Kajian Gender Synergy UIN Malang, Dr. Jamilah Ungkap 7 Akar Bias Gender di Masyarakat

29 Juli 2026 05:04 29 Jul 2026 05:04

Shilfina Hidayah, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kajian Gender Synergy UIN Malang, Dr. Jamilah Ungkap 7 Akar Bias Gender di Masyarakat

Dr. Jamilah, M.A menjelaskan materi mengenai 7 Akar Bias Gender di Masyarakat di hadapan peserta seminar "Kajian Gender Synergy: Mengurai Bias, Membangun Inklusi di Seluruh Rumpun Keilmuan" pada Selasa, 28 Juli 2026 (Foto: Alifia/ Ketik.com)

KETIK, MALANG – Persoalan kesenjangan gender ternyata berakar dari tujuh klasifikasi pembedaan yang telah mengakar kuat dalam konstruksi sosial masyarakat.

Hal ini disampaikan Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Jamilah dalam seminar yang digelar di Rektorat UIN Malang Lantai 3 pada Selasa, 28 Juli 2026.

Dalam seminar yang bertajuk "Kajian Gender Synergy: Mengurai Bias, Membangun Inklusi di Seluruh Rumpun Keilmuan" ini, Jamilah menjelaskan bahwa tujuan dari gerakan gender adalah memperjuangkan keadilan sosial dan mengurai bias yang sering mengakar dalam konstruk masyarakat.

Menurutnya, pembedaan gender di masyarakat lahir dari klasifikasi dhohir (tampak) yang terus direproduksi hingga menjadi ideologi.

Wakil Dekan yang baru dilantik seminggu lalu ini merinci setidaknya ada 7 klasifikasi pembedaan yang kerap dilekatkan pada laki-laki dan perempuan di masyarakat:

  1. Cara Berpakaian: Adanya norma kepantasan dan batasan visual yang ketat.
  2. Jenis Pekerjaan: Pemilahan peran kerja yang sering kali mendikotomi antara pekerjaan kasar/pemutus kebijakan dengan pekerjaan halus.
  3. Ranah: Pemisahan tegas antara ranah publik dan domestik, di mana pekerjaan domestik sering dianggap tak bernilai secara ekonomi.
  4. Perilaku: Pembatasan ekspresi sosial, seperti norma perempuan tidak boleh tertawa terlalu keras.
  5. Karakteristik: Pelabelan sifat emosional maupun rasional pada gender tertentu.
  6. Bahasa
  7. Ide: Klasifikasi gagasan yang dianggap pantas atau tidak pantas diusulkan oleh salah satu gender.

"Ketujuh klasifikasi inilah yang kemudian melahirkan dikotomi sifat feminin dan maskulin. Padahal, feminin dan maskulin itu adalah sifat yang ada di dalam diri setiap manusia, bukan bentuk fisik," terang Dr. Jamilah di hadapan para peserta.

Melalui seminar ini, Pusat Studi Gender, Anak, dan Disabilitas (PSGAD) LP2M UIN Malang berharap civitas akademika dari lintas rumpun keilmuan memiliki kesadaran kritis terhadap fenomena sosial demi mewujudkan lingkungan yang lebih inklusif dan berkeadilan.(*)

Tombol Google News

Tags:

UIN Malang Psgad Uin Malang Dr. Jamilah