KETIK, SURABAYA – Prestasi membanggakan kembali diraih mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember di kancah global. Tim riset Spektronics ITS sukses mengharumkan nama Indonesia dalam ajang The 17th Malaysia Chem E-Car Competition 2026 yang digelar di Xiamen University Malaysia.
Mengusung purwarupa mobil berbasis reaksi kimia bernama Dodit, tim ini berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yakni 2nd Runner Up for Poster Category dan 5th Winner for Car Performance Category.
Manager Non-Technical Spektronics ITS, Nayla Muli Fathia, mengungkapkan bahwa capaian tersebut melampaui ekspektasi tim.
“Kami cukup puas karena berhasil memborong dua penghargaan yang melebihi ekspektasi,” ujarnya mengutip laman resmi ITS.
Inovasi Mobil “Dodit”
Nayla menjelaskan, mobil Dodit yang merupakan generasi Spektronics ke-32 dirancang selama lima bulan dengan basis sistem tekanan. Keunggulan utamanya terletak pada keseimbangan antara performa dan ketahanan.
Mobil ini dilengkapi high-performance torque gear yang mampu menyesuaikan berbagai kondisi lintasan. Selain itu, struktur kendaraan dibuat kokoh untuk menjaga stabilitas serta memungkinkan adaptasi cepat terhadap perubahan kondisi saat lomba.
“Strukturnya didesain tangguh dan solid sehingga mampu menjaga stabilitas serta beradaptasi dengan perubahan kondisi lintasan secara cepat,” jelasnya.
Tantangan di Arena Lomba
Di balik keberhasilan tersebut, tim menghadapi sejumlah kendala, mulai dari perbedaan skema penilaian hingga kebutuhan kalibrasi ulang kendaraan di lokasi kompetisi.
Untuk mengatasinya, tim menerapkan prosedur operasional yang ketat serta pengambilan keputusan berbasis data agar sistem kendaraan tetap stabil dalam waktu singkat.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Keberhasilan ini merupakan hasil kolaborasi mahasiswa lintas jurusan. Selain Nayla, tim diperkuat oleh Rifki Zauhar, Davlin Karnadi, Stanley Hendrata, Khonuri Salsabilla, Ilham Zain Muttaqin, dan Audy Febi Narendra. Mereka dibimbing langsung oleh Juwari.
Dukung Inovasi Berkelanjutan
Prestasi ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek industri, inovasi, dan produksi bertanggung jawab. Teknologi yang dikembangkan dinilai mampu menghasilkan efisiensi energi sekaligus meminimalkan limbah kimia.
“Semoga ITS terus menjadi kampus pendorong lahirnya inovasi baru sebagai Home of Champions,” tutup Nayla. (*)
