KETIK, JAKARTA – Pemain Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20 sekaligus penggawa Timnas Indonesia U-20, Fadly Alberto Hengga, menyampaikan permohonan maaf terbuka setelah melakukan pelanggaran keras dalam laga Elite Pro Academy 2026 (EPA 2026) melawan Dewa United FC U-20.
Dalam pernyataan resminya, Fadly mengaku menyesali tindakan tidak terpuji yang dilakukannya, yakni menendang pemain lawan, Raka Nurkolis, dalam pertandingan tersebut.
“Secara khusus saya meminta maaf kepada Raka Nurkolis dan tim Dewa United atas perbuatan bodoh saya menendang Raka Nurkolis,” ujarnya, dalam video yang diunggah pada Senin, 20 April 2026.
Pemain berdarah Papua-Jawa ini menegaskan bahwa dirinya menyadari kesalahan tersebut dan menyebut tindakannya sebagai perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang pemain profesional.
Tak hanya kepada lawan, Fadly juga menyampaikan permintaan maaf kepada klubnya, Bhayangkara Presisi Lampung FC U-20. Ia mengakui telah merugikan tim, termasuk kepada jajaran manajemen, pelatih, dan rekan setim.
Selain itu, Fadly turut meminta maaf kepada Tim Nasional Indonesia karena merasa tindakannya telah mencoreng nama baik tim. Ia juga menyampaikan penyesalan kepada masyarakat atas kegaduhan yang ditimbulkan akibat insiden tersebut.
Fadly berharap kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi dirinya untuk lebih mampu mengendalikan emosi di masa mendatang. Ia juga menyatakan kesiapan untuk menerima sanksi atas pelanggaran yang dilakukan.
“Dan terakhir, saya siap menerima sanksi yang setimpal atas tindakan saya dan saya berjanji tidak akan mengulangi tindakan tersebut,” katanya.
Dibesarkan oleh orang tua tunggal dengan ibu yang bekerja sebagai buruh cuci, hidup Fadly Alberto Hengga pada tahun 2025 lalu menuai simpati dari banyak pihak. Berkat prestasinya yang menyumbang gol dan mengantar tim Garuda Muda melaju di Piala Dunia U-17 tahun 2025 silam, keluarga Fadly mendapat donasi rumah. Hal ini karena keluarganya masih tinggal menumpang di gubuk, di atas tanah milik Perhutani.
Bakat sepak bola telah mengangkat taraf kehidupan ekonomi keluarga Fadly. Namun, semua itu kini terancam akibat emosi sesaat dalam laga yang seharusnya berlangsung sportif. (*)
