Empat Profesor Baru UIN KHAS Jember Dikukuhkan, Sahiron Dorong Ilmu Menembus Pesantren dan Masyarakat

18 September 2026 16:05 18 Sep 2026 16:05

Haryono, Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Empat Profesor Baru UIN KHAS Jember Dikukuhkan, Sahiron Dorong Ilmu Menembus Pesantren dan Masyarakat

Plt Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Phil. Sahiron usai mengukuhkan Empat akademisi yang resmi menyandang gelar profesor tersebut adalah Prof. Busriyanti, Prof. Abdul Kholiq Syafa’at, Prof. Abdul Mu’is, dan Prof. Abdul Rokhim. (Foto: Humas UIN KHAS Jember for Ketik.com)

KETIK, BONDOWOSO – UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menambah kekuatan akademiknya dengan mengukuhkan empat dosen sebagai guru besar. Pengukuhan ini bukan sekadar penanda kenaikan jenjang akademik, tetapi juga menjadi momentum untuk mendorong para profesor memperluas pengabdian hingga ke tengah masyarakat.

Prosesi pengukuhan berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu UIN KHAS Jember, Kamis (17/9/2026). Empat akademisi yang resmi menyandang gelar profesor tersebut adalah Prof. Busriyanti, Prof. Abdul Kholiq Syafa’at, Prof. Abdul Mu’is, dan Prof. Abdul Rokhim.

Masing-masing memiliki bidang kepakaran yang berbeda. Prof. Busriyanti dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Keluarga Islam. Prof. Abdul Kholiq Syafa’at sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pemikiran Hukum Islam Indonesia.

Selanjutnya, Prof. Abdul Mu’is dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam. Sedangkan Prof. Abdul Rokhim menyandang jabatan Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Syariah.

Plt Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Phil. Sahiron, mengingatkan bahwa status guru besar membawa tanggung jawab yang lebih luas. Menurutnya, kepakaran yang dimiliki profesor harus dapat dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh mahasiswa, tetapi juga masyarakat.

Sahiron membuka ruang pengabdian itu seluas-luasnya, termasuk melalui pesantren, madrasah, majelis taklim hingga berbagai kegiatan kemasyarakatan.

“Selain mengajar di perguruan tinggi, bisa memberikan ilmunya ke dunia pesantren, madrasah, majelis taklim dan juga pengabdian pada masyarakat,” kata Sahiron.

Sahiron juga menekankan pentingnya menjaga warisan pemikiran ulama terdahulu sekaligus terus mengembangkan ilmu sesuai tuntutan zaman.

Baginya, tradisi keilmuan tidak boleh berhenti pada apa yang telah dicapai sebelumnya. Perkembangan pengetahuan harus terus berjalan dengan tetap berpijak pada khazanah keilmuan yang telah diwariskan.

“Ilmu pengetahuan jangan mandek. Dalam bidang keislaman terus dikembangkan dengan tetap mempertahankan pemikiran lama para ulama terdahulu,” tuturnya.

Menurut Sahiron, perubahan teknologi digital menjadi salah satu faktor yang membuat perguruan tinggi harus terus beradaptasi. Kebutuhan masyarakat terhadap pengetahuan juga semakin berkembang seiring perubahan zaman.

Karena itu, pengembangan keilmuan tidak cukup dilakukan secara parsial. Ia mendorong adanya integrasi berbagai disiplin ilmu agar perguruan tinggi mampu menghasilkan perspektif yang lebih komprehensif dalam membaca persoalan masyarakat.

“Dengan cara mengembangkan melalui integrasi keilmuan. Digabungkan berbagai macam ilmu,” ucapnya.

Di sisi lain, pengukuhan empat guru besar tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat jumlah profesor di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam.

Sahiron menyebut jumlah profesor di perguruan tinggi keagamaan Islam, baik negeri maupun swasta di bawah Kementerian Agama, masih berada di angka sekitar 1.730 orang.

“Kalau profesornya itu hanya 1.700 sekian, ini masih sangat sedikit,” ujarnya.

Ia pun mendorong dosen yang telah menyelesaikan pendidikan doktor untuk terus melanjutkan perjalanan akademiknya hingga mencapai jabatan guru besar.

Menurut Sahiron, bertambahnya profesor akan memperkuat sumber daya manusia perguruan tinggi sekaligus memperbesar ruang kontribusi akademisi dalam pengembangan ilmu dan pengabdian kepada masyarakat.

Dorongan tersebut juga dikaitkan dengan kebutuhan menyiapkan sumber daya manusia untuk menghadapi target pembangunan Indonesia menuju 2045.

“Supaya jumlahnya lebih banyak lagi dan kita menyongsong Indonesia Emas tahun 2045,” tegasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

UIN KHAS Jember info bondowoso kabar bondowoso Sahiron Guru Besar