KETIK, MALANG – Situs Patirtaan Ngawonggo di Kabupaten Malang, pemandian suci peninggalan abad ke-10 Masehi, kini dapat dijelajahi pengunjung melalui perangkat virtual reality. Fasilitas tersebut hadir sejak pertengahan 2026 di kawasan yang selama ini dirawat dan dikelola warga secara mandiri.
Situs ini berada di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Malang. Tidak ada gapura besar maupun papan nama mencolok di sana. Jalan masuknya menyempit melewati pemukiman warga, sehingga banyak orang melintas tanpa menyadari ada peninggalan seribu tahun di baliknya.
Kesan pertama justru datang dari suasananya. Kawasan ini rimbun oleh rumpun bambu dan pepohonan, udaranya sejuk, dan halamannya terawat bersih tanpa sampah berserakan. Yang terdengar hanya gemericik air yang mengalir dari sumber, desau angin, dan suara burung. Banyak tamu datang bukan untuk berfoto, melainkan untuk duduk berlama-lama menenangkan pikiran.
Patirtaan Ngawonggo berasal dari era Mpu Sindok, raja yang memindahkan pusat Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10 Masehi. Dalam tradisi Hindu-Buddha, patirtaan adalah bangunan pemandian suci yang digunakan untuk penyucian rohani. Airnya masih mengalir dari sumber yang sama hingga hari ini, dan warga tetap memperlakukannya sebagaimana dulu. Setiap orang yang hendak turun ke situs diminta melepas alas kaki dan mengenakan kain penutup.
Selama bertahun-tahun ada satu hal yang dirasa kurang. Pengunjung hanya melihat susunan batu tua tanpa mengetahui fungsi kolam yang mereka lewati atau makna pahatan di dindingnya. Di sisi lain, pengelola sangat berhati-hati terhadap segala bentuk penambahan di kawasan situs, karena khawatir tempat itu berubah rasa dari ruang yang dihormati menjadi taman wisata biasa.
Jalan tengahnya ditemukan lewat perangkat virtual reality. Pengunjung memakainya lebih dahulu untuk melihat rekonstruksi digital situs pada masa penggunaannya, saat bangunan masih utuh dan air mengalir untuk keperluan ritual, lengkap dengan narasi sejarahnya. Setelah itu barulah mereka melepas alas kaki, mengenakan kain, dan turun ke situs aslinya.
Penempatan perangkat diatur agar tidak mengubah kawasan, yaitu di luar area yang disakralkan, tanpa instalasi permanen di petirtaan, dan berjalan tanpa koneksi internet mengingat sinyal di lokasi terbatas.
"Teknologinya yang masuk, situsnya tidak berubah," kata Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Negeri Malang, Drs. Ir. Abdullah Helmy, M.Pd., Ph.D.
Pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada pemasangan alat. Anggota Pokdarwis dilatih mengoperasikan dan merawat perangkat VR, memandu pengunjung yang menggunakannya, hingga menyusun konten dan mengelola media sosial secara mandiri.
Narasi sejarah dalam aplikasinya pun disusun bersama Pokdarwis dan pengelola situs.
"Sasaran kami adalah kemandirian, agar warga bisa mengelola dan mempromosikan situsnya sendiri tanpa bergantung pihak luar," kata anggota tim pengabdian, Dr. Shinta Maharani Trivena, S.AB., M.AB.
Konten untuk Instagram dan YouTube digarap tanpa memakai musik kekinian. Yang terdengar hanya suara asli dari situs itu sendiri. Bagi pengelola, kesakralan tempat ini tidak berhenti di kawasan situs, tetapi ikut terbawa sampai ke layar.
Daya tarik lain ada di Tomboan, tempat menjamu tamu yang dikelola warga di sisi kawasan. Namanya berasal dari kata tombo yang berarti obat, berisi minuman tradisional dari bahan-bahan yang dipercaya menyehatkan, diracik warga sendiri dan disajikan lesehan di gubuk bambu. Tersedia pula nasi empok, urap, pecel, lodeh, dan botok beserta aneka gorengan yang renyah. Semuanya dimasak dengan kayu bakar, dan hasilnya terasa gurih dengan aroma yang tidak bisa ditiru kompor. Sajian ini harus dipesan lebih dahulu, dan justru di situlah menariknya, karena pengunjung bisa meminta ingin dimasakkan apa. Ada pula kegiatan sinau jajan atau belajar membuat kue tradisional bersama warga, belajar membatik, serta agenda budaya mengikuti kalender Jawa seperti peringatan Suro.
Meski belum banyak dikenal, situs ini perlahan mulai dilirik. Beberapa biro perjalanan telah memasukkannya sebagai persinggahan dalam paket wisata menuju kawasan Bromo Tengger Semeru, meski jumlahnya masih terbatas dan belum menjadi rute umum.
Pengelola kini menyiapkan langkah lanjutan, yakni menjajaki kerja sama yang lebih luas dengan biro perjalanan dan agen wisata. Booklet profil situs yang memuat sejarah, aktivitas, dan ketentuan berkunjung telah tersedia dan akan menjadi bahan penawaran kepada para mitra.
"Booklet-nya sudah siap, dan akan kami tawarkan ke biro perjalanan agar Ngawonggo bisa masuk paket wisata Bromo," ujar Juru Pelihara Situs Patirtaan Ngawonggo, Rahmad Yasin.
Wisatawan mancanegara pun sesekali datang, karena situs yang dikelola warga sendiri dengan tradisi yang masih dijalankan sehari-hari menawarkan sesuatu yang berbeda dari destinasi arus utama.
"Ngawonggo mengisi celah yang belum tergarap di peta wisata Malang, yaitu destinasi budaya yang masih hidup, bukan sekadar tempat singgah untuk berfoto," kata anggota tim pengabdian, Karina Ega Nirwana, S.ST.Par., M.Par.
Bagi yang ingin berkunjung, sebaiknya gunakan navigasi digital karena jalan masuknya mudah terlewat, kenakan pakaian yang pantas mengingat ini ruang yang dihormati warga, dan datang dengan waktu longgar sebab suasananya justru terasa setelah duduk cukup lama. Rombongan disarankan menghubungi pengelola lebih dahulu, terutama bila ingin mencoba VR, sinau jajan, atau membatik.
Ada yang menarik dari cara situs ini berbenah. Biasanya, ketika sebuah tempat ingin lebih dikenal, yang pertama ditambah adalah bangunannya berupa gapura, papan nama besar, dan spot foto. Di Ngawonggo, yang ditambah justru ceritanya, sementara tempat dan tradisinya dibiarkan apa adanya.
Perangkat virtual reality di Situs Patirtaan Ngawonggo merupakan hasil Program Pengabdian kepada Masyarakat BIMA Politeknik Negeri Malang bersama Kelompok Sadar Wisata Kaswangga, yang dilaksanakan Drs. Ir. Abdullah Helmy, M.Pd., Ph.D., Dr. Shinta Maharani Trivena, S.AB., M.AB., dan Karina Ega Nirwana, S.ST.Par., M.Par. Program ini diusulkan melalui Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
.png)