki KTP kulo,” tambah lelaki kelahiran Sidoarjo 1 Januari 1953 tersebut. Rupanya, dia butuh waktu untuk mencari KTP yang ada di dalam kamar.

Begitulah seorang tunanetra menjalani hari-harinya yang gelap gulita. Cuma dengan meraba-raba dia menelusuri jalan hidup. Seperti syair lagu Rhoma Irama yang berjudul Buta.

 

Terangnya dunia tak mampu dipandanginya//

Indahnya dunia tak dapat dinikmatinya//

Terang bagi orang gelap bagi dia//

Indah bagi orang suram bagi dia//

 

Tanpa penglihatan dilalui hidup ini//

Tongkat yang di tangan menjadi teman abadi//

Begitu derita nasib orang buta//

Hidup di dunia di dalam gulit//

 

Kisah tentang penderitaan seorang penyandang tunanetra tidak hanya cerita tentang nasib seorang Mbah Djalmo. Ribuan orang lain mengalami kondisi yang sama. Di Kabupaten Sidoarjo, total ada 8.802 penyandang disabilitas netra atau low vision. Masing-masing 5.896 gangguan ringan, 2.029 sedang, dan 877 penyandang disabilitas netra berat.

Data yang diperoleh Ketik.com menyebutkan jumlah penyandang disabilitas netra/low vision ini merupakan jumlah kedua terbanyak dari seluruh warga penyandang disabilitas di Kabupaten Sidoarjo. Total 37.521 jiwa terdata sebagai penyandang disabilitas yang masuk kategori miskin. Terbanyak tunaganda, 10.009 jiwa. Setelah itu, disabilitas netra/low vision yang mencapai 8.802 jiwa.

Di antara 8 ribu lebih penyandang disabilitas netra/low vision itu, 5.613 orang telah tercatat sebagai Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK). Sedangkan, 3.189 lainnya belum menerima PBI-JK. Perbandingannya 63,8 persen dan 36,2 persen.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sidoarjo Mharta W. Kusuma ketika dikonfirmasi menyatakan dinas sosial telah mencermati data-data tentang warga miskin di Kabupaten Sidoarjo. Semua pilar-pilar sosial diturunkan untuk cek langsung ke lapangan.

”Data-data yang ada kami jadikan dasar untuk cross check langsung,” katanya.

Mharta W. Kusuma menyatakan warga yang masuk kategori miskin itu merupakan tanggung jawab pemerintah. Dinas Sosial  Sidoarjo akan melayani dan memfasilitasi mereka untuk memperoleh bantuan sosial yang dibutuhkan.

”Kita berkolaborasi dengan berbagai stakeholders lainnya,” tambahnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

sidoarjo Miskin Esktrem Tanggulrejo Porong Dinsos Sidoarjo DPRD Sidoarjo Tunanetra Sidoarjo