KETIK, SURABAYA – Bagi warga Surabaya, Persebaya bukan sekadar klub sepak bola. Keberadaannya telah menjadi bagian dari identitas kota, budaya masyarakat hingga kebanggaan kolektif yang tumbuh lintas generasi. Mulai anak-anak, bahkan di bawah usia lima tahun, bocah seusia SD, remaja, dewasa hingga lanjut usia (lansia), kaum laki-lakinya hampir mencintainya, klub kebanggaan dari tanah kelahiran.
Bahkan, saat ini pencinta sepak bola tak mengenal gender. Wanita segala usia juga merasakannya. Atmosfer luar biasa di stadion kini semakin berwarna dengan kehadiran anak-anak dan wanita.
Persebaya didirikan pada tahun 1927, menjadikannya salah satu klub tertua di Indonesia. Tahun ini usianya 99 tahun dan tahun depan genap 1 abad alias 100 tahun. Sejak era kolonial, Persebaya telah menjadi representasi masyarakat Surabaya dalam dunia olahraga.
Pada masa perjuangan kemerdekaan, semangat perlawanan yang melekat pada Kota Pahlawan turut tercermin dalam karakter tim yang dikenal berani dan pantang menyerah. Dukungan masyarakat terhadap Persebaya tumbuh seiring perkembangan Surabaya sebagai kota perdagangan dan industri.
Hari ini, Persebaya menjadi salah satu ikon paling kuat yang dimiliki Surabaya. Nama Surabaya hampir selalu identik dengan Persebaya, sebagaimana kota-kota besar dunia memiliki klub yang merepresentasikan identitas daerahnya.
Setiap pertandingan kandang di Stadion Gelora Bung Tomo tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang. Pegawai, pelajar, mahasiswa hingga pelaku usaha dapat bersatu dalam satu warna, yakni hijau.
Keberadaan komunitas pendukung seperti Bonek juga memperkuat hubungan antara klub dan kota. Bonek berkembang menjadi fenomena sosial yang mencerminkan karakter warga Surabaya, yaitu terbuka, solid, berani, totalitas serta loyalitas. Bahkan, Bonek tak hanya jago kandang. Kala bermain di kota orang, mereka datang, bersorak dan bernyanyi bersama.
Selain aspek olahraga, Persebaya juga memberikan dampak ekonomi melalui sektor UMKM, kuliner, transportasi, hingga penjualan merchandise pada setiap penyelenggaraan pertandingan.
Ke depan, hubungan Surabaya dan Persebaya berpotensi semakin erat meski secara profesional tak ada kaitannya sama sekali. Klub sepak bola modern tidak hanya berfungsi sebagai tim kompetisi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi kreatif, pariwisata olahraga, dan promosi kota.
Apabila pengelolaan klub, pembinaan pemain muda, dan pengembangan infrastruktur olahraga terus ditingkatkan, Persebaya dapat menjadi duta kota Surabaya di tingkat nasional maupun internasional. Pemerintah kota, pelaku usaha, dan masyarakat juga dapat memanfaatkan popularitas Persebaya untuk memperkuat city branding Surabaya sebagai kota yang modern, kreatif, dan memiliki budaya sepak bola yang kuat.
Sekalli lagi, secara profesional memang tak ada hubungannya Pemkot dan Persebaya, tapi Surabaya tanpa Persebaya bagai sayur tanpa garam, hambar terasa kurang lengkap. Persebaya bukan hanya tentang menang atau kalah di lapangan, melainkan tentang rasa memiliki terhadap kota. Ketika Persebaya bertanding, yang dibawa bukan hanya nama klub, tetapi juga nama Surabaya. Tak salah salah satu spanduk yang kerap terpasang di stadion bertuliskan “Buat Apa Surabaya Tanpa Persebaya?”.
Mimpi Juara 1 Abad
Bagi klub besar, termasuk Persebaya, target juara selalu menjadi harapan yang hidup di setiap musim. Dukungan besar dari Bonek, sejarah panjang klub, serta status tim terbesar di Tanah Air membuat ekspektasi terhadap Green Force selalu tinggi. Namun, untuk benar-benar mengangkat trofi liga, ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi.
Lantas, apa saja tantangannya? Yang paling utama adalah menjaga performa sepanjang pertandingan. Persaingan Liga 1 saat ini menuntut konsistensi tinggi karena selisih poin antar tim papan atas biasanya sangat tipis. Bahkan, saat musim kompetisi 2026/2027, juara dan runner up, Persib Bandung dan Borneo FC memiliki poin sama. Maung Bandung keluar sebagai juara kali ketiga beruntun karena unggul head to head.
Persebaya di musim terakhir juga hanya duduk di posisi empat, di bawah Persija Jakarta. Bruno Moreira dan kawan-kawan hanya unggul sedikit di atas Bhayangkara Presisi FC dan Malut United di posisi lima serta enam.
Tantangan lainnya adalah kedalaman skuad, persaingan dengan tim-tim bermodal besar, adaptasi taktik dan pelatih baru, membangun mental juara serta yang paling penting dan krusial adalah tekanan besar publik Surabaya. Ya, tidak semua klub memiliki tekanan sebesar Persebaya. Dukungan luar biasa dari Bonek adalah kekuatan besar, tetapi juga dapat menjadi tekanan psikologis. Setiap hasil negatif selalu menjadi sorotan karena harapan masyarakat sangat tinggi. Caranya, pemain dan pelatih harus menjadikan dan mengubah tekanan tersebut menjadi motivasi.
Suporter Persebaya, Bonek Mania, saat mendukung tim kebanggaannya bertanding di Stadion Gelora Bung Tomo Surabaya beberapa waktu lalu. (Foto: Fiqih Arfani/ketik.com)
Lantas, kembali ke pertanyaaan awal, apakah Persebaya bisa juara? Tentu itu sangat mungkin bisa. Suporter militan, loyal dan total menjadi pelecut. Stadion megah, akademi dan pembinaan terus berkembang dan komposisi pemain bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Bukan mimpi untuk meraih juara dan menjad klub terbaik di Indonesia. Puasa gelar sejak 2004 membuat Bonek, Bonita dan warga Kota Pahlawan merindukan gelar juara. Musim ini menjadi awal untuk mewujudkannya. Dijadwalkan, liga diawali sekitar September 2026 dan berakhir Mei 2027. Tahun di mana Persebaya berusia 100 tahun, genap 1 abad.
Untuk menjadi sang pemuncak klasemen, Persebaya harus menang atau menangkan. Tak ada kata seri, apalagi kalah. Minimal, tak terlalu banyak hasil pertandingan minor yang membuat Rivera Cs kehilangan banyak poin.
Tantangan-tantangan di atas juga harus dibuktikan. Dengan demikian, mimpi yang selalu dinyanyikan ribuan Bonek di Stadion Gelora Bung Tomo bukan hanya menjadi harapan, tapi jadi peluang nyata membawa trofi kembali ke Kota Pahlawan setelah 23 tahun menghilang.
Ayo jol, bawa pulang kembali trofi kebanggaan. Rebut dari Kota Bandung tahun depan dan jangan biarkan kota lain memboyongnya pergi. Buktikan mental pemain adalah mental pejuang, mental sesungguhnya Arek-Arek Suroboyo. Salam satu nyali, Wani! (*)
